Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) dinilai masih memiliki prospek menarik di tengah harga timah global yang bertahan di level tinggi. Kenaikan harga timah tersebut berhasil menopang harga saham TINS di sepanjang tahun ini yang naik sebesar 23,89% di Rp 3.890 per saham. Kenaikan harga saham tersebut melanjutkan tren reli dalam setahun yang menguat 279,51%.
Kenaikan harga saham TINS ini telah dibangga-banggakan oleh Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen Jakarta. Prabowo bahkan mengaku menyesal karena Kepala Danantara tidak memberi proyeksi kepadanya sehingga tidak sempat memborong saham.
Nah sebenarnya bagaimana sih valuasi saham TINS. Dan masihkah saham TINS masih menarik untuk dibeli. Menurut konsensus Bloomberg pada 14 analis, seluruh analis masih menyarankan beli saham TINS. Adapun target saham yang dipasang para analis di Rp 4.846,67 per saham.
Baca Juga: Saham TINS, GIAA & SMGR Naik Usai Pidato Prabowo, Begini Valuasinya Menurut Konsensus
Terbaru ada riset dari BCA Sekuritas yang masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TINS dengan target harga Rp 5.500 per saham.
Analis BCA Sekuritas Hernanda Cahyo dalam riset pada 5 Agustus 2026 menyebut, kinerja TINS pada paruh pertama 2026 menunjukkan ketahanan yang kuat meski volume penjualan pada kuartal II-2026 mengalami penurunan.
Pada kuartal II-2026, TINS membukukan pendapatan Rp 4,96 triliun, turun 9,3% secara kuartalan, tetapi melonjak 133,5% secara tahunan. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) timah menjadi sekitar US$ 50.480 per ton, naik 2,6% secara kuartalan.
Kenaikan harga tersebut mampu mengimbangi sebagian penurunan volume penjualan. Volume penjualan timah TINS pada kuartal II-2026 turun 17,2% secara kuartalan menjadi 4.975 ton, setelah Timah membukukan volume yang kuat pada kuartal sebelumnya.
Dengan demikian, pendapatan TINS sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 10,4 triliun, melesat 146,9% secara tahunan.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor TINS mencapai Rp 1,95 triliun pada kuartal II-2026. Angka tersebut turun 7,6% secara kuartalan, tetapi masih tumbuh signifikan sebesar 320,7% tahunan.
Margin laba kotor juga meningkat menjadi 39,3%, sedangkan EBITDA tercatat Rp 1,74 triliun, turun 14,8% secara quarter on quarter (qoq) namun melonjak 315,1% secara year on year (yoy).
Sementara itu, laba bersih kuartal II-2026 mencapai Rp 1,21 triliun, turun 19,1% QoQ tetapi meroket 562,6% secara tahunan. Secara kumulatif, laba bersih semester I-2026 mencapai Rp 2,72 triliun, tumbuh hingga 804,7% tahunan.
Baca Juga: Penertiban Tambang Ilegal Menjadi Katalis Produksi dan Kinerja PT Timah Tbk (TINS)
Hernanda melihat harga timah yang kuat menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja TINS. Persediaan timah global terus menyusut. Persediaan timah di London Metal Exchange (LME) Asia turun menjadi sekitar 5.600 ton dari puncaknya 8.300 ton. Sementara persediaan global turun menjadi sekitar 6.000 ton, dari level tertingginya 9.000 ton.
Menurut Hernanda, penurunan persediaan tersebut menunjukkan adanya pengurangan stok secara berkelanjutan di tengah konsumsi yang lebih kuat.
Kondisi pasokan dan permintaan juga masih mendukung harga timah. Pasokan timah global pada 2026 diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan permintaan yang diperkirakan mencapai lebih dari 3,5%.
"Pasar timah secara struktural masih ketat,” tulis Hernanda dalam risetnya.
Pada semester I-2026, pasar timah global diperkirakan mengalami defisit pasokan sekitar 5.700 ton, setara dengan sekitar 3,3% dari total permintaan. Defisit tersebut melanjutkan kondisi kekurangan pasokan sekitar 18.000 ton pada 2025.
Dengan pertumbuhan permintaan yang masih lebih tinggi dibandingkan tambahan pasokan, defisit pasar diperkirakan berlanjut hingga 2026. Kondisi ini menjadi katalis positif bagi harga timah sekaligus prospek laba TINS.
BCA Sekuritas memperkirakan harga timah dapat bertahan di atas US$ 50.000 per ton hingga akhir 2026.
Selain faktor harga, TINS juga dinilai memiliki ruang untuk meningkatkan volume penjualan.
Ekspor timah Indonesia pada Juni 2026 tercatat 3.200 ton, meningkat dari 2.500 ton pada Mei dan 1.800 ton pada April 2026.
Baca Juga: Penertiban Tambang Ilegal Menjadi Katalis Produksi dan Kinerja PT Timah Tbk (TINS)
Perbaikan ekspor tersebut memperkuat asumsi BCA Sekuritas bahwa volume penjualan TINS dapat pulih dan mencapai sekitar 24.000 ton pada 2026.
Hernanda juga menilai struktur biaya TINS masih relatif sehat. Cash cost Timah berada di bawah US$ 25.000 per ton, didukung harga bahan bakar yang relatif stabil di kisaran Rp 13.000-Rp 17.000 per liter serta biaya bahan baku yang berada di bawah 40% dari pendapatan.
BCA Sekuritas mempertahankan asumsi cash cost TINS sekitar US$ 24.000 per ton pada 2026.
Dengan asumsi harga timah US$ 50.000 per ton, TINS berpotensi menikmati cash margin sekitar 50%.
Faktor lain yang memberikan ruang bagi profitabilitas adalah penundaan implementasi usulan kenaikan royalti dari 10% menjadi 20%. Penundaan tersebut dinilai dapat menghindarkan TINS dari potensi tekanan laba sekitar Rp 1,5 triliun.
Alhasil, BCA Sekuritas memperkirakan margin bersih TINS dapat berada di atas 20%, yang berpotensi menjadi level tertinggi dalam sekitar satu dekade terakhir.
Melihat kombinasi harga timah yang kuat, pemulihan volume dan biaya yang tetap terkendali, BCA Sekuritas menaikkan proyeksi kinerja TINS.
Proyeksi pendapatan TINS 2026 dinaikkan 5,5% menjadi Rp 21,93 triliun, yang berarti tumbuh 89,8% YoY. Untuk 2027, proyeksi pendapatan dinaikkan 3,7% menjadi Rp 27,69 triliun, tumbuh 26,3% YoY.
Revisi lebih signifikan terjadi pada proyeksi laba bersih. BCA Sekuritas menaikkan estimasi laba bersih TINS 2026 sebesar 120,3% menjadi Rp4,98 triliun, atau melonjak 278,8% YoY.
Sementara proyeksi laba bersih 2027 dinaikkan 55,8% menjadi Rp 4,98 triliun.
Baca Juga: Penertiban Tambang Ilegal Menjadi Katalis Produksi dan Kinerja PT Timah Tbk (TINS)
Namun, pertumbuhan laba pada 2027 diperkirakan relatif datar karena adanya asumsi kenaikan tarif royalti mulai tahun depan yang berpotensi mengimbangi pertumbuhan pendapatan.
Dengan prospek tersebut, BCA Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TINS dengan target harga Rp 5.500.
BCA Sekuritas juga telah menaikkan asumsi weighted average cost of capital (WACC) menjadi 15,5% dari sebelumnya 10,3%, untuk mencerminkan tingkat suku bunga dan premi risiko ekuitas yang lebih tinggi.
Target harga Rp 5.500 tersebut setara dengan valuasi P/E 2027 sebesar 8,2 kali.
Meski demikian, Hernanda mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, terutama pemulihan volume penjualan yang lebih lambat dari perkiraan, kenaikan cash cost, perubahan regulasi sektor pertambangan logam, serta potensi kenaikan tarif royalti lebih lanjut.
Dengan harga timah yang masih tinggi dan potensi pemulihan volume, BCA Sekuritas menilai TINS masih memiliki ruang untuk mencatatkan kinerja yang kuat hingga akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
