Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten di sektor konsumer diproyeksikan masih mencatatkan kinerja positif pada kuartal III-2026.
Dalam riset yang dipublikasikan BRI Danareksa Sekuritas, total pendapatan emiten konsumer pada kuartal III-2026 diprediksi tumbuh 5,9% secara tahunan (yoy) dan 4% secara bulanan (qoq).
Pertumbuhan pendapatan di sektor tersebut terutama ditopang oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang diproyeksikan tumbuh 7,5% dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) naik 7,3%.
Sementara itu, pertumbuhan dua emiten lain relatif berimbang, yakni PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 5% dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tumbuh 4,8%.
Baca Juga: Impack Pratama (IMPC) Bakal Tebar Dividen Interim Rp 273,42 Miliar, Cek Jadwalnya
"Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan sektor konsumer pada sembilan bulan pertama tahun 2026 akan mencapai 7,6% yoy. Secara umum sejalan dengan estimasi kami dan konsensus untuk tahun penuh 2026," kata analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim dalam riset yang dipublikasikan, Jumat (9/10/2026).
Marjin Kotor Tertekan
Dari sisi profitabilitas, Christy memperkirakan marjin kotor masih tertekan pada kuartal III-2026 dengan penurunan sekitar 60 basis poin (bps) qoq akibat volatilitas biaya input.
Dampak fenomena El Nino juga diprediksi mencapai puncaknya pada kuartal IV-2026 hingga kuartal I-2027.
Meski margin kotor tertekan, Christy memperkirakan marjin operasi tetap stabil di 15,7%.
Proyeksi Kinerja per Emiten
ICBP
Christy memperkirakan pendapatan kuartal III-2026 tumbuh 7,5% yoy, secara umum sejalan dengan estimasi tahun penuh 2026. Sementara, margin kotor diprediksi turun ke 33% pada 3Q26 atau minus 80 bps qoq, mencerminkan kenaikan biaya bahan baku gandum, kentang, dan minyak goreng, sementara harga mi tidak berubah.
Baca Juga: BEI Tetapkan Harga Teoretis Rights Issue Bukit Uluwatu (BUVA)
"Kami memperkirakan laba inti ICBP turun 12,4% yoy di kuartal III-2026 dan tumbuh 3% yoy pada periode Januari hingga September, terutama akibat dampak proyeksi kerugian kurs," ujar Christy.
MYOR
Pendapatan kuartal III-2026 diperkirakan naik 7,3% yoy dan 17,8% qoq, sehingga pertumbuhan sembilan bulan pertama mencapai 3% yoy. Penjualan domestik diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan, sedangkan penjualan ekspor ke pasar seperti Filipina masih lesu akibat daya beli lemah, downtrading, dan persaingan.
Marjin kotor diprediksi melemah ke 23,9% atau turun 90 bps qoq, namun masih lebih tinggi secara tahunan, terutama karena harga gula yang naik. Dengan demikian, marjin kotor periode Januari hingga September diperkirakan 25,1%, sedikit di atas panduan manajemen di kisaran 24%-25%.
UNVR
Pendapatan kuartal III-2026 diperkirakan tumbuh 5% yoy dan 3,9% qoq, sehingga pertumbuhan sembilan bulan pertama tahun ini mencapai 6,3% yoy. Manajemen menyebut dampak kenaikan harga jual rata-rata (ASP) pada awal Juni 2026 akan semakin terlihat di kuartal III, yang menopang marjin.
Dengan begitu, Marjin kotor dan EBIT kuartal III-2026 masing-masing diperkirakan 45,1% dan 13,1%, dengan laba di Januari hingga September tumbuh datar 0,9% yoy.
Baca Juga: Rupiah Spot Berbalik Menguat 0,07% ke Rp 17.887 per Dolar AS pada Rabu (14/10) Siang
INDF
Pendapatan kuartal III-2026 diperkirakan naik 4,8% yoy dan 3,2% qoq, terutama didorong ICBP dan Bogasari. Marjin kotor diprediksi turun tipis 30 bps qoq ke 32%, karena kenaikan harga Bogasari sebesar 1%-2% pada Juli 2026 diperkirakan sepenuhnya tercermin pada kuartal III.
Rekomendasi Overweight Saham Konsumer
Meski kuartal III umumnya memiliki momentum musiman yang lebih lemah, diskusi dengan sejumlah emiten menunjukkan permintaan dasar masih relatif tangguh.
BRI Danareksa Sekuritas pun mempertahankan peringkat overweight untuk sektor konsumer, dengan rekomendasi buy MYOR dan ICBP di target harga Rp 2.500 masing-masing Rp 10.600. kedua emiten ini dijadikan sebagai pilihan utama. Adapun UNVR dan INDF disarankan buy pada level target harga masing-masing Rp 2.500 dan Rp 9.200 per saham.
BRI Danareksa Sekuritas juga menilai saat ini, valuasi sektor konsumer berada di level menarik, yakni price to earnings ratio (PER) 9,3 kali berdasarkan proyeksi 2026, atau 1,2 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahunnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














