Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati
Tak berhenti sampai di situ, rasio kecukupan modal BRI diprediksi dapat naik menjadi 23%, dari 19,8% pada kuartal pertama tahun ini. Rasio kecukupan modal ini merupakan kekuatan BRI untuk mendukung PNM dan Pegadaian agar lebih agresif dalam melakukan ekspansi pada segmen ultra mikro nasional.
Meskipun begitu, Suria juga menyoroti kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerbitan saham baru BRI. Harga saham BBRI yang dianggapnya cukup mahal memang kendala umum bagi emiten blue chip.
"Kalau bisa terserap semua saham rights issue itu bagus. Tapi memang ini adalah kendala umum emiten blue chips dalam menerbitkan saham baru. Harganya pasti tinggi dan penghimpunan dananya pasti besar," ungkap Suria.
Bernada serupa, Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan juga menilai, melalui pembentukan holding BUMN UMi, kinerja BBRI akan terpacu signifikan dalam jangka panjang. Optimisme Alfred tersebut berdasar pada kinerja BBRI yang selama ini dikenal positif.
Baca Juga: Ada holding ultra mikro BUMN, begini respons Perbarindo
Selain itu, BRI juga didorong oleh segmen ultra mikro serta UMKM yang berperan besar dalam menyokong perekonomian nasional karena memiliki porsi sekitar 99% dari total unit usaha di Tanah Air. Alhasil, kondisi ini akan membuka sumber pendapatan baru dengan pasar yang lebih luas bagi BRI.
“Kalau bicara segmen, memang segmen mikro yang paling banyak marginnya, jadi kalau untuk kondisi ini dengan melihat ke depan ya tadi pasar akan semakin meyakinkan lagi. Jadi, arahnya semakin tegas lagi untuk BRI,” ucap Alfred.
Sebagai informasi, terkait rights issue dalam rangka pembentukan holding UMi, BRI akan menerbitkan 28,67 miliar saham seri B dengan nilai nominal Rp 50 per saham. Kemudian, pemerintah selaku pemegang saham pengendali BRI akan melakukan inbreng atas 99,9% saham di Pegadaian dan PNM.
Baca Juga: Total rights issue Bank Rakyat Indonesia (BBRI) bisa mencapai Rp 96 triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News