kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.085   2,00   0,01%
  • IDX 6.140   48,71   0,80%
  • KOMPAS100 805   8,68   1,09%
  • LQ45 614   7,44   1,23%
  • ISSI 212   1,82   0,87%
  • IDX30 346   4,36   1,28%
  • IDXHIDIV20 426   3,35   0,79%
  • IDX80 92   1,03   1,14%
  • IDXV30 116   0,63   0,55%
  • IDXQ30 111   1,33   1,22%

Laba TAPG Semester I Lampaui Ekspektasi, Indo Premier Sebut Bukan Karena Fundamental


Kamis, 30 Juli 2026 / 10:59 WIB
Laba TAPG Semester I Lampaui Ekspektasi, Indo Premier Sebut Bukan Karena Fundamental
ILUSTRASI. Aktivitas pekerja perkebunan kelapa sawit PT Triputra Agro Persa (DOK/TAPG)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) membukukan kinerja semester I 2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Meski demikian, Indo Premier Sekuritas menilai capaian tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh percepatan pengakuan penjualan pada kuartal II 2026, bukan karena peningkatan fundamental yang lebih kuat.

Hingga semester I-2026, laba bersih inti alias core net profit TAPG mencapai Rp 2,1 triliun atau naik 22% secara tahunan. Realisasi tersebut setara dengan 44% dari proyeksi penuh tahun Indo Premier dan 51% dari konsensus pasar, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pencapaian tiga tahun terakhir yang berada di kisaran 38%.

"Menurut kami hasil ini masih sejalan dengan estimasi kami, meskipun berada di atas konsensus. Kinerja yang tampak melampaui ekspektasi terutama didorong oleh pengakuan penjualan yang terjadi lebih cepat pada kuartal II 2026, sehingga lebih mencerminkan perbedaan waktu pencatatan dibandingkan peningkatan profitabilitas yang mendasar," ujar Halima.

Baca Juga: Pendapatan dan Laba Bersih United Tractors (UNTR) Turun pada Semester I-2026

Pada kuartal II 2026, laba bersih inti TAPG melonjak 92% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi Rp 1,4 triliun. Sementara itu, pendapatan perusahaan ini mencapai Rp 3,4 triliun atau meningkat 35% secara kuartalan, sehingga total pendapatan semester I 2026 mencapai Rp 5,9 triliun atau naik 6% secara tahunan.

Di sisi operasional, EBITDA kuartal II tercatat sebesar Rp 1,5 triliun atau naik 81% secara kuartalan. Sepanjang semester I 2026, EBITDA mencapai Rp 2 triliun, meningkat 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, kontribusi laba dari perusahaan patungan alias joint venture (JV) mencapai Rp 533 miliar pada semester I 2026, naik 4% secara tahunan atau sekitar 95% dari estimasi Indo Premier.

Hingga akhir 2026, Indo Premier Sekuritas memperkirakan pendapatan TAPG bisa mencapai Rp 13,73 triliun dengan laba bersih Rp 4,85 triliun. Sementara di tahun 2027, Halima memproyeksi pendapatan dan laba bersih masing-masing bisa mengantongi Rp 14,46 triliun dan Rp 4,99 triliun. 

Meski pada kuartal II perusahaan membukukan denda satu kali (one-off) terkait lahan kehutanan sebesar Rp 80 miliar, posisi neraca TAPG tetap solid. Hingga akhir Juni 2026, perusahaan masih mencatat posisi kas bersih (net cash) sebesar Rp 628 miliar dengan rasio net cash terhadap ekuitas sebesar 0,05 kali.

Dari sisi operasional, volume penjualan sawit pada kuartal II mencapai 219.000 ton atau meningkat 22% dibandingkan kuartal sebelumnya. Dengan demikian, total penjualan semester I mencapai 399.000 ton, hanya turun tipis 1% secara tahunan dan telah mencapai 103% dari proyeksi Indo Premier untuk paruh pertama tahun ini.

Menurut Halima, tingginya volume tersebut juga dipengaruhi oleh percepatan pengakuan penjualan pada kuartal II, sehingga lebih merupakan faktor waktu dibandingkan perubahan permintaan yang signifikan.

Harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) gabungan tercatat sebesar Rp 15,3 juta per ton pada kuartal II atau naik 11% secara kuartalan. Sepanjang semester I, ASP mencapai Rp 14,6 juta per ton atau meningkat 8% dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, biaya tunai alias cash cost turun menjadi Rp 8,4 juta per ton pada kuartal II atau turun 8% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada semester I, cash cost berada di level Rp 8,8 juta per ton, relatif stabil dengan kenaikan 1% secara tahunan dan sejalan dengan proyeksi Indo Premier.

Baca Juga: Rupiah Spot Menguat ke Rp 18.070 per Dolar AS pada Perdagangan Kamis (30/7) Pagi

Penurunan biaya tersebut mendorong margin tunai (cash margin) menjadi Rp 6,9 juta per ton pada kuartal II atau melonjak 48% dibandingkan kuartal sebelumnya. Secara semesteran, cash margin mencapai Rp 5,9 juta per ton atau naik 20% secara tahunan, setara 108% dari estimasi Indo Premier.

Meski demikian, Halima menegaskan bahwa pencapaian margin tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan profitabilitas yang berkelanjutan.

"Kami tetap menilai hasil ini sesuai ekspektasi karena kenaikan margin terutama didorong oleh biaya persediaan (inventory cost) yang lebih positif. Ke depan, biaya persediaan diperkirakan akan kembali normal sehingga faktor ini lebih merupakan perbedaan waktu daripada peningkatan profitabilitas yang mendasar," jelasnya.

Berkaca pada kinerja tersebut, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TAPG dengan target harga tetap Rp 2.100 per saham. Harga saham TAPG hingga pukul 10.44 WIB pada Kamis (30/7/2026) telah naik 3,14% di Rp 1.805 per saham. 

Halima memperkirakan kinerja perusahaan akan semakin kuat pada paruh kedua 2026, didukung prospek harga crude palm oil (CPO) yang lebih tinggi seiring dampak El Niño dan implementasi program biodiesel B50. Selain itu, manajemen juga memperkirakan adanya perbaikan operasional secara musiman pada semester II.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, antara lain perubahan tingkat persediaan, proses penyaluran produk, serta potensi perubahan regulasi yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×