Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Indeks Nasdaq kembali mencatat kinerja lebih lemah dibandingkan indeks utama Wall Street lainnya pada perdagangan Selasa (28/4/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menjadi motor penggerak saham teknologi.
Melansir Reuters, Indeks Nasdaq Composite turun 196,43 poin atau 0,79% ke level 24.690,67 pada pukul 09.59 waktu AS.
Sementara itu, S&P 500 melemah 33,41 poin atau 0,47% ke 7.140,50. Berbeda arah, Dow Jones Industrial Average justru naik 57,59 poin atau 0,12% ke 49.225,38.
Baca Juga: Indeks Dollar AS Rebound Terbatas, Arah The Fed dan Geopolitik Masih Membayangi
Tekanan utama berasal dari sektor teknologi setelah laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa OpenAI pengembang ChatGPT tidak mencapai target internal untuk pengguna mingguan dan pendapatan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait kemampuan perusahaan dalam mendukung belanja besar untuk infrastruktur pusat data.
“Ini menekan Nasdaq dan S&P karena teknologi dan layanan komunikasi menyumbang sekitar 40% dari indeks,” ujar Art Hogan, Chief Market Strategist di B Riley Wealth.
Ia menambahkan, jika OpenAI mengalami perlambatan, hal itu dapat mengubah peta kepemimpinan di sektor teknologi.
Meski bersifat perusahaan privat, kinerja OpenAI dinilai menjadi barometer penting permintaan AI global dan berdampak luas terhadap pasar saham.
Baca Juga: Aneka Tambang (ANTM) Raih Kinerja Keuangan Positif pada Kuartal I-2026
Tekanan juga terlihat pada saham-saham teknologi besar. Oracle turun 2,9%, sementara Nvidia, AMD, dan Arm Holdings masing-masing melemah 2,4%, 3,5%, dan 6,3%. Saham CoreWeave yang didukung Nvidia juga turun 2%.
“Satu kesalahan dalam permintaan terkait AI atau belanja modal dari salah satu dari empat saham Magnificent 7 yang melaporkan kinerja bisa membuat pasar mempertanyakan reli terbaru,” tulis Dennis Follmer, Chief Investment Officer Montis Financial.
Sektor teknologi informasi pada S&P 500 tercatat turun 1,3% dan menjadi sektor dengan kinerja terlemah. Enam dari sebelas sektor utama S&P juga berada di zona merah.
Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor tambahan yang membebani sentimen pasar.
Konflik Iran–AS yang berkepanjangan membuat harga minyak tetap tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Bervariasi Selasa (28/4), Nasdaq Terseret Sentimen Negatif AI
Dalam perkembangan terbaru, Uni Emirat Arab juga dilaporkan keluar dari kelompok produsen minyak OPEC, yang menambah ketidakpastian pasar energi global.
Harga minyak Brent tercatat naik sekitar 53% dibandingkan level sebelum konflik, dengan posisi masih di atas US$110 per barel.
Di sisi korporasi, United Parcel Service (UPS) turun 5,7% setelah melaporkan penurunan laba kuartalan.
General Motors justru memangkas saham 3% meski menaikkan proyeksi laba tahunan, sementara Coca-Cola menguat 5,5% setelah revisi naik proyeksi laba.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













