Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga emas dunia kembali menguat menjelang penghujung 2026. Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), pelemahan ekonomi, serta permintaan dari bank sentral menjadi sejumlah faktor yang berpotensi mendorong emas mencetak rekor harga baru.
Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (14/8/2026), harga emas (Gold) berada di level US$ 4.341,58 per ons troi. Harga tersebut telah menguat 6,92% dalam sebulan terakhir, meskipun secara harian terkoreksi tipis 0,18%.
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan prospek harga emas dalam jangka pendek masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bullish bersyarat.
Menurut Wahyu, setelah sempat menyentuh titik terendah (bottom out) di level US$ 3.943 per ons troi, pergerakan emas dunia (XAUUSD) mulai memperlihatkan sinyal bullish reversal yang kuat.
Baca Juga: MDKA Borong 100,56 Juta Saham EMAS, Kepemilikan Naik Jadi 64,013%
Kondisi tersebut didukung oleh support floor yang solid dari aksi pembelian berlanjut oleh bank-bank sentral global serta risiko geopolitik yang hingga kini belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan harga emas secara harian, lanjut Wahyu, masih sangat bergantung pada perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed dan arah indeks dolar AS.
Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung mendapatkan keuntungan ketika ekspektasi kenaikan suku bunga menurun. Kondisi tersebut semakin terlihat setelah inflasi CPI AS melandai ke level 3,4% dan data pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, termasuk AS yang secara mengejutkan kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli.
Faktor lainnya berasal dari dinamika geopolitik dan ekonomi global. Deeskalasi di Selat Hormuz serta memburuknya sejumlah indikator ekonomi AS turut memberikan tekanan terhadap indeks dolar AS sehingga berpotensi meningkatkan daya tarik emas.
Strategi Investasi Emas
Di tengah volatilitas makroekonomi yang masih tinggi, Wahyu menyarankan investor menerapkan strategi pembobotan portofolio secara terukur.
Baca Juga: Saham TINS, GIAA & SMGR Naik Usai Pidato Prabowo, Begini Valuasinya Menurut Konsensus
Menurut dia, investor dapat menggunakan metode Dollar-Cost Averaging (DCA) atau melakukan akumulasi secara bertahap (buy on weakness) ketika harga emas menguji batas bawah konsolidasi teknikal.
"Alokasi emas yang ideal berada di kisaran 5% hingga 15% dari total portofolio sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap risiko sistemik dan penurunan nilai mata uang, bukan untuk spekulasi jangka pendek," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Secara teknikal, XAUUSD diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi pada rentang US$ 4.000 hingga US$ 4.600 per ons troi sebelum melanjutkan tren penguatan.
Area resistance terdekat berada di level US$ 4.600 per ons troi. Sementara itu, benteng resistance terkuat berada di sekitar US$ 4.900 per ons troi.
Jika harga emas mampu menembus level US$ 4.900 per ons troi, Wahyu memperkirakan logam mulia tersebut berpeluang mencetak rekor tertinggi baru (all-time high).
Dalam skenario tersebut, harga emas bahkan berpotensi menguji target akhir tahun pada kisaran US$ 5.000 hingga US$ 6.000 per ons troi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
