Reporter: Yuliana Hema | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencetak kinerja operasional yang solid pada kuartal III-2026. Ini dukung oleh rekor produksi bijih nikel, pertumbuhan produksi emas dan peningkatan kontribusi dari portofolio hilirisasi.
MDKA mencatatkan penjualan sebesar US$ 817,3 juta untuk seluruh portofolio komoditasnya sepanjang periode Juli–September 2026, yang disokong oleh Nickel Pig Iron (NPI), bijih limonit dan High Grade Nickel Matte (HGNM).
Adapun sektor emas menyumbang pendapatan US$ 72,9 juta, dengan produksi gabungan Tambang Emas Pani dan Tambang Emas Tujuh Bukit mencapai 50.142 ons sepanjang kuartal ketiga.
Baca Juga: BEI Gandeng Surveyor Indonesia, Perkuat Kesiapan Calon Emiten Sebelum IPO
Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Albert Saputro bilang kinerja kuartal ketiga mencerminkan portofolio usaha yang semakin solid, ditopang perkembangan operasi nikel, emas, dan bisnis hilirisasi MDKA.
“Operasi nikel kami terus berkembang, Tambang Emas Pani kembali mencetak pertumbuhan produksi kuartalan yang kuat, dan bisnis hilirisasi kami mulai memberikan kontribusi dari rentang produk yang lebih luas,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (2/11).
Di segmen emas, Tambang Emas Pani memproduksi 26.331 ons pada kuartal ketiga. Ini naik 69% dibandingkan kuartal sebelumnya seiring peningkatan kapasitas operasi pelindian tumpukan atau heap-leach.
Sementara itu, Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan 23.811 ons emas pada periode yang sama, serta melanjutkan eksplorasi dan optimalisasi untuk memperpanjang umur tambang hingga setidaknya 2033.
Pada portofolio nikel di Sulawesi, produksi bijih saprolit meningkat 68% secara tahunan menjadi 3,3 juta wet metric tonnes (wmt). Sedangkan produksi limonit naik 62% menjadi 9 juta wmt.
Produksi NPI mencapai 20.553 ton kandungan nikel, sementara HGNM tercatat 9.436 ton. Kedua produk tersebut bersama limonit menjadi kontributor penjualan terbesar Grup pada kuartal ketiga.
Kemudian, fasilitas AIM menjual sekitar 290.000 ton asam sulfat dengan nilai penjualan US$ 98,4 juta. Raihan ini didukung harga jual aktual yang menguntungkan serta operasional stabil di kedua lini pabrik.
Produk asam sulfat tersebut juga memasok operasi HPAL di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park, sehingga memperkuat integrasi bisnis hilirisasi MDKA dalam rantai pengolahan nikel.
“Lingkungan harga yang lebih kuat diperkirakan akan mendukung perbaikan margin, sementara AIM terus memperkuat integrasi hilirisasi Merdeka dengan memasok operasi HPAL di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park,” jelas Albert.
Di sisi lain, operasi Wetar menghasilkan 1.265 ton tembaga pada kuartal ketiga, dengan fokus mengoptimalkan ekstraksi dari material heap-leach melalui metode re-fluffing dan bioleaching yang sedang dijalankan.
Proses bioleaching berhasil memulihkan 35 ton tembaga selama kuartal ketiga 2026. Dus, MDKA melanjutkan optimalisasi untuk meningkatkan tingkat ekstraksi serta mendukung kinerja produksi pada periode.
Untuk pengembangan jangka panjang, Proyek Tembaga Tujuh Bukit telah melewati tahap studi kelayakan, dengan optimalisasi rencana tambang bawah tanah dan potensi tambang terbuka dalam pengembangan berikutnya.
Di Tambang Emas Pani, pembangunan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) Tahap 1 berlanjut setelah desain rekayasa dasar rampung, peralatan utama diamankan, dan kontraktor konstruksi mulai dimobilisasi di lokasi proyek.
MDKA menargetkan penyelesaian sisa area landasan CIL pada akhir Desember 2026. Fasilitas tahap pertama tersebut dirancang memiliki kapasitas pemrosesan terpasang 12 juta ton per tahun.
MDKA juga merencanakan fasilitas CIL kedua dengan skala sebanding. Jika kedua fasilitas berhasil dibangun dan beroperasi, kapasitas produksi emas ditargetkan mencapai 500.000 ons per tahun hingga 700.000 ons per tahun.
Baca Juga: BEI Depak Saham HSC dari Perhitungan IHSG, Ini Arti dan Perbedaan dengan Delisting
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














