Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi prospek saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Sebagai emiten yang mayoritas penjualannya berorientasi ekspor dan menggunakan acuan harga global dalam denominasi dolar AS, ADRO berpotensi menikmati tambahan keuntungan dari selisih kurs.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan penguatan dolar AS secara umum memberikan dampak positif terhadap sisi pendapatan (top line) perusahaan. Namun, besarnya pengaruh terhadap laba bersih tetap bergantung pada struktur biaya dan efisiensi operasional emiten.
Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Lepas 3,03% Saham Citra Palu Mineral (CPM)
"Karena mayoritas porsi penjualan ADRO berorientasi ekspor atau menggunakan acuan harga global dalam denominasi dolar AS, pelemahan rupiah akan memicu windfall berupa keuntungan selisih kurs saat laporan keuangan dikonversi ke rupiah, atau memperkuat posisi likuiditas kas perusahaan," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, manfaat pelemahan rupiah akan semakin optimal apabila ADRO mampu mempertahankan sebagian besar biaya operasional dalam mata uang rupiah. Beban seperti biaya tenaga kerja lokal maupun jasa kontraktor domestik yang dibayarkan dalam rupiah akan membuat margin perusahaan semakin diuntungkan ketika pendapatan diterima dalam dolar AS.
Sejalan dengan itu, dari sisi keuangan, pendapatan usaha ADRO tumbuh 23,40% year on year (yoy) menjadi US$ 470,91 juta pada kuartal I-2026. Sedangkan pada kuartal I-2025, ADRO meraih pendapatan usaha US$ 381,62 juta. Laba bersih ADRO meningkat 67,07% yoy menjadi US$ 128,14 juta, dibandingkan periode sebelumnya yakni US$ 76,70 juta.
Namun, Nafan mengingatkan keuntungan tersebut dapat berkurang apabila perusahaan masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap suku cadang impor maupun utang dalam denominasi dolar AS. Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya pengadaan maupun beban keuangan berpotensi mengimbangi keuntungan yang berasal dari selisih kurs.
Di luar faktor nilai tukar, Nafan menilai ADRO juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah potensi perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor utama, seperti China dan India, yang dapat menekan permintaan batu bara.
Selain itu, tren transisi energi menuju ekonomi hijau (green economy) juga dinilai membatasi ruang pertumbuhan industri batu bara dalam jangka panjang.
Di sisi lain, kebijakan pemangkasan kuota produksi maupun ketatnya realisasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) domestik membuat emiten batu bara harus semakin fokus menjaga efisiensi biaya produksi per ton agar margin tetap terjaga ketika harga batu bara global mengalami koreksi.
Meski masih dibayangi sejumlah risiko tersebut, Nafan menilai prospek ADRO tetap menarik. Ia pun memberikan rekomendasi kepada investor untuk buy saham ADRO dengan target harga Rp 2.480 per saham.
Baca Juga: Rupiah Melemah Jadi Katalis, Prospek Saham INCO Masih Ditopang Harga Nikel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














