kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Prospek HRTA Masih Menarik, Ekspansi Gerai dan Bullion Bank Jadi Penopang


Senin, 29 Juni 2026 / 18:14 WIB
Prospek HRTA Masih Menarik, Ekspansi Gerai dan Bullion Bank Jadi Penopang
ILUSTRASI. Hartadinata Abadi (HRTA) Perkenalkan Dua Produk Emas Tematik (DOK/HRTA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dinilai masih menarik hingga akhir 2026. Kinerja fundamental yang bertumbuh pesat, prospek harga emas yang tetap tinggi, serta sejumlah katalis diperkirakan menjadi penopang pertumbuhan emiten produsen dan distributor emas tersebut.

Diketahui, HRTA terus berambisi menjadi pemain utama dalam industri hilir emas. Manajemen membeberkan pada 2017, HRTA hanya memiliki 12 gerai saja. Seiring berjalannya waktu, HRTA secara konsisten memperluas jaringan gerai ritelnya. Hingga akhir kuartal I-2026, HRTA telah memiliki 85 gerai yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Sampai akhir tahun 2026 nanti, HRTA menargetkan dapat menambah 15 gerai baru sehingga total gerai yang dioperasikan emiten tersebut mencapai 100 unit.

Baca Juga: Pelita Teknologi (CHIP) Ekspansi ke Dua Negara Baru di Afrika & Diversifikasi Produk

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan rencana ekspansi gerai baru tersebut akan memperluas pangsa pasar (market share) retail HRTA secara domestik.

Menurutnya, karakteristik bisnis perhiasan dan emas batangan sangat bergantung pada aksesibilitas. Sehingga penambahan gerai ini akan mengoptimalkan volume penjualan terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Dengan kapasitas produksi yang terintegrasi dan penetrasi ritel yang kuat, HRTA berada di posisi strategis untuk mengonversi tingginya harga emas domestik menjadi margin keuntungan yang optimal,” terang Nafan kepada Kontan, Senin (26/6/2026).

Selain itu, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, berpandangan HRTA memasuki 2026 dengan momentum kinerja yang sangat kuat. Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 20,16 triliun atau melonjak 196,96% secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih mencapai Rp 433,49 miliar atau tumbuh 189,48% YoY.

Menurut Ester, pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan volume penjualan emas murni sebesar 75,18% YoY serta lonjakan harga jual rata-rata sebesar 71,01% YoY menjadi Rp 2.567.213 per gram.

Ester menyebut harga emas juga diperkirakan tetap berada pada level yang relatif tinggi sepanjang tahun, dengan kisaran asumsi sekitar US$ 4.300 - US$ 5.000 per ons troi, didukung oleh permintaan bank sentral, ketidakpastian geopolitik, serta minat terhadap aset safe haven, meskipun tetap sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. 

Di Indonesia sendiri, total permintaan emas diperkirakan meningkat menjadi 50,5 ton pada 2026, dibandingkan 48,2 ton pada 2025, yang terutama didorong oleh permintaan investasi pada produk bullion.

“Di company level, kapasitas terintegrasi 60 ton per tahun yang memberi ruang pertumbuhan volume, posisi strategis HRTA sebagai pemasok domestik dalam ekosistem bullion bank, serta potensi sertifikasi (London Bullion Market Association) LBMA menjadi katalis pendukung,” ungkap Ester, dihubungi terpisah.

Katalis positif lainnya juga datang dari langkah pemerintah dan regulator yang tengah mematangkan arsitektur Bullion Bank (bank emas) nasional. Nafan menyebut, Sebagai salah satu pemain emas terintegrasi terbesar yang memiliki ekosistem dari pabrik, ritel, hingga bisnis gadai, HRTA berpotensi menjadi mitra strategis utama dalam ekosistem baru ini.

“Langkah HRTA memperkuat aliansi strategis dengan grup tambang besar (seperti Danusa Tambang dan Agincourt Resources) memastikan stabilitas pasokan bahan baku perhiasan dan pemurnian emas, sehingga memitigasi risiko kelangkaan bahan baku,” jelas Nafan.

Satu suara, Equity Analyst Ajaib Sekuritas, Alvin Timothy Murthi, dalam riset 11 Mei 2026 juga mengatakan HRTA terus menikmati katalis positif sejak peluncuran ekosistem bullion bank Indonesia pada 26 Februari 2025 yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto. 

Sejak saat itu, perusahaan berhasil menjalin kemitraan strategis dengan Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI), dua institusi pertama yang memperoleh izin bullion bank dari OJK.

Secara keseluruhan, Pegadaian dan BSI berkontribusi masing-masing sebesar 96,7% terhadap pendapatan HRTA pada kuartal IV-2025 dan 76,7% pada kuartal I-2026. Kondisi itu menegaskan bahwa permintaan dari bisnis bullion bank kini menjadi sumber pendapatan utama perusahaan.

Tak sampai situ saja, Nafan juga membeberkan sederet sentimen negatif yang berpotensi menggerus kinerja HRTA. Pertama, transaksi emas global menggunakan denominasi dolar AS. 

Jika terjadi pelemahan rupiah yang terlalu dalam, maka biaya impor atau pengadaan bahan baku berbasis dolar dapat membengkak, sehingga menekan margin laba bruto jika tidak diimbangi kenaikan harga jual ke konsumen.

Kemudian, jika iinflasi global kembali membandel dan The Fed mempertahankan sikap hawkish yakni mempertahankan suku bunga tinggi dan menahan penurunan, maka daya tarik emas yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset) bisa mengalami koreksi teknis jangka pendek secara global

Terakhir, kenaikan harga emas yang terlalu agresif berisiko menimbulkan shock bagi konsumen ritel perhiasan. Jika daya beli masyarakat kelas menengah tertekan oleh inflasi domestik, volume pembelian perhiasan emas bisa mengalami perlambatan, dan konsumen beralih ke kadar yang lebih rendah atau menunda pembelian.

Kalau dilihat dari sisi kinerja keuangan, berdasarkan riset Tim Coverage Kiwoom Research, pendapatan HRTA pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 72,15 triliun, naik sekitar 61,9% dibanding realisasi 2025 yang sebesar Rp 44,55 triliun.

Sementara itu, laba bersih diproyeksikan meningkat menjadi Rp 1,47 triliun pada 2026, atau tumbuh sekitar 50,2% dibandingkan capaian 2025 sebesar Rp 978 miliar.

Dari berbagai faktor di atas, Nafan menyarankan investor untuk Wait and See terlebih dahulu untuk saham HRTA. Namun, Ester merekomendasikan investor mulai melakukan akumulasi atau beli apabila harga mampu menembus level Rp 1.790 per saham, dengan target harga terdekat Rp 1.900 per saham.

Kemudian Alvin juga merekomendasikan beli saham HRTA dan menaikkan target harga 12 bulan menjadi Rp 3.800 dari sebelumnya Rp 3.400 per saham.

Baca Juga: BEI Masih Tunggu Aturan Turunan untuk Eksekusi Demutualisasi Bursa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×