kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Indeks Dollar AS Rebound Terbatas, Arah The Fed dan Geopolitik Masih Membayangi


Selasa, 28 April 2026 / 21:08 WIB
Indeks Dollar AS Rebound Terbatas, Arah The Fed dan Geopolitik Masih Membayangi
ILUSTRASI. Kredit Valuta Asing (valas) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.I - JAKARTA. Indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) mulai menguat tipis setelah sebelumnya sempat melemah dari level 99,3 ke kisaran 98,5 pada Senin (27/4/2026). 

Pergerakan ini mencerminkan pasar yang masih mencari arah di tengah dinamika geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter.

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX menjelaskan, pelemahan dolar sebelumnya dipicu berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven seiring munculnya sinyal de-eskalasi konflik dari proposal Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. 

"Hal ini mendorong peralihan sementara ke aset berisiko serta memicu aksi ambil untung pada dolar AS," ujar Amru kepada Kontan, Selasa (28/4/2026).

Di saat yang sama, ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve yang dinilai tidak semakin agresif turut membatasi ruang penguatan dolar.

Baca Juga: Aneka Tambang (ANTM) Raih Kinerja Keuangan Positif pada Kuartal I-2026

Namun, dalam perkembangan terbaru, indeks dolar mulai menunjukkan penguatan secara bertahap. Meski demikian, Amru menilai pergerakan ini belum mencerminkan perubahan tren yang signifikan.

"Pergerakan saat ini lebih mencerminkan fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. DXY masih bertahan di area support, namun belum menunjukkan sinyal kuat untuk memasuki tren penurunan yang berkelanjutan," kata Amru.

Ke depan, arah indeks dolar dinilai masih sangat bergantung pada sejumlah faktor eksternal. 

Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta rilis data inflasi dan aktivitas ekonomi. 

Selain itu, perkembangan konflik di Timur Tengah dan perubahan sentimen risiko global juga menjadi penentu utama.

Untuk jangka pendek, Amru memperkirakan indeks dolar bergerak dalam rentang 97,5–100,0 sepanjang Mei 2026. 

"Potensi pelemahan masih terbuka apabila ketegangan geopolitik mereda dan tekanan inflasi terkendali," ucap Amru. 

Sebaliknya, risiko penguatan kembali juga tetap ada jika konflik meningkat atau inflasi bertahan tinggi sehingga mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat.

Dari sisi strategi, Amru menyarankan investor untuk mengombinasikan pendekatan hati-hati dan oportunistis. 

Investor dapat mulai masuk ke aset berisiko saat sentimen membaik, namun tetap mempertahankan sebagian portofolio pada aset safe haven sebagai lindung nilai.

“Daripada menunggu situasi benar-benar jelas, lebih baik masuk secara bertahap agar risiko tetap terjaga sekaligus bisa memanfaatkan momentum pasar,” kata Amru.

Baca Juga: Program PINTAR Dorong Nabung Reksadana, Ini Skema Insentif yang Diusulkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×