kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Nasdaq Masuk Fase Koreksi, Wall Street Tertekan Imbas Ketegangan Timur Tengah


Jumat, 27 Maret 2026 / 05:00 WIB
Nasdaq Masuk Fase Koreksi, Wall Street Tertekan Imbas Ketegangan Timur Tengah
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Kamis (26/3/2026), dipimpin oleh indeks Nasdaq yang anjlok lebih dari 2% dan resmi masuk fase koreksi.

Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara AS, Israel, dan Iran.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,01% ke 45.960,11. Sementara itu, S&P 500 merosot 1,74% menjadi 6.477,16, dan Nasdaq Composite jatuh 2,38% ke level 21.408,08.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Konflik Timur Tengah Memicu Kekhawatiran Inflasi

Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam satu hari bagi Nasdaq dan S&P 500 sejak 20 Januari.

Nasdaq kini telah turun sekitar 10,7% dari rekor penutupan tertingginya pada 29 Oktober, menandai masuknya indeks tersebut ke dalam fase koreksi, yaitu penurunan lebih dari 10% dari level puncak terbaru.

Sentimen pasar tertekan oleh lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz.

Harga minyak mentah AS naik 4,6%, sementara Brent melonjak 5,7%, memperkuat kekhawatiran inflasi global.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran harus segera mencapai kesepakatan dengan AS atau menghadapi serangan lanjutan.

Baca Juga: Wall Street Anjlok Imbas Pasar Kerja AS yang Melemah dan Kenaikan Harga Minyak

Ia bahkan menyebut kemungkinan penguasaan minyak Iran sebagai opsi. Di sisi lain, pejabat Iran menilai proposal AS untuk mengakhiri konflik selama hampir empat minggu sebagai “tidak adil”, meski menegaskan jalur diplomasi masih terbuka.

Pasar sempat sedikit meredakan tekanan setelah Trump menyatakan akan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April, atas permintaan pemerintah Iran, sembari menyebut pembicaraan berjalan baik.

Namun, ketidakjelasan arah konflik membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.

“Banyak sinyal yang saling bertentangan, ini benar-benar seperti kabut perang yang mendorong pasar,” kata Doug Beath, ahli strategi ekuitas global.

Tekanan jual juga diperparah oleh aksi ambil untung setelah reli sebelumnya, ketika investor sempat berharap akan terjadi de-eskalasi konflik.

Secara sektoral, mayoritas sektor di S&P 500 melemah. Sektor komunikasi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,5%, diikuti sektor teknologi yang turun 2,7%.

Sebaliknya, sektor energi justru menguat 1,6% seiring kenaikan harga minyak, sementara utilitas naik tipis 0,2%.

Saham perusahaan teknologi besar turut menjadi pemberat pasar. Saham Meta Platforms anjlok hampir 8% dan Alphabet turun lebih dari 3% setelah putusan juri dalam gugatan yang menuduh perusahaan media sosial merugikan anak-anak.

Di sektor teknologi, saham semikonduktor juga tertekan. Indeks Philadelphia Semiconductor jatuh 4,8% setelah sempat menguat dalam tiga sesi sebelumnya.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Menguat, Investor Optimistis Deeskalasi Konflik Timur Tengah

Saham Nvidia, yang dikenal sebagai pemimpin chip kecerdasan buatan, turun lebih dari 4% dan menjadi salah satu penekan utama Dow Jones.

Dari sisi global, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperingatkan konflik Timur Tengah telah mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Penutupan hampir total Selat Hormuz berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi.

Kondisi ini membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve, berada dalam posisi sulit terkait kebijakan suku bunga. Pelaku pasar kini tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga tahun ini, padahal sebelumnya dua kali pemangkasan diproyeksikan terjadi sebelum konflik memanas.

Sementara itu, data ekonomi menunjukkan klaim pengangguran mingguan di AS naik tipis sesuai ekspektasi, mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih stabil dan memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga sambil memantau dampak konflik.

Baca Juga: Wall Street Turun, Imbas Laporan Keuangan yang Beragam dan Ketegangan Dagang AS-China

Di sisi lain, saham perusahaan tambang emas yang tercatat di AS justru melemah lebih dari 4% seiring turunnya harga emas lebih dari 2%.

Dari sisi pergerakan saham, jumlah saham yang turun jauh lebih banyak dibanding yang naik. Di Bursa New York, rasio saham turun terhadap naik mencapai 3,16 banding 1. Sementara di Nasdaq, rasio tersebut mencapai 2,47 banding 1.

Volume transaksi tercatat relatif ringan, dengan sekitar 16,5 miliar saham berpindah tangan, lebih rendah dibanding rata-rata 20,54 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×