kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45994,16   -8,36   -0.83%
  • EMAS1.136.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Rekor dua dekade emiten baru


Sabtu, 16 Desember 2017 / 14:05 WIB
Rekor dua dekade emiten baru


Reporter: Elisabet Lisa Listiani Putri | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhelatan initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana ke publik tahun ini menjadi perhelatan paling ramai. Bursa Efek Indonesia (BEI) memproyeksikan, sepanjang tahun ini ada 36 perusahaan yang melangsungkan IPO di bursa lokal.

Direktur BEI Samsul Hidayat menyebutkan, jumlah perusahaan yang menggelar penawaran perdana tahun ini tercatat paling banyak selama lebih dari 20 tahun terakhir. Jumlah 36 IPO sudah termasuk tiga perusahaan yang akan mencatatkan saham perdana di BEI hingga pengujung 2017. Angka tersebut melampaui target tahun ini sebanyak 35 perusahaan.

Ketiga calon emiten yang siap IPO adalah PT Jasa Armada Indonesia, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Kemudian ada PT Campina Ice Cream Industry Tbk dan terakhir PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk. "Saya melihat, ada pemahaman yang lebih baik dari dunia usaha untuk strategi pembiayaan," ungkap Samsul, Kamis (14/12).

Tahun depan, otoritas bursa berharap, IPO bisa lebih ramai lagi. Tak cuma badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan e-commerce juga mulai melirik penghimpunan dana melalui IPO.

Memang, jumlah perusahaan yang menggelar IPO semarak. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan nilai dana IPO yang berhasil dihimpun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga akhir November, nilai dana IPO pada tahun ini hanya mencapai Rp 8,36 triliun. Sementara nilai IPO tahun lalu Rp 12,07 triliun.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, saat ini IPO cukup diminati dan banyak perusahaan mulai tertarik masuk pasar saham. Sebab, IPO menawarkan pendanaan murah. Apalagi ada beberapa kelonggaran aturan yang ditawarkan otoritas bursa.

Tapi dengan banyaknya IPO dengan nilai emisi yang rendah, Hans memandang, saham-saham ini rentan digoreng. "Investor harus mengubah cara berpikir soal investasi, karena investasi adalah jangka panjang. Bukan beli hari ini, besok langsung untung," tegas Hans kepada KONTAN, Jumat (15/12).

Saat ini, investor harus punya pemahaman yang jelas terkait bisnis korporasi, melihat secara prospek dan bagaimana perusahaan bisa mengumpulkan pendapatan. Menurut Hans, beberapa bisnis yang cukup diminati banyak pihak dalam jangka panjang, seperti barang konsumsi dan ritel.

Emiten BUMN

Senada, menurut Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji, saham IPO dengan emisi rendah berpotensi menjadi objek gorengan saham. Karena itu, "Sebaiknya pelaku pasar dan investor perlu mencermati kinerja fundamental emiten," ujar dia.

Emiten yang memiliki fundamental bagus, tentu sahamnya sulit digoreng. Soalnya, banyak investor yang masuk dan mengoleksi saham itu dalam jangka panjang.

Meski demikian, Nafan mengakui, dengan semakin banyaknya perusahaan yang go public, maka itu bisa menggambarkan perekonomian nasional berpotensi berkembang di masa datang.

Dan, minat para investor juga cukup tinggi untuk menyerap saham-saham IPO. Meskipun, belakangan beberapa anak usaha BUMN tidak berhasil memenuhi target IPO. Toh ke depan, Nafan optimistis, penyelenggaraan IPO anak usaha BUMN akan direspons secara positif. Termasuk, IPO Jasa Armada Indonesia yang merupakan anak usaha Pelindo II.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×