kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Pasar ketakutan, harga emas melonjak ke level tertinggi


Selasa, 25 Februari 2020 / 00:29 WIB
Pasar ketakutan, harga emas melonjak ke level tertinggi
ILUSTRASI. Seorang karyawan memegang emas batangan seberat 1 kilogram di AGR (African Gold Refinery), Entebbe, Uganda, 4 Oktober 2018.

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Harga emas, Senin (24/2) melonjak hingga 2,8% ke level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, karena investor khawatir tentang pertumbuhan ekonomi global seiring kasus virus corona barus yang meningkat tajam di luar China.

Melansir Reuters, harga emas di pasar spot, Senin (24/2), naik 2,1% menjadi US$ 1.677,24 per ons troi pada pukul 23.38 WIB. Tapi, harga emas sempat menyentuh level US$ 1.688,66 atau melonjak 2,8%, yang tertinggi sejak Januari 2013 silam.

Sementara harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman April 2020 naik 1,9% ke posisi US$ 1.680,20 per ons troi. Harga emas berjangka negeri uak Sam, Senin (24/2), sempat melejit 2,2% menjadi US$ 1.684,30 per ons troi.

Baca Juga: Hari ini dua kali naik, harga emas Antam mendaki Rp 15.000

"Pasar ketakutan sekarang," kata Bob Haberkorn, Senior Market Strategist RJO Futures, kepada Reuters, merujuk kekhawatiran terhadap lonjakan virus corona baru di luar China.

"Kekhawatirannya bukan tentang virus (corona) tepatnya, itu dari sudut pandang ekonomi. Dow Jones turun sekitar 1.000 poin, imbal hasil obligasi juga lebih rendah," imbuh Haberkorn.

Ada peningkatan tajam dalam kasus virus corona yang Italia, Korea Selatan, dan Iran laporkan, dengan Afghanistan, Irak, Bahrain, Kuwait, Oman, mengonfirmasi kasus pertama mereka. Tapi, tingkat infeksi di China berkurang.

Baca Juga: Harga emas Antam kembali naik Rp 5.000 hari ini

Di luar China daratan, wabah telah menyebar ke 29 negara dan wilayah, dengan korban tewas sekitar dua lusin, menurut penghitungan Reuters. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khawatir dengan peningkatan jumlah kasus tanpa kaitan yang jelas dengan China.




TERBARU

Close [X]
×