kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Bitcoin Tembus US$ 78.000, Waspada Ada Koreksi Jelang Keputusan The Fed


Rabu, 22 April 2026 / 18:53 WIB
Bitcoin Tembus US$ 78.000, Waspada Ada Koreksi Jelang Keputusan The Fed
ILUSTRASI. CRYPTOCURRENCY (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto melanjutkan penguatan dalam beberapa waktu terakhir, didorong arus dana institusi yang deras, perbaikan sentimen global, serta dorongan teknikal. 

Namun, di tengah tren naik tersebut, potensi koreksi jangka pendek mulai terbuka seiring harga yang mendekati area resistance dan menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 18.05 WIB, Bitcoin naik 2,06% secara harian ke level US$ 78.256. Sementara Ethereum menguat 2,59% ke US$ 2.390, dan Solana naik 2,62% ke US$ 88,36.

Baca Juga: Incar Pertumbuhan Pendapatan Hingga 12%, Begini Strategi IPCC

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai penguatan harga kripto saat ini terutama didorong oleh arus dana institusi yang kuat dan konsisten.

"Pendorong paling dominan tetap berasal dari arus dana institusi, sementara faktor makro seperti perpanjangan gencatan senjata menjadi pemicu sentimen jangka pendek," ujar Calvin kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).

Ia mencatat, Global Crypto Funds membukukan inflow sekitar US$ 1,4 miliar dalam sepekan terakhir. Dari jumlah tersebut, Bitcoin menyerap sekitar US$ 1,12 miliar, sedangkan Ethereum sekitar US$ 328 juta.

Selain itu, Strategy membeli 34.164 Bitcoin senilai US$ 2,54 miliar yang membuat total kepemilikannya melampaui 815.000 Bitcoin.

Arus masuk dana ke ETF spot, khususnya BlackRock IBIT, juga terus menyerap pasokan di pasar, sehingga menciptakan permintaan struktural yang menjaga harga tetap kuat di area support.

Dari sisi makro, sentimen pasar membaik setelah adanya perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Kondisi ini meredakan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah dan mendorong minat investor terhadap aset berisiko.

Baca Juga: Prospek Emiten Energi Grup Pertamina Masih Menarik, Ini Rekomendasi Analis

"Dampaknya terlihat jelas, Bitcoin berhasil menembus US$ 78.000, sementara pasar global seperti S&P 500 dan Nasdaq futures juga menguat. Perpanjangan ceasefire ini menjadi katalis penting yang menggeser sentimen pasar dari defensif ke risk-on," jelas Calvin.

Secara teknikal, kenaikan harga juga dipercepat oleh likuidasi besar di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi diperkirakan mencapai US$ 460 juta hingga US$ 500 juta, dengan sekitar 70% berasal dari posisi short.

Meski tren masih cenderung bullish, Calvin mengingatkan bahwa ruang kenaikan mulai terbatas dalam jangka pendek. Bitcoin saat ini memasuki area resistance di kisaran US$ 78.000 hingga US$ 83.000.

"Dalam kondisi ini, konsolidasi atau pullback sehat menjadi hal yang wajar,” ujarnya.

Indikator teknikal seperti RSI yang mendekati area overbought juga mengindikasikan potensi aksi ambil untung. 

Namun, koreksi diperkirakan relatif terbatas selama arus dana institusi tetap terjaga. Adapun level support Bitcoin diperkirakan berada di kisaran US$ 76.500 hingga US$ 75.000.

Dari sisi risiko, pelaku pasar juga mencermati agenda FOMC Meeting April 2026 pada 28–29 April. Keputusan suku bunga oleh Federal Reserve berpotensi memengaruhi pergerakan seluruh aset berisiko, termasuk kripto.

Baca Juga: Incar Pertumbuhan Pendapatan Hingga 12%, Begini Strategi IPCC

Jika kebijakan yang diambil cenderung hawkish, tekanan terhadap harga kripto berpotensi meningkat. Selain itu, tekanan suplai juga masih datang dari aksi jual Bitcoin oleh miner.

Ke depan, investor disarankan mencermati arus dana ETF harian, level teknikal, serta perkembangan regulasi di AS, termasuk pembahasan CLARITY Act.

Dalam jangka menengah, tren bullish dinilai masih berpotensi berlanjut, didorong akumulasi institusi. Namun, pergerakan harga diperkirakan tetap volatil.

Untuk kuartal II-2026, Calvin memperkirakan Bitcoin bergerak di kisaran US$ 90.000 - US$ 100.000 dengan potensi lebih tinggi jika inflow ETF tetap kuat. Namun dalam jangka pendek, harga realistisnya cenderung berada di area US$ 75.000 – US$ 100.000 karena pasar masih dalam fase konsolidasi dan sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga serta arus dana ETF.

Sementara itu, Ethereum berpotensi berada di rentang US$ 2.500 hingga US$ 4.000, tergantung pada perkembangan ekosistem (Layer-2, DeFi) dan arus dana institusi. Ethereum juga sangat dipengaruhi oleh potensi regulasi seperti CLARITY Act yang bisa membuka akses modal baru.

Adapun, Calvin memproyeksikan Solana pada kuartal II-2026 berada di kisaran US$ 90 hingga US$ 150, mengikuti kekuatan market secara keseluruhan dan adopsi ekosistemnya.

Baca Juga: BI Fokus Stabilitas, Rupiah Sulit Kembali ke Rp 16.000 dalam Waktu Dekat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×