kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Potensi dilusi saham publik RMBA tinggi


Selasa, 19 April 2016 / 10:15 WIB
Potensi dilusi saham publik RMBA tinggi


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) memutuskan  menerbitkan 29,16 miliar saham biasa dengan nilai nominal Rp 50 dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Emiten rokok ini menetapkan, harga rights issue maksimal senilai Rp 480 per saham. Harga itu lebih tinggi daripada harga saham saat ini yang sebesar Rp 455 per saham. Jumlah saham itu setara dengan 80,1% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Rasio HMETD itu adalah 36:145. Artinya, setiap pemegang 36 saham lama yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada 14 Juni 2016, berhak atas 145 HMETD.

Dari aksi korporasi itu, anak usaha British American Tobacco ini berpotensi meraup dana segar senilai Rp 14 triliun. Yang perlu diperhatikan, pemegang saham yang tidak mengambil hak mereka, berpotensi mengalami penurunan persentase kepemilikan saham atau dilusi hingga 80,1%.

Pembeli siaga dari rights issue ini adalah pemegang saham pengendali perseroan, British American Tobacco. Jika saham baru yang ditawarkan tidak dibeli oleh para pemegang HMETD, sisa saham baru akan terlebih dahulu dialokasikan secara proporsional kepada pemegang saham lain yang setuju  membeli saham baru sebagai tambahan atas HMETD yang  mereka miliki. Namun, jika masih terdapat sisa saham baru setelah pengalokasian tersebut, maka pembeli siaga akan mengambilalih.

Sebagian besar dana yang diperoleh RMBA dari hasil penawaran umum terbatas ini akan digunakan untuk membayar utang ke Rothmans Far East B.V senilai Rp 12 triliun. Rothmans juga merupakan pihak yang berelasi dengan RMBA.

Saat ini, kepemilikan saham publik RMBA baru sebesar 1,04%. Artinya, perseroan belum memenuhi syarat minimum free float di pasar modal minimal sebesar 7,5%. Nah, jika rights issue ini tak terserap, kepemilikan publik RMBA di pasar akan semakin tergerus menjadi hanya 0,21%.

Sekadar informasi, tahun lalu, perseroan menyerap belanja modal Rp 811,7 miliar. RMBA masih mencetak kerugian Rp 1,6 triliun pada tahun lalu.

Samsul Hidayat, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, mengatakan, RMBA memang memiliki kewajiban free float saham untuk memenuhi ketentuan pencatatan saham beredar di BEI. Salah satu proses  menambah kepemilikan saham beredar bisa dilakukan dengan rights issue.

Namun, jika setelah aksi korporasi saham publik makin terdilusi, maka pengendali RMBA harus melakukan refloat saham. "Dalam aksi korporasi ini, diasumsikan sahamnya diserap oleh publik. Namun, jika memang proses tersebut membuat kepemilikan publik tergerus, tetap harus refloat lagi," ujar dia, kepada KONTAN, Senin (18/4). BEI akan terus mendorong emiten memenuhi aturan kepemilikan saham publik tersebut pada tahun ini.

Lucky Bayu Purnomo, analis Danareksa Sekuritas, mengatakan, harga tertinggi RMBA dalam satu tahun terakhir Rp 600 per saham dan harga terendahnya adalah Rp 420 per saham. Sehingga, harga rights issue yang ditawarkan dianggap masih dalam level yang wajar.

Sebenarnya, rights issue RMBA bisa efektif untuk menggerakkan sahamnya yang selama ini tak likuid. "Meski untuk membayar utang, tetapi paling tidak ada aksi korporasi yang membuka peluang untuk membuat saham lebih bagus," ujar dia.

Jika rights issue ini berhasil, saham RMBA dinilai akan lebih menarik lagi jika melakukan stock split seperti yang dilakukan oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). "Kalau standby buyer dari internal justru menandakan ada dana yang likuid dari holding. Sehingga rights issue ini cukup aman kalau mau dieksekusi," tutur Lucky.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×