kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Prospek Emiten Alat Berat Berpeluang Membaik di 2027, Cek Saham Rekomendasi Analis


Sabtu, 10 Oktober 2026 / 13:00 WIB
Prospek Emiten Alat Berat Berpeluang Membaik di 2027, Cek Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Ilustrasi alat berat komatsu, UNTR. Prospek emiten produsen dan distributor alat berat seperti UNTR), INTA, KOBX, dan HEXA berpeluang membaik pada 2027. Cek Saham jagoan analis.(KONTAN/Panji Indra)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten produsen dan distributor alat berat seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Intraco Penta Tbk (INTA), PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX), dan PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) berpeluang membaik pada 2027.

Pemulihan terutama berpotensi terjadi apabila harga batubara bertahan dan kepastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan meningkat.

Analis Republik Investor Muhammad Syaiful Ridwan menilai, dampak kenaikan harga batubara terhadap penjualan alat berat masih terbatas dalam jangka pendek.

Pemulihan permintaan diperkirakan membutuhkan waktu karena pelanggan masih mengoptimalkan armada yang telah dimiliki.

Baca Juga: Prospek Emiten Alat Berat Diproyeksi Masih Menantang, Simak Rekomendasi Analis

Sebagai gambaran, harga batubara pada 2 Oktober 2026 ditutup di US$ 149,4 per ton, naik 1,5% dan menjadi level tertinggi sejak 10 September 2026.

Kenaikan ini antara lain didorong oleh kebutuhan batubara India di tengah kekurangan pasokan listrik. Sementara itu, impor batubara dan lignit China pada Januari-Agustus 2026 mencapai 310,19 juta ton, naik 3,4% secara tahunan.

Namun, kenaikan harga batubara dan permintaan impor belum tentu langsung mendongkrak penjualan unit baru pada sisa 2026.

Menurut Syaiful, pemulihan aktivitas pertambangan biasanya tidak langsung diikuti pembelian alat berat baru.

 

Kontraktor cenderung mengaktifkan kembali unit yang menganggur sebelum menambah armada, sehingga kenaikan utilisasi lebih dahulu berdampak terhadap kebutuhan suku cadang dan jasa purna jual.

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Cek Saham Rekomendasi Analis

“Dampaknya ke sisa 2026 kemungkinan kecil. Efek yang lebih nyata baru terasa di 2027,” ujar Syaiful kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie juga menilai, kenaikan harga batubara dan permintaan impor dapat memperbaiki margin penambang, meningkatkan utilisasi armada, serta memulihkan kemampuan belanja modal.

Namun, pembelian unit baru membutuhkan waktu lebih panjang karena penambang biasanya menunggu kepastian keberlanjutan harga komoditas dan jadwal pengiriman alat.

“Karena 2026 tinggal beberapa bulan, kontribusi ke penjualan unit tahun ini kami nilai terbatas, dan efek yang lebih besar berpotensi baru terlihat pada 2027 jika harga bertahan,” kata Adrian.

Selain harga komoditas, kepastian RKAB menjadi faktor penting bagi pemulihan industri. RKAB batubara 2026 dirancang sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 sebesar 1,2 miliar ton.

Baca Juga: Bisnis Emiten Data Center Makin Moncer, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga melaporkan pemangkasan produksi sejumlah anggota berkisar 40%-70%.

Pembatasan produksi membuat perusahaan tambang cenderung menahan belanja modal untuk alat berat. Namun, terdapat sinyal pelonggaran kuota bagi sebagian perusahaan.

RKAB UNTR, misalnya, meningkat dari sekitar 7,4 juta ton pada pertengahan Juli menjadi 12,4 juta ton pada Agustus 2026.

Adrian menilai, ketidakpastian RKAB masih menjadi risiko nyata karena menentukan kuota produksi perusahaan tambang. Selama persetujuan belum jelas, penambang berpotensi menunda pembelian unit baru dan memprioritaskan belanja yang mendesak.

“Kami melihat prospek moderat-positif. Hingga akhir 2026 kinerja masih ditopang purna jual, lalu membaik pada 2027 apabila harga batubara bertahan dan RKAB lebih jelas,” ujar Adrian.

Di tengah kondisi tersebut, kontribusi sektor pertambangan terhadap penjualan alat berat UNTR juga masih mengalami tekanan.

Hingga Mei 2026, porsi penjualan Komatsu UNTR ke sektor pertambangan tercatat 43%, turun dari 65% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, kontribusi agribisnis naik menjadi 24% dari 13%, sedangkan konstruksi meningkat menjadi 19% dari 12%.

Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

Penjualan alat berat berukuran besar atau big machine juga turun 49% menjadi 436 unit sepanjang Januari-Agustus 2026.

Padahal, nilai penjualan per unit alat berat besar dapat mencapai 10-15 kali lipat dibandingkan unit kecil, sehingga penurunan volumenya berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap pendapatan.

Meski begitu, Syaiful melihat tanda awal pemulihan aktivitas tambang. Volume pemindahan lapisan penutup atau overburden removal UNTR pada Agustus 2026 mencapai 98,4 juta bank cubic meter (bcm), naik 9% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan aktivitas ini berpotensi menjadi sinyal awal sebelum penambang kembali meningkatkan pembelian alat berat.

Dari sisi kinerja, UNTR membukukan laba bersih Rp 956 miliar pada semester I 2026, turun 88% secara tahunan. Penurunan ini antara lain dipengaruhi pencatatan penurunan nilai atau impairment sekitar Rp 2,76 triliun terkait bisnis panas bumi.

Penjualan Komatsu oleh UNTR sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 2.689 unit, turun 21% secara tahunan dan setara 67% dari target penjualan 4.000 unit pada 2026.

Baca Juga: Prospek Emiten Rumah Sakit Tetap Cerah di 2026, Cek Saham Rekomendasi Analis

KOBX menunjukkan momentum penjualan yang lebih baik. Pendapatan pada kuartal II 2026 mencapai Rp 1,02 triliun, tumbuh 13,2% secara tahunan, sementara penjualan unit meningkat 47%.

Namun, kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas masih perlu dicermati mengingat riwayat kerugian pada periode sebelumnya.

Adapun HEXA membukukan laba bersih US$ 15,98 juta pada tahun buku April 2025-Maret 2026, turun 48,54%. Perusahaan menargetkan penjualan US$ 583 juta, sedangkan realisasi pada kuartal I tahun buku berjalan mencapai US$ 113,8 juta.

 

Di sisi lain, INTA mencatat pendapatan Rp 422,86 miliar pada semester I 2026, turun 11,21% secara tahunan. Perusahaan juga membukukan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 41,63 miliar.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan, masing-masing emiten mengandalkan strategi berbeda.

UNTR memiliki eksposur pada rantai bisnis pertambangan melalui kontraktor tambang dan distribusi alat berat, sekaligus menjalankan diversifikasi ke komoditas emas dan nikel. KOBX memperluas penetrasi alat berat asal China yang lebih kompetitif, termasuk dump truck hybrid.

Baca Juga: Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Membaik, Cermati Rekomendasi Analis

Sementara itu, HEXA memiliki eksposur ke sektor agribisnis yang menjadi salah satu kontributor utama bisnisnya. INTA mendorong bisnis penyewaan alat berat untuk memperkuat pendapatan berulang di tengah keterbatasan belanja modal pelanggan.

Dari sisi rekomendasi saham, Syaiful memilih UNTR dengan target harga Rp 26.675 per saham.

Menurut dia, UNTR berpotensi menjadi penerima manfaat langsung apabila aktivitas pertambangan dan kuota produksi kembali meningkat, berkat eksposurnya pada distribusi alat berat dan jasa kontraktor tambang.

Sementara itu, Adrian merekomendasikan beli saham UNTR dengan target harga Rp 28.000 per saham.

Ia menilai prospek perusahaan berpotensi membaik seiring pemulihan aktivitas pertambangan, dengan catatan harga batubara tetap terjaga dan kepastian RKAB meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×