Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) telah mengalami koreksi pada dua bulan pertama di tahun 2026. Mengutip Coin Market Cap Minggu (22/2/2026) pukul 13.31 WIB, harga Bitcoin terkoreksi 22,06% secara year to date (ytd) ke level US$ 68.093.
Analisis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, secara sentimen pasar saat ini, risiko volatilitas Bitcoin di kuartal I-2026 masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari indikator psikologis seperti Fear & Greed Index yang berada di area extreme fear, serta tren pencarian Google dengan kata kunci seperti “Bitcoin going to zero” yang meningkat tajam.
“Secara historis, lonjakan pencarian bernada negatif seperti ini biasanya muncul saat pasar berada dalam fase ketakutan yang dalam,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Fyqieh melihat pergerakan Bitcoin ke depan sangat dipengaruhi oleh kombinasi tekanan makro jangka pendek dan katalis struktural jangka panjang. Saat ini, sentimen utama masih datang dari kebijakan moneter AS.
Baca Juga: Terkoreksi 3,27% dalam Sepekan, Harga Bitcoin di Level US$ 67.900
“Jika figur The Fed yang cenderung hawkish menguatkan ekspektasi suku bunga “lebih tinggi lebih lama”, maka dolar dan real yield berpotensi tetap kuat, kondisi yang biasanya menekan aset berisiko seperti Bitcoin sehingga momentum kenaikan dalam waktu dekat cenderung tertahan,” terang Fyqieh.
Di sisi lain, Fyqieh mengatakan, faktor regulasi mulai menjadi perhatian karena berpotensi menjadi katalis positif, meski efeknya tidak instan. Wacana seperti CLARITY Act dapat memberi kepastian hukum yang lebih jelas bagi industri kripto di AS dan membuka jalan bagi adopsi institusional yang lebih besar.
Namun, selama pasar masih dibayangi ketakutan makro dan pemangkasan suku bunga belum terlihat dekat, sentimen regulasi lebih terasa sebagai dukungan jangka menengah daripada pendorong reli cepat.
Dari sisi sentimen pasar dan data on-chain, terlihat adanya divergensi antar kelompok holder. Wallet kecil (0,1–1 BTC) cenderung bertambah, menandakan ritel masih melakukan akumulasi ketika harga melemah. Sebaliknya, kelompok 1–10 BTC justru berkurang dan berada di level rendah, yang mengindikasikan belum adanya keyakinan kuat dari holder “kelas menengah” yang biasanya membantu mendorong tren naik lebih berkelanjutan.
Divergensi ini sering berujung pada fase konsolidasi: akumulasi ritel bisa membentuk semacam “lantai” harga, tetapi tanpa partisipasi yang lebih kuat dari kelompok 1–10 BTC, potensi kenaikan tajam cenderung terbatas dan harga lebih mungkin bergerak dalam rentang (range-bound) sambil menunggu pemicu baru.
“Karena itu, perubahan perilaku kelompok 1–10 BTC dapat menjadi sinyal penting apakah pasar mulai membangun conviction untuk reli berikutnya,” imbuh Fyqieh.
Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin melihat tahun 2026 merupakan tahun pemilu paruh waktu (midterm) di AS juga berpotensi memperpanjang volatilitas. Secara historis, tahun midterm kerap diwarnai koreksi rata-rata sekitar 18% pada S&P 500 sebelum akhirnya mengalami pemulihan setelah pemilu.
Baca Juga: Volatilitas Meningkat, Prospek Bitcoin Jangka Pendek Masih Konsolidatif
“Dinamika ini dapat turut memengaruhi aset berisiko secara global, termasuk kripto,” ujar Fahmi kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Meski demikian, Fahmi bilang, sejumlah indikator fundamental industri tetap menunjukkan penguatan. BlackRock, misalnya, telah memperbarui proposal ETF Ethereum spot untuk menyertakan fitur staking, yang berpotensi membuka akses imbal hasil bagi investor tradisional melalui infrastruktur teregulasi. Di sisi lain, pertumbuhan adopsi Real World Assets (RWA), khususnya di jaringan Ethereum, terus berkembang dan berpotensi meningkatkan permintaan aset kripto secara struktural
Fahmi menambahkan bahwa dalam fase seperti ini, selektivitas menjadi faktor kunci. Menurutnya, tidak semua aset kripto akan mampu bertahan dalam tekanan likuiditas. Aset dengan likuiditas besar, distribusi volume yang sehat, dan dukungan fundamental yang jelas memiliki peluang bertahan lebih tinggi.
“Fase konsolidasi panjang sering kali menjadi periode pembentukan fondasi sebelum siklus berikutnya,” terang Fahmi.
Dengan tekanan harga yang masih berlangsung dan dinamika makro global yang belum sepenuhnya stabil, Fahmi menilai pergerakan Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen global terhadap aset berisiko.
Fyqieh memproyeksikan dalam skenario yang lebih optimistis, harga Bitcoin pada kuartal I – 2026 berpeluang bergerak naik secara bertahap jika sentimen pasar membaik, arah regulasi semakin jelas, dan likuiditas mulai kembali masuk ke aset berisiko.
“Dengan kombinasi faktor tersebut, area US$ 70.000–US$ 75.000 bisa menjadi target pengujian ulang yang realistis, terutama jika tekanan makro mulai mereda dan minat institusional kembali menguat,” jelas Fyqieh.
Baca Juga: Bitcoin Mendekati Titik Penentuan, Level US$70.000 Jadi Kunci
Selanjutnya: Pasar Kondominium Jakarta Masih Tertekan dan Minim Proyek Baru
Menarik Dibaca: Promo Paket Bukber Burger King Hematnya Bikin Puasa Tenang, Mulai Rp 32 Ribuan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)