kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.162   -4,00   -0,02%
  • IDX 5.053   -44,62   -0,88%
  • KOMPAS100 651   -4,63   -0,71%
  • LQ45 515   -0,42   -0,08%
  • ISSI 170   -1,83   -1,07%
  • IDX30 290   0,40   0,14%
  • IDXHIDIV20 391   2,51   0,65%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,56   1,45%
  • IDXQ30 98   0,02   0,02%

Reksadana Saham USD Moncer, Return Tembus 18% Sepanjang 2026


Jumat, 30 Oktober 2026 / 13:29 WIB
Reksadana Saham USD Moncer, Return Tembus 18% Sepanjang 2026
ILUSTRASI. Per 30 September 2026, sebanyak 29 dari 37 produk reksadana saham dolar AS di industri berhasil membukukan imbal hasil positif (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reksadana dolar Amerika Serikat (AS) atau USD dengan underlying aset saham atau efek global menjadi yang paling moncer mencatatkan median return atau imbal hasil.

Berdasarkan data PT Infovesta Utama per 30 September 2026, sebanyak 29 dari 37 produk reksadana saham USD di industri berhasil membukukan imbal hasil positif. Reksadana efek/saham luar negeri berdenominasi dolar AS, yang mayoritas berbasis saham global syariah, membukukan kinerja return sekitar 18% secara year to date (YtD)

Bahkan, sejumlah produk yang berinvestasi di kawasan Asia Pasifik mencatatkan pertumbuhan imbal hasil lebih dari 30% YtD. Sementara itu, reksadana pasar uang USD mencatatkan imbal hasil sebesar 1,9% YTD. Pun reksadana pendapatan tetap USD terkoreksi sekitar 2% YtD.

Baca Juga: Reksadana USD Pendapatan Tetap Tertekan, Saham Global Lebih Perkasa

Presiden Direktur merangkap Plt Direktur Marketing PT Bahana TCW Investment Management, Danica Adhitama mengatakan, perbedaan kinerja tersebut dipengaruhi oleh kelas aset dan komposisi portofolio masing-masing produk.

Kinerja reksadana saham USD antara lain ditopang oleh eksposur pada pasar Asia Pasifik dan sektor teknologi global. Termasuk perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan siklus investasi artificial intelligence (AI) dan semikonduktor.

Sebaliknya, reksadana pendapatan tetap USD menghadapi tekanan seiring kenaikan imbal hasil US Treasury, terutama pada imbal hasil riil atau real yields.

Pergerakan tersebut mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75%-4,00% pada September 2026. Selain itu, pasar juga mengantisipasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama di tengah inflasi AS yang mencapai 3,7% pada September 2026.

Danica menjelaskan, terdapat dua komponen yang memengaruhi hasil investasi reksadana USD bagi investor domestik, yakni kinerja reksadana dalam denominasi USD serta perubahan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

"Pelemahan rupiah memberikan kontribusi positif terhadap hasil konversi tersebut. Namun, kontribusinya dapat berbeda bagi setiap investor, bergantung pada waktu transaksi dan kurs yang berlaku," ujar Danica kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).

Baca Juga: Kinerja Medikaloka Hermina (HEAL) Tertekan, Simak Rekomendasi Sahamnya

Ke depan, kinerja reksadana USD akan dipengaruhi sejumlah katalis, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, serta dinamika geopolitik global.

Dari sisi domestik, volatilitas nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu pertimbangan investor dalam melakukan diversifikasi portofolio. Dengan kondisi tersebut, reksadana USD masih memiliki peluang sebagai alternatif investasi untuk memberikan eksposur terhadap aset dalam mata uang asing.

Dari sisi industri, Bahana TCW melihat tren minat investor terhadap reksadana berbasis USD menunjukkan perkembangan positif. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran investor domestik terhadap pentingnya diversifikasi portofolio, termasuk melalui instrumen investasi dalam denominasi mata uang asing.

"Keputusan berinvestasi pada reksadana USD sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada ekspektasi penguatan dolar AS, melainkan menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio yang terukur," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×