kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Optimisme The Fed masih menekan harga emas


Selasa, 10 September 2019 / 16:31 WIB
ILUSTRASI. Emas batangan


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas global kembali menunjukkan tren melemah usai sempat menyentuh level tertingginya sepanjang 2019 di pekan lalu. Dengan kondisi saat ini, investor emas direkomendasikan untuk melakukan aksi jual. 

Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Selasa (10/9) pukul 16.22 WIB harga emas di pasar spot tercatat berada di level US$ 1.494,11 per ons troi, turun 0,33% dibanding sehari sebelumnya yang ada di US$ 1.499,13 per ons troi.

Analis PT Rifan Financindo Berjangka Puja Purbaya Sakti menjelaskan, harga emas masih terkoreksi setelah sempat merosot tajam pasca pidato Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) Jerome Powell yang menunjukkan optimismenya terhadap kondisi perekonomian Negeri Paman Sam dan menegaskan belum ada sinyal resesi. 

"Meski demikian, langkah pemangkasan suku bunga acuan diekspektasikan bakal tetap ditempuh pada pertemuan The Fed bulan ini," jelas Sakti kepada Kontan.co.id, Selasa (10/9).

Baca Juga: Jelang sore, harga emas spot masih belum beranjak naik di US$ 1.491,18 per ons troi

Dia juga menambahkan, minat risiko kembali bangkit pasca pidato Powell mengesampingkan kemungkinan terjadinya resesi ekonomi. Powell juga menuturkan bahwa The Fed akan bertindak dengan sesuai, untuk mempertahankan ekspansi ekonomi AS. 

Alhasil, pernyataan Powell disambut dengan kenaikan yield obligasi US Treasury ke 2,12% awal pekan ini. Selain karena pasar ekuitas, melemahnya harga emas ditengarai karena mulai surutnya aksi beli oleh bank-bank sentral. 

Adapun, tekanan terhadap emas dalam beberapa perdagangan terakhir terjadi karena sengketa perdagangan AS dan China telah mereda, sekaligus menjadi katalis positif bagi aset berisiko. Begitu pula dengan kecenderungan investor untuk melakukan aksi ambil untuk di saat harga telah masuk ke level overbought juga menjadi sentimen yang membebani emas.

Kendati demikian, para investor tetap waspada ketika Presiden AS Donald Trump membuat kejutan-kejutan terkait tarif dan perang dagang antara AS dan China. 

"Namun pelemahan untuk saat ini nampaknya tidak akan bertahan lama, hal ini terlihat dari Bank Sentral China kembali melakukan pembelian emas sebagai cadangannya, melanjutkan pembelian yang telah dilakukan sejak Desember 2018," ujarnya. 




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×