Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. Perbaikan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service (Moody's) berdampak positif bagi persepsi risiko investasi dalam negeri.
Pada Rabu (8/2), Moody's memperbaiki outlook rating pemerintah Indonesia dari semula stabil menjadi positif. Ini sekaligus mengafirmasi rating Tanah Air di level Baa3. Pemicu utamanya berasal dari penurunan kerentanan Indonesia terhadap guncangan eksternal.
Serta penerapan kebijakan efektif untuk menjaga reformasi struktural sekaligus membenahi sisi fiskal dan regulasi.
Alhasil, persepsi risiko investasi dalam negeri yang tercermin pada angka credit default swap (CDS) Indonesia bertenor lima tahun pada Jumat (10/2) pukul 15.47 WIB tercatat di level 136,73. Ini membaik 4,46% dari posisi pada Rabu (8/2) yang mencapai 143,12.
Semakin besar angka CDS mengindikasikan risiko investasi kawasan tersebut semakin rentan. Sebaliknya, jika angka CDS menyusut, risiko investasi daerah tersebut kian menyusut.
Direktur Infovesta Utama Parto Kawito berpendapat, perbaikan outlook dari Moody's memicu penurunan CDS Indonesia. Ada beberapa faktor yang mendorongnya.
Pertama, terkendalinya pergerakan rupiah di hadapan dollar Amerika Serikat (AS). Sejak awal tahun, valuasi rupiah bergulir pada kisaran Rp 13.281 - Rp 13.476 per dollar AS.
Kedua, perbaikan lembaga pemerintah melalui efisiensi. "Faktor lainnya penurunan subsidi Bahan Bakar Minyak serta substitusi impor dengan produksi dalam negeri," terangnya.
Anil Kumar, Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia sepakat, angin segar yang dibawa Moody's menunjukkan tingkat risiko investasi, khususnya instrumen surat berharga negara (SBN) menjadi lebih baik. Katalis positif bersumber dari membaiknya current account defisit dan reformasi birokrasi Indonesia.
Apalagi anggaran belanja infrastruktur pemerintah Indonesia juga menopang pertumbuhan ekonomi. Sepanjang tahun 2016, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,02% (YoY), melampaui performa tahun 2015 yang tercatat 4,79% (YoY).
"Aksi Moody's justru memberikan tekanan kepada Standard & Poor's (S&P) untuk menaikkan rating Indonesia menjadi investment grade pada Mei 2017. Kalau S&P tidak menaikkan, justru akan berdampak buruk bagi kredibilitasnya sendiri," terangnya.
Analis Fixed Income MNC Securities I Made Adi Saputra menuturkan, perbaikan outlook Indonesia dari Moody's mengindikasikan ada pemulihan struktural baik dari segi moneter maupun fiskal.
"Ini sinyal bagus bagi investor. Spread yield obligasi berdenominasi dollar AS milik Indonesia dengan negara tetangga makin mengecil," ujarnya.
Mengacu Bloomberg per Senin (13/2), spread obligasi dollar AS milik Indonesia dengan obligasi berjenis sama besutan negara Asia lainnya telah mencapai level terendah dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Made optimistis, spread tersebut akan terus menyusut. Dengan catatan, S&P mengerek rating Indonesia ke level investment grade pada Mei 2017. "Tapi kalau review negara lainnya juga bagus maka spread-nya bisa tetap atau melebar lagi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













