Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Dupla Kartini
JAKARTA. PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) menetapkan harga rights issue setinggi-tingginya Rp 480 per saham. Harga itu lebih tinggi dari harga saham perseroan saat ini yang sebesar Rp 455 per saham.
Perseroan akan menawarkan 29,16 juta miliar saham biasa dengan nilai nominal Rp 50, dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Jumlah saham itu setara dengan 80,1% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Rasio HMETD itu adalah 36:145. Artinya, setiap pemegang 36 saham lama yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada 14 Juni 2016, berhak atas 145 HMETD.
Dari aksi korporasi itu, perusahaan rokok milik British American Tobacco ini berpotensi meraup dana segar senilai Rp 14 triliun. Yang perlu diperhatikan, pemegang saham yang tidak mengambil haknya, berpotensi mengalami penurunan presentasi kepemilikan saham atau terdilusi hingga 80,1%.
Pembeli siaga dari rights issue ini adalah pemegang saham pengendali perseroan, British American Tobacco. Sebagian besar dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum terbatas ini, akan digunakan untuk membayar utang ke Rothmans Far East B.V senilai Rp 12 triliun.
Saat ini, kepemilikan saham publik RMBA baru sebesar 1,04%. Artinya, RMBA belum memenuhi syarat minimum free float di pasar modal minimal sebesar 7,5%. Nah, jika rights issue ini tak terserap, kepemilikan publik RMBA di pasar akan makin tergerus menjadi hanya 0,21%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News