Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memperoleh fasilitas Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$ 750 juta atau setara Rp 12,75 triliun (asumsi kurs Rp 17.000) untuk mendukung sejumlah agenda ekspansi emiten produsen nikel tersebut pada 2026.
Fasilitas SLL ini juga menjadi bagian dari upaya INCO yang hendak mengintegrasikan prinsip keberlanjutan melalui strategi pembiayaan.
Sebagai informasi, fasilitas SLL tersebut didukung oleh sindikasi 14 bank internasional dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,7 kali, sehingga mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap fundamental bisnis dan arah strategis keberlanjutan INCO.
Contoh bank yang memberi fasilitas pembiayaan tersebut kepada INCO yaitu United Overseas Bank (UOB), DBS Bank, Mizuho Bank, OCBC Bank, Sumitomo Mitsui Trust Bank, J.P Morgan, Bank of China, dan lain-lain.
Baca Juga: Revisi Harga Patokan Mineral Nikel Jadi Angin Segar, Prospek INCO Makin Menarik
Fasilitas SLL yang diperoleh INCO disusun berdasarkan Sustainability-Linked Financing Framework yang selaras dengan praktik internasional dalam pembiayaan berbasis keberlanjutan.
Indikator kinerja utama yang digunakan mencakup penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.
Kedua indikator tersebut telah mendapat penilaian “strong” dari Second Party Opinion Independent yang menilai keselarasan dengan target global untuk membatasi kenaikan suhu sesuai Paris Agreement 1,5 derajat Celcius pathway, sebagai dirujuk dalam kajian independen serta kontribusinya terhadap target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.
Dari sisi pemanfaatan dana, fasilitas ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek strategis INCO.
Pada 2026, sekitar 50% dana dari fasilitas SLL akan dialokasikan untuk pengembangan proyek smelter High Pressure Acid Lead (HPAL) atau Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, kemudian sekitar 30% untuk proyek IGP Morowali, dan sekitar 20% untuk pengembangan IGP Sorowako Limonite.
Baca Juga: Komisaris Vale Indonesia (INCO) Ajukan Pengunduran Diri
Sedangkan untuk 2027, pendanaan akan difokuskan pada kelanjutan proyek-proyek tersebut serta pemenuhan hak partisipasi dalam proyek joint venture.
Director & Chief Financial Officer Vale Indonesia Rizky Andhika Putra mengatakan, fasilitas SLL merupakan fasilitas yang bersifat revolving.
Dalam hal ini, angka US$ 750 juta yang disediakan melalui fasilitas tersebut merupakan plafon kredit yang bisa dimanfaatkan oleh INCO sewaktu-waktu nanti. Untuk sekarang, dana dari fasilitas SLL belum langsung ditarik atau dicairkan.
“Penarikan dana akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan,” ujar dia ketika ditemui Kontan usai penandatanganan Fasilitas SLL, Kamis (23/4/2026).
Dia menambahkan, fasilitas SLL yang didapat INCO memiliki tenor dua tahun setelah tanggal pencairan plus opsi perpanjangan satu tahun. Walau tidak disebut secara gamblang, INCO mengklaim bunga yang ditawarkan melalui fasilitas pembiayaan tersebut tergolong kompetitif.
Selain tingkat bunga, Rizky menyebut bahwa manfaat lain dari fasilitas SLL adalah kinerja INCO dari aspek keberlanjutan atau environmental social governance (ESG) akan meningkat.
Baca Juga: Komisaris Vale Indonesia (INCO) Ajukan Pengunduran Diri
Reputasi dan eksposur INCO di mata lembaga keuangan global yang fokus pada pembiayaan berkelanjutan juga akan meningkat.
Pihak INCO juga memastikan bahwa fasilitas SLL tersebut tidak akan membebani rasio utang perusahaan. Ini mengingat, rasio utang INCO relatif masih rendah dan emiten tersebut masih memiliki ruang untuk penambahan pendanaan.
“Bahkan, kalau plafon US$ 750 juta dipakai semua juga tetap aman. Ekuitas yang kami miliki masih lebih besar dari beban yang ada,” ungkap Rizky.
Di sisi lain, Rizky mengaku sebenarnya dana US$ 750 juta belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan ekspansi INCO. Terlebih lagi, INCO sedang menggarap beberapa proyek smelter HPAL di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.
Estimasi total kebutuhan dana untuk seluruh agenda ekspansi INCO bisa mencapai kisaran US$ 1 miliar sampai US$ 1,5 miliar. Dengan begitu, masih ada potensi pendanaan tambahan pada masa mendatang.
Baca Juga: Produksi Nikel Diproyeksi Pulih, Simak Rekomendasi Saham Vale Indonesia (INCO)
Sejauh ini, lanjut Rizky, pendanaan proyek-proyek INCO berasal dari ekuitas internal dan fasilitas pinjaman, termasuk SLL. Kombinasi strategi ini dapat menjaga fleksibilitas keuangan perusahaan. “Nanti kami bisa mencari funding series lagi sesuai kebutuhan,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













