kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Strategi yang Bisa Dilakukan Investor di Tengah Dinamika Perekonomian Domestik


Minggu, 05 Juli 2026 / 12:07 WIB
Diperbarui Minggu, 05 Juli 2026 / 12:11 WIB
Strategi yang Bisa Dilakukan Investor di Tengah Dinamika Perekonomian Domestik
ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) melihat dinamika perekonomian domestik saat ini tengah mengalami fase penyesuaian seiring dengan fluktuasi pasar global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,28% ke 5.875,78 hingga penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026), setelah sempat turun lebih dari 3% pada pekan ini dan mencapai level terendah di 5.607.

Mencermati kondisi pasar tersebut, investor disarankan untuk tetap menjaga kecukupan likuiditas dan melakukan investasi sesuai profil risiko masing – masing. 

Baca Juga: Samuel Sekuritas: Risiko Eksternal Kini Merambat ke Struktur Ekonomi Domestik

Plt. Direktur Utama Bahana TCW, Danica Adhitama, menyampaikan bahwa dinamika IHSG ini berjalan beriringan dengan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang termoderasi di kisaran Rp 18.000 per dolar AS, atau mengalami penyesuaian sekitar 2% dalam sepekan terakhir.

Pergeseran indikator makroekonomi ini merupakan siklus yang wajar dan secara bertahap memengaruhi penyesuaian struktur biaya produksi pada sektor riil serta tren suku bunga perbankan. 

“Perkembangan pasar yang fluktuatif ini membuat banyak investor ritel bimbang. Apakah situasi ini merupakan momentum tepat untuk mengoleksi saham yang sudah murah, atau justru waktu yang tepat untuk menahan diri? Pertanyaan ini menjadi dilema terbesar masyarakat saat ini,” ujar Danica kepada Kontan, Sabtu (4/7/2026). 

Danica menekankan pentingnya menjaga kecukupan likuiditas dan menyesuaikan kembali alokasi investasi dengan profil risiko masing-masing.

Menempatkan sebagian porsi pada instrumen kas atau pasar uang dapat memberikan bantalan fundamental yang stabil di tengah proyeksi ekonomi global maupun domestik yang masih bergerak dinamis. 

Selain memberikan fleksibilitas taktis sebagai penyangga finansial terhadap berbagai kebutuhan jangka pendek, fungsi likuiditas ini juga tetap perlu diseimbangkan dengan target investasi jangka panjang.

Dengan demikian, investor memiliki ruang untuk mencapai tujuan keuangan masa depan tanpa mengorbankan keamanan finansial mereka saat ini. 

Baca Juga: Komisi XI DPR Minta BI Serius Jaga Rupiah Agar Tak Menekan Ekonomi Domestik

Meskipun valuasi pasar saat ini terlihat menarik setelah koreksi mendalam, Danica mengingatkan bahwa proses pembelian instrumen investasi harus tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian.

Eksekusi harus dilakukan secara bertahap, bukan instan, karena stabilitas pasar masih memerlukan konfirmasi dari data ekonomi yang lebih solid pada periode berikutnya. 

Selain memperhatikan profil risiko dan strategi investasi yang dipilih, masyarakat tetap diimbau untuk mengamankan dana darurat minimal setara 6 bulan hingga12 bulan pengeluaran rutin.

Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi risiko penurunan pendapatan dan risiko lain sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang dinamis. 

“Jika ingin memanfaatkan momentum koreksi untuk mencicil saham, investor disarankan melakukan pembelian bertahap (dollar-cost averaging) sambil terus memantau pergerakan rupiah, posisi penutupan IHSG, arah arus modal asing (capital flow), serta dinamika ekonomi global,” jelas Danica. 

Bahana TCW memberikan panduan portofolio investasi yang bisa dipertimbangkan, berikut rinciannya: 

Investor Konservatif. Bagi yang mengutamakan stabilitas dan keamanan modal, disarankan menempatkan 70% dana pada instrumen likuid (seperti tabungan bank dan reksadana pasar uang).

Baca Juga: Dinamika Ekonomi Global, Reksadana Bisa Jadi Pilihan Investor

Sisanya, alokasikan 10% pada saham sektor defensif yang kebal terhadap siklus ekonomi, dan 20% pada komoditas emas sebagai lindung nilai (hedging) terhadap inflasi. 

Investor Moderat. Bagi yang mengharapkan pertumbuhan nilai investasi namun tetap membatasi risiko, komposisi idealnya adalah 60% pada pos likuiditas (kombinasi reksadana pasar uang dan obligasi tenor pendek).

Sementara 40% sisanya dapat dialokasikan pada saham kategori blue chip berfundamental kuat. 

Investor Agresif. Bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang dan toleransi risiko yang lebih tinggi, koreksi pasar dapat menjadi momentum untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada aset berisiko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×