Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas memasuki fase historis baru. Harga emas dunia resmi menembus rekor tertinggi sepanjang masa ke atas level US$ 5.000 per ons troi, atau setara sekitar Rp 84,9 juta.
Bahkan pada Rabu (28/1) pukul 13.25 WIB, harga emas di pasar spot menyentuh US$ 5.259,7 per ons troi.
Lonjakan ini turut mendorong harga emas batangan di dalam negeri melonjak menuju Rp 3.000.000 per gram, mencetak rekor baru di pasar domestik.
Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) World Gold Council (WGC), Joseph Cavatoni, menilai reli emas kali ini mencerminkan perubahan struktural dalam perilaku investor global.
Baca Juga: BBCA Hadapi 2026 dengan Modal Kinerja yang Solid, Begini Rekomendasi Analis
Kenaikan harga emas ke level di atas US$ 5.000 per ons troi bukan semata-mata dipicu spekulasi, melainkan hasil kombinasi reposisi investor, ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan, serta meningkatnya kebutuhan akan ketahanan portofolio.
“Investor yang sebelumnya memiliki alokasi emas rendah kini mulai meninjau kembali asumsi portofolio mereka. Proses realokasi ini mendorong harga emas naik lebih cepat dibandingkan proyeksi banyak model valuasi tradisional,” ujar Joseph dalam riset yang diterima Kontan, Rabu (28/1/2026).
Dalam 30 hari terakhir saja, harga emas telah melonjak lebih dari US$ 500 per troy ons. Menurut Joseph, pergerakan tajam ini mencerminkan betapa cepatnya perubahan sentimen pasar global.
Meski demikian, reli tersebut juga diiringi peningkatan volatilitas jangka pendek, menandakan pasar masih beradaptasi dengan era harga emas jangka panjang yang lebih tinggi.
Adapun risiko terbesar bagi pergerakan emas ke depan berasal dari potensi membaiknya sentimen risiko global secara signifikan.
Jika pertumbuhan ekonomi global menguat tanpa dibayangi ketegangan geopolitik, disertai kepastian arah kebijakan dan meningkatnya kepercayaan pasar, urgensi investor untuk menahan aset defensif seperti emas dapat berkurang.
Baca Juga: Sinergi Multi (SMLE) Dikabarkan Dual Listing di AS, Ini Komentar Analis
Selain itu, kenaikan suku bunga, penguatan dolar AS, maupun peralihan berkelanjutan ke aset berisiko juga berpotensi menahan laju penguatan emas. Namun, Joseph menegaskan bahwa hingga saat ini belum terlihat sinyal kuat ke arah situ, sehingga posisi emas masih relatif kokoh.
Ke depan, jika kondisi ketidakpastian global saat ini tetap bertahan, emas diproyeksikan akan tetap bertahan di atas level tertinggi sebelumnya dan terus menguji level harga baru sepanjang 2026.
Meski begitu, laju kenaikan harga tetap menjadi faktor kunci.
“Kenaikan yang bertahap akan jauh lebih berkelanjutan dibandingkan lonjakan yang terlalu cepat. Koreksi jangka pendek atau fase konsolidasi adalah hal yang wajar dan justru dapat memperkuat fondasi harga emas yang lebih tinggi dalam jangka panjang,” pungkas Joseph.
Selanjutnya: Perminas Bakal Urus Tambang Martabe Milik Agincourt Resources
Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, 5 Wakil Indonesia Amankan Tiket 16 Besar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













