kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Pilihan Saham LQ45 di Semester II-2026, Selektif Memburu Peluang Rebound


Minggu, 05 Juli 2026 / 12:21 WIB
Pilihan Saham LQ45 di Semester II-2026, Selektif Memburu Peluang Rebound
ILUSTRASI. Layar Kinerja indeks saham LQ45. (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks saham unggulan LQ45 masih tertekan sepanjang tahun berjalan. Hingga Jumat (3/7/2026), LQ45 melemah 31,28% secara year to date, hampir sejalan dengan IHSG yang terkoreksi 32,05%.

Pelemahan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar. Sepanjang 2026, investor asing masih membukukan jual bersih Rp 74,42 triliun di seluruh pasar reguler.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai indeks LQ45 tetap relevan sebagai acuan awal memilih saham berkapitalisasi besar karena menawarkan likuiditas tinggi ketika kondisi pasar masih berfluktuasi.

Baca Juga: Strategi yang Bisa Dilakukan Investor di Tengah Dinamika Perekonomian Domestik

"LQ45 tetap relevan sebagai acuan awal, tetapi bukan satu-satunya filter investasi. Kami mengutamakan saham likuid dengan fundamental kuat dan menghindari value trap," katanya kepada Kontan, Jumat (3/7).

Liza bilang peluang rebound LQ45 pada semester II-2026 masih terbuka, meski kenaikannya diperkirakan berlangsung selektif. Adapun katalis utama berasal dari stabilisasi rupiah, foreign flow, suku bunga, serta perkembangan isu MSCI.

Namun dia menyarankan investor tetap harus menyaring saham LQ45 berdasarkan kualitas fundamental, valuasi, tata kelola, free float, serta sensitivitas terhadap pergerakan rupiah maupun arah suku bunga domestik.

Liza memproyeksikan, sektor perbankan berpotensi memimpin rebound karena menjadi proksi utama investor asing ketika kepercayaan terhadap pasar Indonesia kembali pulih setelah tekanan sepanjang semester pertama.

“Sektor logam dan komoditas juga menarik dicermati, terutama emiten berbasis emas, nikel, dan energi. Peluangnya semakin besar apabila pelemahan rupiah masih berlanjut dan harga komoditas tetap tinggi,” ucapnya.

Baca Juga: Cermati Saham-Saham Net Buy Terbesar Asing di Pekan Pertama Juli 2026

Selain itu, Liza menilai sektor consumer defensif dan kesehatan berpotensi lebih tangguh menghadapi perlambatan konsumsi. Investor juga dapat mencermati saham dengan katalis khusus, seperti buyback atau pemulihan laba.

"Dalam skenario dasar kami, IHSG berpeluang menuju 7.250 hingga 7.700 pada akhir 2026 jika rupiah stabil dan foreign flow mulai membaik," jelas Liza.

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menambahkan indeks LQ45 layak dijadikan acuan investasi. Menurutnya, koreksi harga lebih mencerminkan penyesuaian valuasi akibat sentimen makro daripada penurunan fundamental emiten.

"Secara historis, pemulihan IHSG hampir selalu diawali oleh penguatan saham-saham blue chip konstituen LQ45. Ketika arus dana asing kembali masuk, saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII, hingga ICBP biasanya menjadi tujuan utama investor institusi," katanya.

Dia memperkirakan peluang rebound pada semester kedua tetap terbuka. Pendorongnya berasal dari musim laporan keuangan, valuasi blue chip yang murah, potensi foreign flow, serta reformasi pasar modal.

Baca Juga: Adaro Andalan (AADI) Kucurkan Pinjaman US$ 100,80 Juta ke Kaltara Power (KPI)

Menurut Alrich, sektor perbankan masih berpeluang memimpin pemulihan melalui BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Sementara consumer staples seperti ICBP, INDF, UNVR, serta TLKM juga layak dicermati investor.

"Semester II tetap belum ideal untuk melakukan pembelian agresif sekaligus. Investor sebaiknya melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham blue chip dengan fundamental kuat dan valuasi yang sudah berada di bawah rata-rata historis," ucapnya.

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan enam saham LQ45 untuk dicermati pada semester kedua, yakni ANTM, INCO, BBRI, BBNI, JPFA, dan KLBF karena didukung prospek fundamental yang tetap solid.

 

Baca Juga: Chandra Daya Investasi (CDIA) Tambah Fasilitas Pinjaman US$ 12,25 Juta ke Aster

Liza menyarankan ANTM, INCO, dan JPFA bagi investor dengan profil risiko lebih tinggi yang mencari peluang recovery. Sementara saham BBRI, BBNI, dan KLBF lebih sesuai sebagai portofolio inti.

"Strategi kami tetap akumulasi bertahap atau buy on weakness, bukan mengejar harga secara agresif. Rebound kemungkinan hanya terjadi pada saham yang likuid, valuasinya sudah murah, dan earnings masih jelas," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×