kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45758,46   8,95   1.19%
  • EMAS904.000 -1,74%
  • RD.SAHAM 1.15%
  • RD.CAMPURAN 0.62%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.32%

Penghuni LQ45 mulai rilis laporan keuangan, simak rekomendasi analis


Jumat, 28 Februari 2020 / 20:45 WIB
Penghuni LQ45 mulai rilis laporan keuangan, simak rekomendasi analis
ILUSTRASI. Pengunjung melintas dekat papan elektronik perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (27/4). Indeks LQ45 sudah turun 13,3% sejak awal tahun.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan 13,44% sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Jumat (28/2). Sejalan dengan itu, indeks LQ45 juga turun 13,3% ytd.

Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, meski indeks mengalami penurunan sejatinya kinerja emiten anggota LQ45 masih terbilang bagus. Pasalnya, penurunan indeks lebih disebabkan kondisi eksternal yaitu penyebaran virus corona serta gangguan teknis soal kasus Jiwasraya.

Justru koreksi pasar saat ini merupakan momentum yang bagus bagi investor untuk masuk ke pasar. Pasalnya, penurunan yang cukup dalam ini menjadi momentum pasar akan segera rebound.

"Kalau dihitung dari posisi tertinggi tahun 2018 awal itu di 6.600 turunnya 20%. Bagus itu. Biasanya periode koreksi pasar ya segitu dan kata kuncinya dalam negeri tidak ada problem ekonomi yang spesifik," jelas Teguh kepada Kontan.co.id, Jumat (28/2).

Baca Juga: Kinerja LQ45: Penurunan laba BTN paling dalam, kenaikan laba XL Axiata paling tinggi

Teguh mengatakan, sektor yang cukup bagus untuk dilirik di indeks ini adalah sektor perbankan dan barang konsumer. Kedua sektor dirasa menjadi sektor yang akan terlebih dahulu naik sejalan dengan pemulihan pasar.

Teguh menambahkan, saham dengan kapitalisasi jumbo di sektor konsumer seperti UNVR, HMSP, dan GGRM yang saat ini telah turun cukup dalam tidak akan turun lebih rendah lagi.

Baca Juga: IHSG merosot di hari keenam, ditutup ke 5.420,70 jelang akhir pekan

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengungkapkan, penghuni LQ45 masih tetap menarik. Apalagi saham-saham tersebut masih menjadi saham paling likuid. Selain itu, penurunan harga saham lebih karena kondisi pasar yang sedang tertekan. Apalagi, pertumbuhan ekonomi dalam negeri di tahun lalu juga mengalami perlambatan.

"Jadi hal-hal seperti itu (penurunan kinerja) di saham LQ45 terjadi di tengah kondisi ekonomi yang turbulance atau melambat adalah sesuatu yang rasional," kata Alfred kepada Kontan.co.id, Jumat (28/2).

Pertumbuhan ekonomi bakal kembali menghadapi tantangan berat di tahun ini terdampak penyebaran virus corona. Data penurunan kinerja ekonomi ini bakal terlihat pada laporan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020. Alfred juga tak yakin kasus corona ini bakal segera berhenti pada awal Maret ini.

"Kalau masih berlanjut artinya akumulasi gangguan terhadap aktivitas ekonomi secara global akan semakin masif," kata Alfred.

Hal ini juga bisa memberikan dampak lanjutan pada tekanan kinerja emiten LQ45. Meski begitu, Alfred menyarankan untuk investor mulai bisa mengakumulasi namun jangan terlalu agresif. Dia tidak menyarankan investor untuk melakukan cut loss kecuali harga saham turun karena faktor fundamental.

Baca Juga: Hantu virus corona, bursa global menuju minggu terburuk sejak krisis keuangan 2008

Sementara itu Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan, emiten yang termasuk di LQ45 rata-rata memiliki prospek yang menarik didukung oleh market cap yang besar dan saham yang likuid.

"Adapun dengan penurunan indeks yang cukup signifikan beberapa hari terakhir ini menjadi opportunity untuk investor mencermati kembali saham-saham LQ45 yang memberikan dividend yield yang cukup tinggi," jelas Venny.

Dia menyarankan sektor konsumer, telekomunikasi, dan perbankan. Beberapa saham diantaranya BBRI, HMSP, TLKM, dan ITMG.

Baca Juga: Market Cap Emiten LQ45 Turun Makin Dalam, Ini Rekomendasinya

Asal tahu saja, 11 emiten penghuni indeks LQ45 juga telah melaporkan kinerja keuangan. Dari 11 emiten tersebut, 8 emiten menunjukkan kenaikan pendapatan. Sedangkan tiga emiten mengalami penurunan pendapatan yaitu PT Astra International Tbk (ASII) turun 0,86% menjadi Rp 237,17 triliun, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun 14,55% menjadi US$ 1,71 miliar dan PT United Tractors Tbk (UNTR) menjadi Rp 84,43 triliun.

Dari ketiga emiten yang mengalami penurunan pendapatan tersebut, hanya ITMG yang juga mengalami tekanan laba bersih. Laba perusahaan tambang tersebut turun 50,59% menjadi US$ 129,43 juta.

Sementara itu, terdapat tiga emiten lain yang mengalami penurunan laba bersih. Tiga emiten tersebut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 92,55% menjadi Rp 209,26 miliar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 5,14% menjadi US$ 57,4 juta dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 18,61% menjadi Rp 7,39 triliun.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×