Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) meluncurkan produk reksadana syariah terbaru dalam mata uang dolar AS, yakni Batavia Gold Sharia Equity USD (BAGOS).
Reksadana BAGOS berinvestasi pada saham perusahaan global di sektor pertambangan, dengan fokus utama pada perusahaan yang bergerak di industri emas sebagai underlying asetnya. Portofolionya juga berpotensi didiversifikasi ke perusahaan di industri logam lainnya.
Direktur Batavia Prosperindo Asset Management Eri Kusnadi mengatakan, peluncuran reksadana saham berbasis dolar AS dengan eksposur pada sektor pertambangan emas tersebut turut didukung oleh tren permintaan emas global yang masih kuat. Salah satunya berasal dari pembelian emas oleh bank sentral yang berlangsung konsisten dalam beberapa waktu terakhir.
Sejak diluncurkan pada 10 September 2026 lalu, kini produk Batavia Gold Sharia Equity USD telah mengumpulkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) lebih dari US$ 10 juta.
“Untuk target peluncuran sendiri, pada peluncuran kemarin kami target (AUM) di atas US$ 10 juta di day one. Dan telah terkumpul lebih dari US$ 10 juta di day one itu,” ujar Eri kepada wartawan saat ditemui di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: Yield SBN 10 Tahun Diproyeksi 7,10% - 7,25%, Lelang SUN Kurang Semarak
Hingga akhir tahun 2026, Eri bilang, pihaknya menargetkan kenaikan dana kelolaan BAGOS dapat tumbuh dua kali lipat dari posisi saat peluncuran.
Di sisi lain, kinerja reksadana saham offshore berdenominasi dolar AS belakangan turut ditopang penguatan saham-saham teknologi dan perusahaan yang terkait dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Infovesta sebelumnya mencermati bahwa portofolio produk global fund memperoleh manfaat dari booming industri AI. Eksposur tersebut menjadi salah satu sumber diversifikasi karena sektor tersebut belum memiliki eksposur yang sama besar di pasar domestik.
Berdasarkan data Infovesta sepanjang periode year-to-date (YtD) hingga 31 Agustus 2026, reksadana saham masih mencatat return -11,60% secara YtD tetapi return mengalami penguatan 3,60% pada Agustus 2026.
Meski demikian, Eri tetap optimistis reksadana offshore dengan eksposur pada saham perusahaan emas tetap memiliki peluang untuk mencatatkan return yang lebih tinggi dibandingkan reksa dana saham berbasis teknologi dalam periode tertentu. Namun, kinerja tersebut tidak akan berlangsung secara konsisten.
Sebagai contoh, pada tahun lalu harga emas mampu mencatatkan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan aset berbasis teknologi. Namun, secara karakteristik, emas merupakan hedging asset sehingga seharusnya memberikan kinerja yang lebih stabil dan tidak terlalu agresif.
Di sisi lain, Eri mengatakan, pergerakan harga emas maupun saham perusahaan emas tidak memiliki korelasi yang kuat dengan pergerakan saham secara umum. Artinya, harga emas tidak selalu bergerak searah dengan pasar saham. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang bagi investor untuk melakukan diversifikasi, terutama bagi investor yang khawatir terhadap volatilitas pasar saham.
Sementara itu, Bank DBS Indonesia sebagai salah satu bank mitra penyalur resmi produk reksadana BAGOS menyebut, peluncuran produk ini dapat membuka akses dan alternatif investasi bagi nasabah, khususnya segmen High-Net-Worth Individual (HNWI).
Baca Juga: Koreksi Harga Emas Hanya Sementara, Cek Prospeknya hingga Akhir 2026
Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry bilang, DBS merupakan salah satu bank yang memiliki akses global. Maka, sebagian besar nasabah DBS juga memiliki aset dalam denominasi dolar AS. Dengan kondisi tersebut, nasabah membutuhkan sejumlah alternatif investasi yang dapat mengoptimalkan kepemilikan aset dalam USD.
“Karena kita belum ada reksadana yang basisnya gold. Jadi, ini merupakan salah satu peluang supaya kita punya range of product investment yang memang cocok dengan customer kita punya risiko,” terang Boy dalam kesempatan yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














