Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pusat data (data center) Indonesia memasuki fase awal pertumbuhan dengan prospek ekspansi yang sangat besar.
Kapasitas data center nasional yang saat ini sekitar 580 megawatt (MW) diproyeksikan melonjak hingga 3,5 gigawatt (GW) pada 2030.
Pertumbuhan tersebut membuka peluang bagi emiten lokal untuk menikmati lonjakan kebutuhan infrastruktur digital, terutama melalui pembangunan fasilitas baru dan kerja sama dengan operator global.
Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, kapasitas IT data center terpasang di Indonesia mencapai sekitar 580 MW pada semester I-2026.
Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Cek Saham Rekomendasi Analis
Angka tersebut berpotensi meningkat lebih dari enam kali lipat dalam empat tahun ke depan.
"Emiten lokal masih berada dalam fase awal siklus pertumbuhan data center, dengan pipeline kapasitas yang besar sehingga memberikan ruang ekspansi signifikan ke depan," tulis Kafi dan Erindra dalam riset, Jumat (21/8/2026).
Menurut mereka, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) memiliki eksposur langsung terbesar terhadap pertumbuhan industri data center.
Eksposur Emiten
Telkom Indonesia mengembangkan bisnis data center melalui NeutraDC. Kafi menyebutkan, NeutraDC saat ini memiliki kapasitas sekitar 90,4 MW dan menargetkan kapasitasnya meningkat menjadi 300 MW pada 2030.
Analis NH Korindo Sekuritas Leonardo Lijuwardi menilai ekspansi berkelanjutan TLKM dalam mengoptimalkan aset serat optik, menara telekomunikasi, dan data center menjadi katalis strategis bagi perusahaan.
Menurut dia, langkah tersebut berpotensi mendorong rerating saham TLKM dalam jangka menengah. Leonardo mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.700 per saham.
Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Beragam, Simak Saham Rekomendasi Analis
Sementara itu, eksposur ISAT terhadap industri data center berasal dari kepemilikan 25% di BDx Indonesia. Perusahaan tersebut mengoperasikan edge data center dengan kapasitas 30 MW di tiga kampus serta fasilitas hyperscale berkapasitas 72 MW di CGK4 Jatiluhur.
DSSA juga memiliki bisnis data center melalui pengoperasian 24 fasilitas edge dengan total kapasitas 10 MW. Adapun DCII menjadi emiten yang paling fokus pada bisnis pusat data dibandingkan pemain lokal lainnya.
Selain empat emiten tersebut, BRI Danareksa Sekuritas turut menyoroti pemain yang masih berada pada tahap awal, yakni PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).
Untuk sektor data center, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli TLKM dengan target harga Rp 3.500 per saham dan beli ISAT dengan target harga Rp 2.500 per saham.
Dengan kapasitas nasional yang diproyeksikan menembus 3,5 GW pada 2030, persaingan membangun fasilitas data center diperkirakan semakin ketat.
Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis
Bagi emiten lokal, fase awal ini sekaligus menjadi momentum untuk memperbesar kapasitas dan mengunci posisi di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














