kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.065   -51,80   -0,85%
  • KOMPAS100 792   -2,14   -0,27%
  • LQ45 597   -2,10   -0,35%
  • ISSI 211   -2,17   -1,02%
  • IDX30 338   -1,21   -0,36%
  • IDXHIDIV20 412   -3,14   -0,76%
  • IDX80 90   -0,27   -0,30%
  • IDXV30 111   -1,10   -0,99%
  • IDXQ30 108   -0,23   -0,22%

MSCI Beri Sinyal Negatif ke Indonesia, Status RI Diperkirakan Tetap Freeze


Selasa, 23 Juni 2026 / 14:39 WIB
MSCI Beri Sinyal Negatif ke Indonesia, Status RI Diperkirakan Tetap Freeze
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tinjauan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia dinilai memberikan sinyal negatif bagi sentimen investor. Penilaian tersebut menunjukkan pergeseran fokus dari persoalan aksesibilitas pasar menjadi isu tata kelola, transparansi, dan kepercayaan investor.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim dalam riset mengatakan MSCI menurunkan penilaian aspek Information Flow Indonesia dari sebelumnya positif menjadi negatif. Ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap transparansi struktur kepemilikan saham, praktik perdagangan yang diduga terkoordinasi, serta standar keterbukaan informasi bagi investor internasional.

"Penurunan penilaian ini merupakan sinyal negatif bagi sentimen investor. Fokus perhatian MSCI kini telah bergeser dari isu akses pasar yang bersifat teknis ke persoalan kepercayaan dan tata kelola, yang umumnya lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki," ujar Jeffrosenberg dalam riset pada 19 Juni 2026.

Baca Juga: MSCI Putuskan Status Indonesia, Risiko Outflow US$ 13 Miliar Mengintai

Menurut MSCI, Indonesia menjadi satu dari hanya dua pasar negara berkembang yang mengalami penurunan skor aksesibilitas tahun ini, bersama Turki. Sementara sebagian besar pasar negara berkembang lainnya mencatat skor yang stabil atau membaik.

MSCI menyoroti sejumlah persoalan, termasuk keterbatasan transparansi kepemilikan saham, dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi yang berpotensi memengaruhi proses pembentukan harga yang wajar, serta belum optimalnya ketersediaan informasi dan keterbukaan perusahaan dalam bahasa Inggris bagi investor global.

Di sisi lain, MSCI juga kembali menegaskan sejumlah kendala aksesibilitas yang telah lama menjadi perhatian, seperti pembatasan di pasar valuta asing, terbatasnya fasilitas peminjaman saham (securities lending), pembatasan transaksi short selling, serta belum tersedianya pasar offshore rupiah yang efisien.

Meski demikian, regulator Indonesia dinilai telah mulai mengambil langkah untuk mengatasi sejumlah persoalan tersebut. Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain pengetatan aturan keterbukaan pemegang saham, publikasi daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), serta rencana peningkatan persyaratan minimum free float.

Jeffrosenberg menilai skenario dasar sekaligus skenario terbaik saat ini adalah status freeze yang diterapkan MSCI terhadap Indonesia tetap berlanjut.

"Kemungkinan normalisasi indeks pada tahun ini kini telah menurun secara signifikan. Kami memperkirakan status freezeakan tetap berlaku, sementara Indonesia masih berada dalam pengawasan ketat MSCI," katanya.

Ia menambahkan, meskipun risiko penghapusan Indonesia dari indeks pasar berkembang (Emerging Markets/EM) belum menjadi skenario utama, sebagian investor yang lebih berhati-hati tetap berpotensi mengurangi eksposur investasinya karena skenario terburuk tersebut masih mungkin terjadi, meski probabilitasnya relatif rendah.

Ke depan, Indonesia diperkirakan dapat menghindari penurunan status lebih lanjut pada tahun ini. Namun, pengawasan dari MSCI kemungkinan masih akan berlanjut hingga regulator mampu menunjukkan perbaikan yang nyata dalam aspek transparansi, standar keterbukaan informasi, dan pengawasan aktivitas perdagangan di pasar modal.

Baca Juga: Defisit APBN 2026 Tekan Pasar Obligasi Korporasi, Yield Berpotensi Naik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×