Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja rupiah masih terus melemah. Bahkan, mata uang Garuda bahkan diproyeksikan sentuh Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di akhir semester I 2026.
Sekedar mengingatkan, rupiah spot ditutup di level Rp 17.286 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini (23/4/2026).
Ini membuat rupiah melemah 0,61% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.181 per dolar AS. Ini jadi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa. Rupiah pun jadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia.
Baca Juga: Tuntaskan Binding Offer, Petrosea (PTRO) Segera Genggam Saham Tolu Minerals
Sejalan, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,75% secara harian ke Rp 17.308 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, sentimen risk off umumnya di pasar Asia dipicu oleh kekhawatiran dan ketidakpastian dari sejumlah sentimen.
Sebut saja, perkembangan perang di Timur Tengah, kenaikan indeks dolar AS meskipun tidak signifikan, imbal hasil obligasi AS, dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Sedangkan, dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI kemarin yang mempertahankan tingkat suku bunga di 4,75% juga masih menekan rupiah.
“BI seharusnya menaikkan suku bunga di tengah naiknya imbal obligasi AS yang membuat rupiah tidak menarik,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).
Lukman bilang, peluang untuk rupiah melemah ke Rp 17.500 per dolar AS dalam waktu dekat pun tetap terbuka.
Baca Juga: Presdir Astra (ASII) Beri Bocoran Dua Lini Bisnis yang Tertekan pada Kuartal I-2026
Dengan absennya data ekonomi penting baik dari luar maupun dalam, sentimen akan digerakkan oleh perkembangan di Timur Tengah.
“Tanpa adanya perubahan signifikan dari sentimen domestik maupun harga minyak yang masih tinggi, rupiah bisa mencapai Rp 18.000 per dolar AS pada semester I,” tuturnya.
Sebagai bentuk intervensi, Lukman menyarankan, BI dan pemerintah untuk menaikkan suku bunga dan mengurangi defisit anggaran.
Di kondisi saat ini, investor pun disarankan untuk menghindari investasi pada mata uang Asia terlebih dulu, kecuali mata uang Yuan China.
“Untuk mata uang utama, mata uang CHF Swiss dan dolar Australia (AUD) masih menarik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













