Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (12/1/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,21% secara harian ke Rp 16.855 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,11% secara harian ke Rp 16.853 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pelemahan rupiah disebabkan tensi geopolitik yang memanas. Pasar memantau meningkatnya gejolak di Iran, di mana kerusuhan yang terkait dengan protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang, menurut laporan.
“Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan atas nama para pengunjuk rasa, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas,” ujar Ibrahim, Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah Senin (12/1), Ditutup di Rp 16.855 per Dolar AS
Selain itu, pergerakan rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian politik di Washington setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat.
“Hal ini merupakan sebuah langkah yang telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral,” kata Ibrahim.
Berikutnya, data ekonomi juga memainkan peran. Pada hari Jumat, data pemerintah AS menunjukkan peningkatan lapangan kerja non-pertanian sebesar 50.000 pekerjaan pada bulan Desember, meleset dari ekspektasi kenaikan 66.000. Sementara tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,4%, di bawah perkiraan 4,5%.
Baca Juga: Rupiah Makin Melemah ke Rp 16.860 per Dolar AS di Tengah Hari Ini (12/1)
“Data pekerjaan yang lebih lemah memperkuat tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada tahun 2026,” terang Ibrahim.
Ibrahim memproyeksikan rupiah besok (13/1/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 16.850 – Rp 16.890 per dolar AS.
Baca Juga: Sentimen Konsumen Runtuh, Tekanan Dolar AS Bikin Rupiah Merana
Selanjutnya: HSBC: Minim IPO Baru Bikin Pasar Modal Indonesia Tertinggal di Asia
Menarik Dibaca: Promo Alfamart Kebutuhan Dapur sampai 15 Januari 2026, Aneka Sarden Mulai Rp 8.900
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













