Reporter: Yuliana Hema | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menambah 37 saham ke dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC). Dengan penambahan tersebut, jumlah saham yang masuk daftar HSC meningkat menjadi 51 emiten.
Penambahan tersebut dilakukan setelah BEI merevisi metodologi penentuan HSC. Perubahan dilakukan dengan menambahkan kriteria price-impact ratio untuk saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengatakan penyesuaian metodologi merupakan bagian dari evaluasi berkelanjutan atas reformasi pasar modal yang dijalankan bersama Self-Regulatory Organization (SRO).
Baca Juga: IHSG Berpotensi Konsolidasi pada Rabu (15/7/2026), Ini Rekomendasi Analis
"Kami telah melakukan revisi atas metodologi high shareholding concentration dengan menambahkan satu kriteria, yaitu price-impact ratio untuk seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun," ujar Jeffrey dalam konferensi pers, Selasa (14/7).
Jeffrey bilang saham dengan price-impact ratio tinggi akan melalui proses penyaringan untuk mengidentifikasi indikasi konsentrasi kepemilikan saham. Penilaian tersebut melengkapi faktor pemicu pengawasan yang selama ini telah diterapkan BEI.
Dia menjelaskan price-impact ratio dihitung berdasarkan perubahan harga saham dibandingkan dengan velocity transaksi. Sementara itu, velocity dihitung dari rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham yang beredar di publik atau free float.
"Saham yang aktivitas volume transaksinya rendah akan menghasilkan velocity yang rendah. Dengan perubahan harga yang besar, maka price-impact ratio menjadi tinggi," jelas Jeffrey.
Jeffrey mengatakan pihaknya BEI akan mengevaluasi kriteria price-impact ratio setiap tiga bulan. Jadwal tersebut mengikuti siklus evaluasi indeks utama yang dilakukan secara berkala oleh bursa.
Sementara itu, faktor pemicu lain dalam pengawasan tetap diberlakukan secara insidental terhadap seluruh saham. Artinya, kata Jeffrey, pengawasan tidak hanya bergantung pada evaluasi periodik berdasarkan metodologi baru tersebut.
"Dengan kriteria baru tersebut, kami akan segera mengumumkan ada 37 saham baru masuk dalam kriteria high shareholding concentration sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration menjadi 51 saham," kata Jeffrey.
Jeffrey menegaskan perubahan metodologi tersebut merupakan bagian dari reformasi pasar modal yang terus dilakukan SRO. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung terciptanya perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien di pasar modal Indonesia.
"Ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kita lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur, wajar, dan efisien terus kita hadirkan di Bursa Efek," ucapnya.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Konsolidasi pada Rabu (15/7/2026), Cermati Sentimennya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














