kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Bukan Lagi Bobol Sistem, Penjahat Siber Kini Incar Kelengahan Pengguna Kripto


Senin, 29 Juni 2026 / 18:10 WIB
Bukan Lagi Bobol Sistem, Penjahat Siber Kini Incar Kelengahan Pengguna Kripto
ILUSTRASI. Perspektif Octa terhadap Situasi Kripto Terkini (Dok/Octa)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman terhadap aset kripto kini semakin bergeser. Jika sebelumnya pelaku kejahatan siber berupaya membobol sistem teknologi, kini mereka lebih banyak menyasar pengguna melalui manipulasi psikologis dan penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Chief Information Security Officer (CISO) Indodax, Ledy, mengatakan perkembangan teknologi keamanan telah membuat pelaku kejahatan mengubah strategi. 

Berbagai modus seperti social engineering, phishing, deepfake, voice cloning, hingga penyamaran sebagai layanan pelanggan resmi kini menjadi ancaman yang semakin dominan di ekosistem aset digital.

"Keamanan aset digital pada akhirnya ditentukan oleh keputusan pengguna, sehingga verifikasi informasi menjadi langkah yang tidak bisa ditawar," ujar Ledy  dalam siaran pers, Senin (29/6/2026).

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya penggunaan teknologi AI oleh pelaku kejahatan siber. 

Baca Juga: Cermati Modusnya, Waspadai Kejahatan Phishing di Sektor Kripto

Laporan NordStellar menunjukkan pembahasan layanan Deepfake-as-a-Service (DFaaS) di forum dark web meningkat sekitar 39% pada periode Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kondisi tersebut mengindikasikan teknologi deepfake semakin mudah diakses dan dimanfaatkan untuk berbagai bentuk penipuan berbasis identitas.

Selain itu, teknologi AI voice cloning kini mampu meniru suara seseorang hanya dengan sampel audio sekitar 10 detik. Kemampuan tersebut membuat modus penipuan digital semakin sulit dikenali, bahkan oleh orang-orang yang mengenal korban secara dekat.

Menurut Ledy, ancaman terhadap aset kripto saat ini lebih banyak muncul akibat kelengahan pengguna dibandingkan kelemahan sistem platform. 

Banyak kasus terjadi karena korban tanpa sadar memberikan informasi penting, mengakses tautan palsu, atau percaya pada pihak yang mengaku sebagai perwakilan resmi suatu layanan.

Ia menambahkan, pelaku juga memanfaatkan iklan palsu di media sosial, manipulasi hasil pencarian internet, hingga penyamaran sebagai petugas layanan pelanggan melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp untuk mendapatkan akses terhadap akun dan data pribadi korban.

Baca Juga: Negara Bisa Incar Aset Kripto Debitur Secara Sepihak, Ini Aturan Baru dari Kemenkeu

Karena itu, masyarakat diminta membiasakan diri melakukan verifikasi informasi dan riset mandiri (do your own research atau DYOR) sebelum mengambil keputusan terkait aset digital. 


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×