Reporter: Rashif Usman | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Secara historis, Agustus menjadi salah satu bulan yang cenderung positif bagi pasar saham Indonesia.
Dalam 11 tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih sering mengakhiri perdagangan bulan tersebut di zona hijau.
Baca Juga: Prospek Saham Konsumer Masih Cerah hingga Akhir 2026, Ini Pilihan Analis
Berdasarkan data Bloomberg Terminal, IHSG mencatat kenaikan rata-rata 1,36% sepanjang Agustus dalam 11 tahun terakhir.
Penguatan terbesar terjadi pada Agustus 2024 sebesar 5,72%, sedangkan koreksi terdalam terjadi pada Agustus 2015 yang mencapai 6,10%.
Sentimen musiman tersebut kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada Agustus 2026.
Selain didukung pola historis yang positif, pasar juga akan menghadapi agenda peninjauan atau rebalancing sejumlah indeks saham, termasuk Indeks Kompas100.
Sejalan dengan IHSG, Indeks Kompas100 juga membukukan rata-rata kenaikan 1,27% pada bulan Agustus dalam periode yang sama.
Baca Juga: Menakar Prospek Kinerja Emiten Pertambangan MIND ID di Semester II-2026
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menilai, prospek Indeks Kompas100 masih positif, meski volatilitas jangka pendek berpotensi meningkat setelah reli saham-saham konstituen pada Juli lalu.
Menurutnya, investor yang mengutamakan dividen dan pertumbuhan yang stabil dapat mencermati saham perbankan seperti BBCA.
"Sedangkan untuk investor yang mencari potensi risk-reward lebih besar bisa memperhatikan perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang menarik seperti BRIS, SSIA, dan TINS," ujar Fath kepada Kontan.co.id, Minggu (2/8/2026).
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama, juga menilai prospek Kompas100 masih menarik, terutama jika didukung stabilitas suku bunga global, membaiknya arus modal asing (capital inflow), serta pemulihan kinerja emiten pada semester II-2026.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat ke 6.380 Senin (3/8), Ini Saham Rekomendasi Analis
Menurut Elandry, koreksi yang terjadi sepanjang tahun telah membuat valuasi banyak saham dalam indeks tersebut berada di bawah rata-rata historis sehingga mulai menarik untuk diakumulasi oleh investor jangka menengah hingga panjang.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan tidak akan berlangsung merata.
"Pasar saat ini lebih selektif dan cenderung memberikan premi kepada emiten yang mampu menjaga pertumbuhan laba, arus kas yang kuat, serta memiliki prospek bisnis yang jelas. Karena itu, strategi stock picking tetap lebih penting dibanding sekadar membeli indeks secara keseluruhan," katanya.
Elandry menambahkan, efek rebalancing terhadap saham yang baru masuk indeks umumnya hanya bersifat jangka pendek karena dipicu aliran dana dari reksa dana pasif (passive fund).
Dalam jangka menengah, pergerakan harga saham tetap ditentukan oleh fundamental masing-masing emiten.
Baca Juga: Prediksi IHSG Senin (3/8): Berpeluang Uji Level 6.300, Asing Masih Lakukan Net Sell
Ia merekomendasikan saham BBCA, BMRI, dan BRIS di sektor perbankan karena didukung kualitas aset yang solid serta prospek pertumbuhan kredit yang stabil.
Sementara di sektor telekomunikasi, TLKM dinilai menarik berkat valuasi yang relatif murah, arus kas yang kuat, serta prospek pertumbuhan bisnis data.
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, dampak rebalancing indeks lebih bersifat teknikal melalui perpindahan dana pasif ke saham yang masuk indeks dan keluarnya dana dari saham yang tereliminasi.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan jual jangka pendek pada saham yang keluar dari indeks seperti BREN dan DSSA.
"Namun memang saham-saham ini sangat sulit diprediksi mengingat pergerakannya sangat spekulatif," ujarnya.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat di Agustus 2026, Ini Saham yang Bisa Dicermati
Rully menilai salah satu katalis utama pemulihan pasar saat ini berasal dari valuasi saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang telah berada pada level price to book value terendah dalam lima tahun terakhir.
Pandangan serupa disampaikan Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih. Menurutnya, pelemahan Indeks Kompas100 sebesar 31,58% secara year to date (YTD) hingga 31 Juli 2026 mencerminkan investor semakin selektif memilih saham berfundamental kuat.
Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan IHSG yang terkoreksi 27,9%, LQ45 sebesar 26,6%, dan IDX30 sebesar 20%.
Di sisi lain, IHSG berhasil bangkit 16,7% dari titik terendah pada periode 8 Juni hingga 31 Juli 2026.
Namun, penguatan tersebut lebih banyak ditopang saham-saham blue chip dan konglomerasi sehingga belum mencerminkan pemulihan yang merata di seluruh konstituen Kompas100.
Ratih juga menyoroti masih derasnya arus keluar dana asing. Sepanjang periode 8 Juni hingga 31 Juli 2026, investor asing membukukan net sell Rp10,6 triliun.
Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan, nilai jual bersih investor asing telah mencapai Rp71,4 triliun.
"Berdasarkan hasil analisis ekonometrika U-MIDAS menggunakan data harian selama lima tahun terakhir, setiap arus modal keluar investor asing sebesar Rp1 triliun terbukti menekan IHSG secara real time sebesar 54,6 poin," jelasnya.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Tertekan, Efek Data AS dan Pergerakan Yield US Treasury
Karena itu, Ratih menyarankan investor tetap bersikap defensif namun adaptif dengan alokasi portofolio 45% pada saham value, 25% saham growth, dan 30% kas.
Untuk saham value, Ratih masih mengunggulkan sektor perbankan karena menawarkan dividend yield yang menarik.
Berdasarkan harga penutupan 31 Juli 2026, dividend yield BMRI mencapai 12,6%, disusul BBRI 11,8%, BBNI 10,1%, dan BBCA 5,4%.
Selain itu, investor juga dapat mencermati saham growth yang memiliki agenda aksi korporasi dalam waktu dekat, serta emiten sektor energi di tengah kenaikan harga minyak mentah Brent sekitar 22% dalam sebulan terakhir hingga mencapai US$90 per barel.
Ratih merekomendasikan akumulasi beli BMRI dengan target resistance Rp4.500 dan support Rp4.000.
Selain itu, ia juga menyarankan akumulasi beli ESSA dengan target resistance Rp700 dan support Rp600, serta trading buy ENRG dengan target resistance Rp1.400 dan support Rp600 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
