kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Prospek Industri Farmasi Masih Positif di 2026, Cermati Saham Pilihan Analis


Jumat, 10 April 2026 / 23:29 WIB
Prospek Industri Farmasi Masih Positif di 2026, Cermati Saham Pilihan Analis
ILUSTRASI. Kalbe Farma (KLBF) Kembangkan Stem Cell dan Bioteknologi untuk Ketahanan Kesehatan Nasional (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Prospek saham emiten farmasi pada 2026 diperkirakan tetap menjanjikan, meski kinerjanya akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjaga efisiensi biaya dan stabilitas margin di tengah berbagai tantangan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari menilai, dinamika kinerja emiten farmasi sepanjang 2025 menjadi cerminan pentingnya pengelolaan biaya operasional, terutama di sisi pemasaran. 

Emiten yang mampu mengendalikan beban penjualan terbukti lebih tahan terhadap tekanan.

Ia mencontohkan, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masih mampu menjaga kinerja berkat efisiensi biaya. 

Baca Juga: Permintaan Obat Injeksi Steril Melonjak, Ethica Industri Farmasi Percepat Ekspansi

Sebaliknya, PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) mengalami tekanan laba akibat lonjakan biaya operasional yang tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan.

“Outlook sektor farmasi 2026 bisa dikatakan netral hingga positif, dengan katalis utama peningkatan anggaran kesehatan dari pemerintah,” ujar Brigita, Kamis (9/4/2026).

Selain dorongan belanja kesehatan, perubahan tren konsumsi juga mulai terlihat. Ke depan, pelaku industri diperkirakan akan memperbesar porsi produk preventif seperti suplemen, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat.

 

Namun, sektor ini masih dibayangi risiko pelemahan nilai tukar rupiah. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat biaya produksi rentan meningkat saat rupiah tertekan.

Untuk meredam risiko tersebut, emiten dapat menerapkan strategi natural hedging, antara lain dengan meningkatkan ekspor agar pendapatan dalam dolar AS bisa mengimbangi biaya impor. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Diproyeksi Positif, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Penyesuaian harga jual juga menjadi opsi untuk menjaga margin, meski berpotensi menekan volume penjualan.

Di sisi lain, ekspansi ke pasar internasional dinilai semakin penting. Selain mendiversifikasi sumber pendapatan, langkah ini juga membuka peluang margin lebih tinggi karena harga obat di sejumlah negara relatif lebih mahal. 

Meski begitu, keberhasilan strategi ini tetap bergantung pada kemampuan emiten menembus pasar baru dan memperluas basis konsumen.

Untuk pilihan saham, Brigita merekomendasikan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Ia menilai emiten ini konsisten mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, serta mampu menjaga efisiensi operasional di tengah tekanan margin.

Baca Juga: Emiten Properti Kawasan Industri Masih Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis

“Valuasi KLBF saat ini juga masih berada di bawah rata-rata historis, sehingga cukup menarik untuk dikoleksi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×