Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) membukukan pertumbuhan pendapatan pada semester I-2026. Namun, kenaikan beban pokok pendapatan membuat laba DCII tertekan.
Melansir laporan keuangan per 30 Juni 2026, DCII mencatat pendapatan sebesar Rp 1,77 triliun. Nilai tersebut meningkat 10,92% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dibandingkan realisasi semester I-2025.
Pendapatan DCII masih didominasi jasa kolokasi yang mencapai Rp 808,40 miliar. Sementara itu, pendapatan lainnya tercatat sebesar Rp 49,69 miliar dengan mayoritas pendapatan masih berasal dari pelanggan pihak ketiga.
Baca Juga: IHSG Ambruk 1,88% ke 6.196, Top Losers LQ45: CUAN, BUMI, DEWA, Jumat (24/7)
Di sisi lain, beban pokok pendapatan meningkat 46,75% secara tahunan menjadi Rp 813,72 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, beban pokok pendapatan DCII tercatat sebesar Rp 554,42 miliar.
Kenaikan beban tersebut menekan profitabilitas DCII. Laba usaha turun 9,61% secara tahunan menjadi Rp 882,86 miliar, sedangkan laba periode berjalan menyusut 9,79% menjadi Rp 732,57 miliar.
Adapun laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 377,75 miliar. Angka tersebut turun 9,81% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp 418,84 miliar.
Equity Research Analyst KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti mengatakan, prospek pertumbuhan jangka panjang DCII masih terjaga. Ini didukung ekspansi berkelanjutan di pusat data yang telah beroperasi serta proyek Bintan Data Center Park.
Adapun proyek Bintan Data Center Park masih berada pada tahap awal pengembangan. Kawasan tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 1.000 megawatt (MW) di atas lahan seluas 700 hektare.
Atikah menjelaskan pengembangan proyek tersebut didukung status Bintan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Free Trade Zone (FTZ). Lokasinya yang berdekatan dengan Singapura juga menjadi nilai tambah bagi pengembangan pusat data.
“Namun saat ini, saham DCII diperdagangkan pada, rasio price to earnings (P/E) DCII mencapai 493,7 kali atau berada di batas atas kisaran historis lima tahun terakhir yang berkisar 123,2 kali hingga 493,7 kali,” tulisnya dalam riset yang dirilis 16 Juli 2026.
Atikan juga menyoroti likuiditas perdagangan saham DCII yang masih terbatas. Di mana, rata-rata nilai transaksi harian hanya sekitar Rp 479,8 juta sehingga berkontribusi terhadap tingginya volatilitas harga saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














