Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi pembelian kembali saham atau share buyback PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menjadi salah satu katalis bagi saham perseroan. Di tengah tekanan margin yang masih membebani kinerja tahun ini, laba KLBF diproyeksikan kembali tumbuh mulai 2027.
KLBF menyiapkan dana internal hingga Rp 500 miliar untuk menjalankan buyback. Aksi tersebut berlangsung pada 17 September hingga 17 Desember 2026.
Analis UBS Sekuritas Indonesia Permada Darmono mengatakan, aksi korporasi tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap laba per saham atau earnings per share (EPS) KLBF. Perseroan memperkirakan buyback akan mengurangi pendapatan bunga sekitar Rp 8,4 miliar, tetapi jumlah saham beredar yang lebih rendah diperkirakan mendorong EPS sekitar 1,1% berdasarkan kinerja 2025.
Baca Juga: Fitch Turunkan Rating Pos Indonesia ke Restricted Default Setelah Gagal Bayar Sukuk
“Program buyback tersebut memberikan sinyal mengenai valuasi saham yang menarik,” tulis Permada dalam risetnya (16/9/2026).
Untuk kinerja 2026, Permada memperkirakan pendapatan KLBF mencapai Rp 40,42 triliun, naik dari Rp 35,33 triliun pada 2025. Namun, laba bersih diperkirakan turun menjadi Rp 3,56 triliun dari Rp 3,67 triliun.
Tekanan laba tersebut tidak lepas dari margin yang menyusut. Margin EBIT KLBF diperkirakan turun menjadi 11,1% pada 2026 dari 13,2% pada 2025.
“Tekanan biaya yang terjadi mencerminkan tekanan struktural akibat kenaikan biaya bahan baku impor di tengah pelemahan rupiah,” tulis Permada.
Meski margin tertekan, kondisi tersebut diperkirakan tidak berlangsung lama. Permada mengatakan 2026 sebagai titik terendah margin KLBF, sebelum profitabilitas mulai membaik secara bertahap pada 2027.
Perbaikan margin akan ditopang kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) serta perubahan product mix. Dengan kondisi tersebut, laba bersih KLBF diperkirakan naik menjadi Rp 3,75 triliun pada 2027 dan Rp 3,97 triliun pada 2028.
EPS juga diproyeksikan meningkat dari Rp 78 pada 2026 menjadi Rp 82 pada 2027 dan Rp 87 pada 2028. Meski begitu, proyeksi tersebut masih berada di bawah konsensus UBS yang masing-masing sebesar Rp 79, Rp 86 dan Rp 93.
Dalam jangka panjang, pertumbuhan KLBF diperkirakan tetap berlanjut. Pendapatan perseroan diproyeksikan mencapai Rp 54,07 triliun pada 2030, sementara laba bersih diperkirakan mencapai Rp 4,46 triliun.
Dari sisi valuasi, Permada menggunakan metode discounted cash flow (DCF). Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan antara lain persaingan, kenaikan biaya operasional, pelemahan rupiah, inflasi serta penurunan daya beli apabila ekonomi melambat.
Permada mempertahankan rekomendasi buy untuk saham KLBF dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 1.100 per saham.
Baca Juga: Revisi HPM Dongkrak EBITDA Merdeka Battery (MBMA), Cek Rekomendasi Saham dari IPOT
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














