Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Secara terpisah, Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menjelaskan, tekanan terhadap IHSG bermula dari sentimen terkait MSCI, kemudian diperparah oleh berbagai isu fiskal domestik serta pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus kisaran Rp 18.000 per dolar AS.
Teguh bilang posisi IHSG saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat dinamis, dengan peluang yang relatif seimbang untuk bergerak naik maupun turun.
Baca Juga: Kiwoom Sekuritas: Ada Sinyal Rebound Teknikal, Investor Saham Jangan Agresif Dulu
Menurutnya, arah pergerakan indeks ke depan akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap tantangan yang dihadapi.
Dalam proyeksinya, Teguh melihat IHSG masih berpotensi terkoreksi hingga di bawah level 5.000. Sebaliknya, apabila sentimen pasar membaik dan kepercayaan investor pulih, indeks juga berpeluang menguat menuju level 7.000.
"Beberapa waktu belakangan ini IHSG lebih banyak ditopang oleh saham-saham konglomerat. Saat saham fundamental turun, saham konglomerat masih menopang, mereka masih menahan laju penurunan IHSG. Kalau nantinya saham-saham konglomerat turun, itu juga akan membuat IHSG ikut turun, bahkan di bawah level 5.000," kata Teguh kepada Kontan, Minggu (7/6/2026).
Bagi investor, Teguh menyarankan untuk mulai mencermati saham-saham berfundamental kuat yang harganya telah terkoreksi cukup dalam.
Baca Juga: Prospek Indeks Kompas100: Sentimen Negatif Mereda, Peluang Bangkit Terbuka
Pasalnya, pelemahan pasar yang terjadi saat ini dapat membuka peluang akumulasi pada emiten berkualitas dengan valuasi yang menjadi lebih menarik dibandingkan kondisi normal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













