Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak hati-hati pada awal perdagangan Senin (26/10/2026), di tengah koreksi harga minyak dunia dari level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Investor juga mencermati serangkaian pertemuan bank sentral dan laporan kinerja perusahaan teknologi besar yang akan menguji optimisme pasar terhadap sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1% menjadi US$ 115,48 per barel. Koreksi terjadi setelah harga minyak melonjak dalam sepekan terakhir akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi menyusul serangan kelompok Houthi di Arab Saudi.
Baca Juga: Dirut Cipta Perdana (PART) Tambah Porsi Kepemilikan Saham, Ini Tujuannya
Pada pekan lalu, kontrak berjangka Brent melonjak 6,2% dan mencatatkan penutupan mingguan tertinggi sejak pertengahan 2022.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,1% menjadi US$ 102,08 per barel pada awal perdagangan Senin.
Pergerakan harga minyak turut dipengaruhi laporan mengenai upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Para mediator Qatar dilaporkan berada di Teheran pada Minggu untuk mengupayakan deeskalasi konflik, berkoordinasi dengan Amerika Serikat (AS).
Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang melemah 0,8% setelah terkoreksi 4% sepanjang pekan lalu. Indeks saham Korea Selatan turun 0,4%, sehingga penurunannya sejak awal bulan ini mendekati 19%.
Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terkoreksi 0,1%. Di pasar berjangka AS, kontrak S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 0,2%. Kontrak EUROSTOXX 50 di Eropa menguat 0,2%, sedangkan DAX naik 0,1%.
Baca Juga: Musim Laporan Keuangan Kuartal III-2026, Ini Sektor Saham yang Layak Dicermati
Pasar cermati arah suku bunga
Selain perkembangan geopolitik dan harga energi, investor mengantisipasi keputusan sejumlah bank sentral pekan ini. Lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter global.
Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman mengatakan, bank sentral di negara-negara utama dunia masih menghadapi tekanan akibat perubahan kondisi makroekonomi sepanjang tahun ini.
Menurut dia, siklus kenaikan suku bunga diperkirakan berlangsung relatif terbatas. Bank sentral utama dari kelompok G3 diperkirakan mempertahankan suku bunga untuk sementara, sedangkan Kanada diperkirakan mulai memasuki siklus pengetatan.
Baca Juga: Harga Melorot, Saham Ini Siap Bagikan Dividen Interim, Yield Setara Bunga Deposito
Kasman juga memperkirakan Inggris dan Swedia akan memulai kenaikan suku bunga pada bulan depan.
Bank sentral Selandia Baru secara luas diperkirakan menaikkan suku bunga pada Rabu.
Sementara itu, pasar memperkirakan Federal Reserve AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan Oktober, tetapi peluang kenaikan pada Desember diperkirakan mencapai 80%.
Ekspektasi serupa juga tercermin pada prospek kebijakan Bank Sentral Jepang dan Bank Sentral Eropa.
Investor turut menantikan data inflasi inti AS pada September yang diperkirakan bertahan di level 3,1%. Perekonomian AS juga diproyeksikan tumbuh 3,2% secara tahunan dalam kuartal yang dilaporkan, didukung antara lain oleh besarnya belanja untuk pembangunan pusat data.
Analis Goldman Sachs memperkirakan, The Fed akan menunda kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi berpotensi menaikkannya kembali pada Desember.
Risiko utama, menurut Goldman Sachs, berasal dari harga kontrak berjangka minyak yang berada di atas proyeksi mereka akibat kekhawatiran terhadap potensi konflik lanjutan dengan Iran.
Guncangan energi yang lebih besar dan berkepanjangan dapat meningkatkan kekhawatiran bank sentral terhadap meluasnya tekanan inflasi.
Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (23 Oktober 2026), UNTR dan JPFA Meroket
Laporan keuangan raksasa teknologi jadi sorotan
Dari sisi korporasi, investor menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon.
Sekitar sepertiga perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan mereka.
Hasil kinerja Intel dan Sandisk juga berpotensi memengaruhi sentimen terhadap saham-saham yang terkait dengan perdagangan AI.
Konsensus pasar memperkirakan Microsoft membukukan pendapatan US$ 90,6 miliar dengan laba per saham yang disesuaikan sebesar US$ 4,73. Amazon diperkirakan mencatatkan pendapatan US$ 202 miliar dan laba per saham sekitar US$ 1,97.
Sementara itu, pendapatan Alphabet diproyeksikan mencapai US$ 128 miliar dengan laba per saham US$ 3.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham HRUM, ANTM, CUAN hingga MMIX untuk Senin (26/10)
Valuasi saham juga menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 5%, lebih rendah dibandingkan puncak 5,36% yang tercatat pada awal bulan ini.
Di pasar valuta asing, yen Jepang bertahan di level 157 per dollar AS setelah menguat sekitar 0,8% sepanjang pekan lalu. Euro bergerak stabil di US$ 1,1204, sedangkan pound sterling berada di US$ 1,3346.
Di pasar komoditas, harga emas spot naik tipis ke sekitar US$ 4.001 per ons troi setelah turun lebih dari 4% sepanjang pekan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














