Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja reksadana berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan positif seiring dengan nilai tukar dolar AS yang terus menguat.
Penguatan dolar AS akan berdampak positif kepada investor yang berinvestasi pada aset-aset berbasis mata uang dolar seperti obligasi korporasi AS, saham-saham AS, atau instrumen pasar uang global.
Berdasarkan data Infovesta Utama per 17 April 2026, reksadana USD dengan return tertinggi ditempati oleh produk Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD Kelas A dengan kinerja mencapai 123,85% setahun terakhir (yoy).
Baca Juga: Hari Ini Cetak Rekor Terlemah, Begini Prospek Rupiah Besok (24/4)
Selanjutnya, terdapat KISI Global Sharia Transformative Technology Equity Fund USD dengan return sebesar 77,46% yoy. Sementara itu, posisi ketiga diisi oleh Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS yang mencatatkan imbal hasil 66,68% yoy.
Head Equity PT BNP Paribas Asset Management Amica Darmawan menyebut, sejatinya kinerja reksadana dolar tidak dapat diseragamkan karena sangat bergantung pada jenis aset dan eksposur global yang dimilikinya.
Namun, secara umum Amica mencermati, dalam beberapa tahun terakhir reksadana dolar cenderung mencatat kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan reksadana berbasis rupiah.
"Hal ini ditopang oleh kombinasi pergerakan nilai tukar serta kinerja aset global, khususnya saham offshore, yang memiliki eksposur lebih besar terhadap tema pertumbuhan struktural jangka panjang seperti teknologi dan kecerdasan buatan (AI)," ujar Amica kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Di sisi lain, Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia AM) Eri Kusnadi justru berpandangan penguatan dolar AS terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak secara langsung berdampak pada kinerja reksadana berbasis dolar.
Eri bilang, reksadana dolar yang memiliki underlying asset dalam denominasi dolar AS tidak terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar tersebut.
Baca Juga: Terus Tertekan, Rupiah Diproyeksikan Sentuh Rp 18.000 di Akhir Semester I-2026
"Kalau investasi di reksadana dolar yang underlying asset-nya juga USD, artinya tidak ada dampak dari penguatan atau pelemahan dolar. Kinerja reksa dana tersebut lebih dipengaruhi oleh kinerja aset dasarnya,” ujar Eri.
Namun demikian, ia menambahkan bahwa pengaruh nilai tukar baru akan terasa jika investor menghitung kinerja investasi dalam rupiah.
Dari sisi perbandingan kinerja, Eri menyebutkan hasilnya sangat bergantung pada jenis aset yang menjadi portofolio. Jika dibandingkan dalam kelas aset yang sama, reksa dana berbasis dolar cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik pada tahun berjalan (year to date) dibandingkan dengan reksadana rupiah.
“Kalau sama-sama fixed income, Ytd lebih baik yang USD. Untuk yang equity, kinerja reksadana global kebetulan juga lebih baik,” jelas Eri.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto pun turut berpandangan sama dengan Eri. Katanya, penguatan atau pelemahan dolar AS tidak ada kaitannya dengan reksadana offshore, karena aset dasarnya dalam bentuk saham yang sudah berdenominasi dolar. Maka, kinerja naik turun bakal mengikuti aset dasarnya.
Dari sisi risiko, di tengah kondisi pasar global saat ini Rudiyanto mengungkapkan bahwa tekanan terhadap kinerja reksadana dolar saat ini lebih banyak terjadi pada produk berbasis obligasi.
“Reksadana dolar yang turun kemungkinan berbasis obligasi karena inflasi mengalami kenaikan. Sementara yang berbasis saham relatif masih baik-baik saja,” kata Rudiyanto, Kamis (23/4/2026).
Untuk prospek ke depan, Amica memandang reksa dana dolar masih menawarkan potensi imbal hasil yang menarik, baik dalam jangka pendek maupun sepanjang 2026.
Kontributor utama berasal dari kinerja aset dasarnya, dengan dukungan tambahan dari pergerakan nilai tukar. Menurutnya, sektor teknologi dan AI masih menjadi pendorong utama, seiring dengan kuatnya fundamental perusahaan serta tren pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
Dalam menghadapi volatilitas nilai tukar dan pasar global, Amica mengatakan BNP Paribas menerapkan strategi pengelolaan portofolio yang aktif. Perusahaan secara rutin memantau perkembangan makroekonomi global maupun domestik guna menjaga keseimbangan portofolio.
Sementara Rudiyanto melihat outlook reksadana dolar tahun ini juga akan tetap bergantung pada performa aset dasarnya. Artinya, meskipun tren penguatan dolar berlanjut, hal tersebut tidak serta-merta menjadi pendorong utama imbal hasil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Infovesta Utama
- Panin Asset Management
- Batavia Prosperindo Aset Manajemen
- teknologi AI
- Kinerja Reksadana
- saham AS
- Penguatan Dolar
- Obligasi Dolar
- Reksadana USD
- Investasi Dolar
- Investor Reksadana
- Prospek Reksadana
- reksadana dolar
- Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD Kelas A
- KISI Global Sharia Transformative Technology Equity Fund USD
- Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS
- BNP Paribas Asset Management












