Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) rontok 8% dalam sehari pada perdagangan Selasa 16 September 2026. Apakah investor harus jual atau beli saham dari perusahaan milik orang terkaya Indonesia, Low Tuck Kwong tersebut?
Pada perdagangan Selasa (16/9), harga saham BYAN ditutup di Rp 10.200 berkurang 900 poin atau 8,11% secara harian. Secara year to date atau sejak awal tahun 2026 harga saham perusahaan tambang batubara ini telah melemah 37,61%.
Pelemahan harga saham BYAN karena masih menghadapi tekanan setelah perseroan mengumumkan kondisi kahar alias force majeure atas kewajiban pasokan batubara kepada sejumlah pelanggan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai investor perlu mencermati dampak gangguan tersebut terhadap operasional dan kinerja keuangan Bayan Resources, bukan hanya melihat persoalan perizinan yang melatarbelakanginya.
Seperti diketahui, Bayan Resources menyatakan force majeure terkait belum terbitnya persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kondisi tersebut berdampak pada kewajiban pemenuhan pasokan batubara oleh tiga entitas anak usaha, yakni Tiwa Abadi, Tanur Jaya, dan Fajar Sakti Prima.
Nafan mengatakan, persoalan revisi RKAB memang masih berlangsung di tingkat industri. Per 11 September 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengevaluasi sekitar 50 pengajuan revisi RKAB 2026.
Namun, keterlambatan persetujuan yang sampai memicu force majeure pada tiga anak usaha BYAN menunjukkan adanya dampak langsung terhadap kegiatan operasional dan kewajiban kontraktual perseroan.
"Investor perlu melihat bukan hanya kapan RKAB terbit, tetapi berapa besar kontribusi ketiga entitas tersebut terhadap produksi dan penjualan grup serta apakah kuota tambahan yang diminta memang krusial terhadap target 2026," kata Nafan kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).
Tonton: BREAKING NEWS PRABOWO RESHUFFLE KABINET LAGI
Risiko kehilangan produksi BYAN
Menurut Nafan, potensi kehilangan volume produksi menjadi salah satu risiko yang perlu diperhitungkan apabila persetujuan perubahan RKAB baru terbit pada kuartal IV-2026.
Meski demikian, ia menilai tidak tepat jika seluruh volume produksi Bayan Resources pada 2025 diasumsikan terdampak. Gangguan tersebut secara langsung berkaitan dengan tiga anak usaha yang menyatakan force majeure, bukan seluruh aset produksi grup.
Sebagai gambaran, BYAN mencatat produksi batubara sebesar 68 juta ton dan penjualan 70,8 juta ton sepanjang 2025. Pada periode tersebut, rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) mencapai sekitar US$ 48,4 per ton, sedangkan biaya tunai (cash cost) berada di level US$ 32,5 per ton.
Berdasarkan simulasi Nafan, setiap kehilangan 1 juta ton volume penjualan berpotensi mengurangi pendapatan sekitar US$ 46 juta–US$ 48 juta jika menggunakan asumsi ASP dalam guidance 2026.
Sementara itu, dengan memperhitungkan rentang harga dan bauran produk, estimasi penurunan pendapatan berada di kisaran US$ 36 juta–US$ 42 juta untuk setiap 1 juta ton volume yang hilang.
Dampak terhadap EBITDA berpotensi lebih rendah dibandingkan penurunan pendapatan. Pasalnya, sebagian biaya produksi dan biaya terkait volume juga dapat dihindari ketika produksi berkurang.
Tonton: BREAKING NEWS! KPK BONGKAR MAFIA TANAH LIBATKAN PEJABAT ATR BPN DAN PENGEMBANG
Ruang kompensasi dari aset lain
Nafan juga menyoroti rentang guidance produksi dan penjualan BYAN untuk 2026 yang cukup lebar.
Bayan Resources memproyeksikan produksi batubara sebesar 39 juta ton–76 juta ton, sedangkan target penjualan berada di kisaran 39 juta ton–78 juta ton.
Rentang tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk mengompensasi sebagian gangguan produksi melalui entitas lain dalam grup yang telah memperoleh persetujuan RKAB.
"Jadi, risiko terbesar bukan sekadar volume yang hilang, melainkan apakah tambahan kuota yang diminta memang tidak dapat digantikan oleh aset lain dalam grup," ujar Nafan.
Dengan demikian, investor perlu menilai seberapa besar ketergantungan target produksi 2026 terhadap tiga anak usaha yang terdampak. Kemampuan aset lain dalam grup untuk menutup kekurangan volume menjadi faktor penting dalam menentukan besarnya dampak terhadap kinerja BYAN.
Tonton: BUMN, Danantara, dan APBN: Ke Mana Larinya Dividen?
Risiko pelanggan dan kontrak batubara
Dari sisi kontraktual, force majeure dapat menjadi instrumen untuk mengurangi konsekuensi hukum atau penalti apabila klausul perjanjian mengakui keterlambatan akibat perubahan regulasi sebagai keadaan kahar.
Namun, Nafan mengingatkan bahwa risiko komersial tetap perlu diperhatikan. Pembeli jangka panjang membutuhkan kepastian volume serta jadwal pengiriman batubara.
Bayan Resources memiliki basis pelanggan yang relatif terdiversifikasi. Sejumlah pasar utama perseroan mencakup China, Indonesia, Filipina, India, Malaysia, dan Vietnam.
Diversifikasi tersebut dapat membantu mengelola risiko kehilangan pelanggan permanen apabila gangguan pasokan hanya bersifat sementara. Syaratnya, komunikasi dengan pelanggan dan proses renegosiasi kontrak berjalan dengan baik.
Sebaliknya, jika kondisi force majeure berlangsung hingga kuartal IV-2026 atau kembali terjadi, pelanggan berpotensi melakukan pengadaan batubara di pasar spot (spot procurement) maupun mengalihkan sebagian kebutuhan kepada produsen lain.
Risiko jangka panjang yang perlu diperhatikan bukan hanya penalti kontrak, melainkan potensi berkurangnya volume kontraktual dan kepercayaan pelanggan terhadap kepastian pasokan BYAN.
Baca Juga: IHSG Turun 5 Hari Berturut-turut, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing, Selasa (15/9)
Fundamental Bayan Resources masih menjadi bantalan
Di tengah risiko tersebut, Nafan menilai Bayan Resources masih memiliki bantalan fundamental yang relatif kuat.
Pada 2025, perseroan mencatat cash cost sekitar US$ 32,5 per ton dan berada dalam posisi net cash. Sementara itu, guidance cash cost 2026 berada pada kisaran US$ 36 per ton–US$ 42 per ton.
Keunggulan struktural BYAN juga ditopang oleh integrasi kegiatan tambang, pengolahan, pengangkutan (hauling), serta infrastruktur logistik.
Perseroan mengendalikan sejumlah fasilitas hauling dan terminal batubara sendiri. Integrasi tersebut berpotensi membantu menjaga efisiensi operasional dan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan rantai pasok.
Meski demikian, kekuatan fundamental tersebut belum menghilangkan risiko dari ketidakpastian RKAB dan potensi gangguan pemenuhan kontrak.
Baca Juga: Intip Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Ambles 1,13% ke 6.461, Selasa (15/9)
Saham BYAN masih bearish
Dari sisi pasar saham, Nafan menilai momentum saham BYAN masih berada dalam kondisi bearish.
Oleh karena itu, ia menyarankan investor untuk menerapkan strategi wait and see terhadap saham Bayan Resources.
Investor perlu memantau perkembangan persetujuan revisi RKAB 2026, kontribusi produksi tiga anak usaha terdampak, kemampuan aset lain dalam grup menggantikan volume yang hilang, serta potensi dampak terhadap pelanggan dan target kinerja perseroan.
Faktor-faktor tersebut akan menentukan seberapa besar risiko force majeure berpengaruh terhadap kinerja keuangan dan prospek saham BYAN pada 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














