kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Potensi kenaikan bunga The Fed menghantui rupiah


Selasa, 20 Maret 2018 / 08:13 WIB
Potensi kenaikan bunga The Fed menghantui rupiah
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah


Reporter: Grace Olivia, RR Putri Werdiningsih | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pelemahan rupiah masih berlanjut. Pekan ini, rupiah dihadapkan pada rencana kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang akan dibahas dalam pertemuan Federal Open Market Comittee (FOMC) Kamis (22/3).

Walau memiliki fundamental ekonomi yang masih ciamik, rupiah diprediksi tak mampu melawan keunggulan dollar AS jelang keputusan The Federal Reserve tersebut. Bahkan, analis PT Valbury Asia Futures Lukman Leong berpendapat, tidak tertutup kemungkinan rupiah bisa anjlok lebih dalam hingga Kamis mendatang. "Rupiah mungkin saja turun terus hingga ke level 13.800 hingga 13.900," ujarnya, kemarin.

Selain faktor eksternal dari Negeri Paman Sam, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung tengah pekan ini juga berpotensi membebani laju rupiah. Soalnya, besar kemungkinan suku bunga 7-days repo rate bakal ditahan di level 4,25%,

Menurut Lukman, tingkat suku bunga yang terbilang rendah saat ini tak akan memacu tingkat inflasi. Asal tahu saja, Februari lalu, tingkat inflasi tahunan tercatat sebesar 3,18%. Angka tersebut turun dari inflasi bulan Januari 2018 yang mencapai 3,25%.

Sementara, dengan tingkat inflasi saat ini, pertumbuhan ekonomi pun cenderung tak beranjak. "Jadi, penahanan suku bunga acuan bisa jadi malah kurang menggairahkan pasar," tegas Lukman.

Berapa kali naik?

Selain menunggu suku bunga acuan AS dikerek, pelaku pasar kini menanti arah kebijakan ekonomi AS ke depan. "Selain itu, pasar juga menanti pernyataan apakah suku bunga akan dinaikkan tiga kali atau empat kali di tahun ini," kata ekonom Bank Permata Josua Pardede.

Namun, Josua memprediksikan, The Fed tidak akan mengerek suku bunga hingga empat kali di 2018 ini. Soalnya, data ekonomi Negeri Paman Sam seperti inflasi dan penjualan eceran belum sesuai dengan ekspektasi.

Ini membuat rupiah berpotensi koreksi tipis. Apalagi BI diperkirakan masih melakukan intervensi demi menyelamatkan pergerakan mata uang Garuda tersebut.

Selain itu, penguatan dollar AS juga masih mungkin tertahan oleh gejolak politik di Negeri Uwak Sam itu sendiri. Ketegangan relasi dagang yang tengah berkembang akibat kebijakan Presiden Donald Trump memberlakukan bea impor masih membayangi the greenback.

Karena itu, Josua menghitung, setelah kenaikan suku bunga The Fed, rupiah bisa kembali stabil dan berada di rentang Rp 13.700–Rp 13.800 per dollar AS. Sementara Lukman menebak, hingga akhir kuartal I-2018, rupiah akan berada di kisaran Rp 13.500–Rp 13.900 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×