kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Mengukur efek rights issue RMBA


Senin, 18 April 2016 / 07:05 WIB
Mengukur efek rights issue RMBA


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Beberapa emiten rokok akan menggelar aksi korporasi dalam waktu dekat. Terbaru, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) berencana melakukan penawaran umum terbatas (PUT III) maksimal 36,84 miliar unit saham dengan nominal Rp 50 per saham.

RMBA akan menggunakan dana rights issue untuk mengurangi utang kepada Rothmans Far East BV dan belanja lain. RMBA akan meningkatkan modal dasar dari Rp 1,07 triliun yang terbagi atas 21,54 miliar saham menjadi Rp 5,5 triliun dan terbagi atas 110 miliar saham.

RMBA belum menyampaikan berapa harga rights issue. Namun, dari harga saham rata-rata di kisaran Rp 467 per saham, nilai rights issue itu bisa mencapai Rp 17 triliun.

Jika disetujui otoritas, ini bakal menjadi aksi korporasi terbesar kedua dalam dua tahun belakangan, setelah PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), yang akhir tahun lalu meraup Rp 20,76 triliun dari aksi rights issue.

Setelah rights issue, HMSP akan memecah nominal sahamnya atau stock split dengan rasio 1:25. Tahun lalu, HMSP melepas saham dengan proses rights issue dalam rangka menambah jumlah saham di publik untuk memenuhi ketentuan pencatatan saham Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham perseroan juga kini belum memenuhi ketentuan free float BEI minimal 7,5%. Jika rights issue ini diserap publik, tentu saham RMBA akan lebih banyak beredar di pasar. Namun, aksi korporasi jumbo ini belum tentu mengerek prospek RMBA menjadi salah satu saham rokok yang layak diperhitungkan, seperti HMSP ataupun PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

David Sutyanto, Analis First Asia Capital, mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi menarik atau tidaknya suatu rights issue. Salah satunya adalah harga rights dan penggunaan dana. Emiten ini akan menggunakan dana untuk membayar utang.

Aksi korporasi ini justru dinilai bakal mendapat tanggapan negatif dari investor. RMBA harus memberi diskon untuk harga rights issue agar bisa diserap pasar. Namun, diskon rights menimbulkan dampak penurunan harga saham di pasar reguler.

Jika rights issue ini diserap pembeli siaga, dampaknya ke pemegang saham malah semakin negatif karena efek dilusi.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, jumlah rights issue besar bisa menjadi sinyal, korporasi sedang ada masalah, apalagi kalau dilakukan untuk membayar utang.

"Kalau besar sekali, ada indikasi akan ada investor baru yang masuk atau backdoor listing," terangnya. Nilai rights issue RMBA terlihat lebih besar dari nilai kapitalisasi pasarnya yang hanya Rp 3,2 triliun.

"Dulu, RMBA sempat menjadi saham yang likuid. Meski rights issue-nya terserap publik, belum tentu bisa menjadi penggerak indeks," ujar Hans. Maklum, produk rokok masih didominasi oleh Grup Djarum, HMSP dan GGRM.

Hans masih wait and see emiten-emiten rokok. David hanya merekomendasikan buy untuk HMSP dan GGRM, dengan target masing-masing Rp 70.000 dan Rp 110.000. Dia merekomendasikan sell RMBA karena harga sahamnya bisa mengarah ke Rp 400.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×