Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten grup Indofood, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), menunjukkan pertumbuhan pendapatan hingga September 2026. Namun, kenaikan penjualan tersebut belum diikuti pertumbuhan laba bersih kedua perusahaan.
INDF membukukan pendapatan sebesar Rp 101,49 triliun hingga kuartal III-2026, meningkat sekitar 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan ICBP tumbuh 15% menjadi Rp 64,45 triliun. Di sisi lain, laba bersih INDF justru turun tipis 0,19% menjadi sekitar Rp 7,8 triliun. Adapun laba bersih ICBP melemah 13,25% menjadi Rp 6,16 triliun.
Menurut penilaian analis, tekanan terhadap laba kedua emiten terutama berasal dari kenaikan biaya produksi dan rugi selisih kurs akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Baca Juga: Eagle High Plantations (BWPT) Bagikan Dividen Interim Rp 31,12 Miliar, Ini Jadwalnya
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan bahwa kenaikan harga bahan baku, kemasan, dan biaya logistik menjadi sejumlah faktor yang menekan profitabilitas. Selain itu, pelemahan rupiah turut meningkatkan rugi selisih kurs dari utang berdenominasi dolar AS, terutama pada ICBP. Pada ICBP, rugi selisih kurs meningkat menjadi Rp 3,35 triliun dari sebelumnya Rp 1,43 triliun. Kenaikan harga gandum, minyak nabati, dan bahan kemasan juga menekan margin laba usaha ICBP menjadi 21,2% dari sebelumnya 22,6%.
Meski demikian, Azis menilai kinerja bisnis inti kedua perusahaan masih cukup solid. "Menariknya, core profit INDF dan ICBP masih tumbuh masing-masing 11% dan 5%, sehingga kinerja bisnis inti sebenarnya masih cukup solid," ujar Azis dalam wawancara tertulis (2/11/2026).
Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta juga menilai penurunan laba bersih kedua emiten lebih banyak dipengaruhi tekanan non-operasional dan kenaikan biaya input dibandingkan pelemahan fundamental bisnis. Menurutnya, rugi selisih kurs yang belum terealisasi turut dipengaruhi depresiasi rupiah terhadap dolar AS pada kewajiban valuta asing, khususnya obligasi global ICBP pasca-akuisisi Pinehill. Dampaknya juga tercermin dalam laporan keuangan konsolidasi INDF.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku impor seperti gandum dan gula, fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO), serta peningkatan biaya logistik turut membatasi pertumbuhan margin keuntungan. "Secara keseluruhan, koreksi laba saat ini lebih dipicu oleh faktor moneter eksternal dibanding pelemahan fundamental, sehingga prospek jangka panjang kedua emiten tetap tergolong solid," ujar Nafan dalam wawancara tertulis (2/11/2026).
Memasuki kuartal IV-2026 hingga 2027, prospek kedua emiten dinilai masih positif. Karakteristik bisnis consumer staples yang defensif serta permintaan konsumsi yang relatif stabil menjadi penopang kinerja.
Azis melihat stabilisasi rupiah, normalisasi harga bahan baku, peningkatan efisiensi operasional, dan ekspansi pasar internasional berpotensi menjadi katalis pertumbuhan laba pada 2027. Sementara itu, Nafan menambahkan momentum konsumsi selama periode Natal dan Tahun Baru, dukungan belanja pemerintah, serta potensi penurunan biaya pendanaan seiring pelonggaran suku bunga dapat mendorong perbaikan kinerja.
Baca Juga: Rupiah Tertekan terhadap Dolar AS, Kinerjanya Tertinggal dari Mata Uang Asia
Meski begitu, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, mulai dari volatilitas nilai tukar rupiah, kenaikan harga komoditas global, biaya logistik, hingga pelemahan daya beli masyarakat. Persaingan industri yang ketat juga berpotensi membatasi kemampuan perusahaan dalam meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.
Dari sisi investasi, kedua analis memberikan rekomendasi positif terhadap saham INDF dan ICBP. Azis merekomendasikan trading buy untuk saham ICBP dengan target harga Rp 6.100. Sementara itu, saham INDF direkomendasikan dengan target harga Rp 6.800–Rp 6.900. Adapun Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham ICBP dengan target harga Rp 7.575 dan INDF dengan target harga Rp 7.675.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














