Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki obligasi jatuh tempo paruh kedua 2026. Era suku bunga tinggi dan lesunya rupiah pun menjadi tantangan bagi mereka dalam menuntaskan kewajibannya tersebut.
Dalam catatan Kontan, Pefindo mencatat bahwa total surat utang korporasi yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp162,72 triliun. Surat utang korporasi yang jatuh tempo kuartal III sebesar Rp63,95 triliun dan kuartal IV sebesar Rp43,56 triliun.
Sebagian besar surat utang jatuh tempo berasal dari industri multifinance, pulp & paper, dan perbankan.
Sebagai gambaran, suku bunga Bank Indonesia saat ini ada di level 5,75%. Sementara, rupiah di pasar spot melemah 0,06% secara harian ke Rp17.804 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (19/6/2026).
Salah satu emiten dengan obligasi jatuh tempo tahun ini adalah PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Emiten properti ini punya Obligasi Berkelanjutan IV Summarecon Agung Tahap II Tahun 2023 Seri A bernilai pokok Rp468 miliar yang jatuh tempo pada 19 Oktober 2026.
Baca Juga: Masuk ke Bisnis Tambang Nikel, Hotel Fitra (FITT) Bakal Jual Aset Hotel
SMRA pun mempertimbangkan sejumlah strategi dalam membayar kewajibannya. Direktur SMRA, Lydia Tjio mengatakan, skema refinancing yang paling murah untuk dilakukan di tengah kondisi ini adalah melalui arus kas perusahaan.
Sebab, kenaikan suku bunga acuan bakal turut mengerek naiknya suku bunga kredit perbankan, sehingga berisiko memberikan biaya pendanaan yang lebih mahal.
“Untuk setiap pembiayaan, kami juga akan berusaha dan berupaya meningkatkan sales. Ini untuk memberikan dana sendiri yang dapat kami peroleh untuk pembiayaan apa pun,” katanya.
Meski begitu, Lydia menegaskan, pihaknya tidak menutup kemungkinan melakukan kombinasi pembiayaan atas surat utang jatuh tempo. Bahkan, SMRA bisa saja kembali menerbitkan surat utang di tengah kondisi saat ini, dengan tenor tertentu sebagai strategi lanjutannya.
“Tidak menutup kemungkinan untuk kami cari refinancing dari bank lain yang bisa memberikan penawaran yang lebih rendah dari yang ada, dan juga untuk obligasi,” paparnya.
Melansir laman Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), emiten lain yang punya obligasi jatuh tempo di tahun 2026 adalah PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), dan PT Indosat Tbk (ISAT).
Lalu, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).
Baca Juga: INTA Perkuat Bisnis Alat Berat, Kurangi Utang dan Dorong Pendapatan Berkelanjutan
Bahkan, INKP punya empat surat utang berdenominasi dolar yang jatuh tempo di tahun 2026. Yaitu, Obligasi USD Berkelanjutan I Indah Kiat Pulp & Paper Tahap I Tahun 2023 Seri A, Obligasi USD Berkelanjutan I Indah Kiat Pulp & Paper Tahap I Tahun 2023 Seri B, Obligasi USD Berkelanjutan II Indah Kiat Pulp & Paper Tahap III Tahun 2025 Seri A, dan Obligasi USD Berkelanjutan II Indah Kiat Pulp & Paper Tahap IV Tahun 2025 Seri A. Masing-masing obligasi itu memiliki nilai US$1,49 juta, US$900 ribu, US$1,51 juta, dan US$5,82 juta.
Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, semua emiten tersebut mayoritas masih memiliki ruang untuk memenuhi kewajiban 2026. Namun, masing-masing emiten memang memiliki kemampuan yang berbeda tergantung dari kualitas arus kas, leverage, dan akses pendanaan.
“Yang akan lebih mahal justru cost of refinancing, karena imbal hasilnya lebih mahal,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).
Emiten-emiten besar dengan akses pasar yang baik, seperti ISAT dan MEDC, dinilai memiliki probabilitas bayar tepat waktu yang tinggi.
“Sementara, emiten dengan leverage tinggi dan sektor bermasalah, seperti WIKA dan WSKT serta emiten yang sangat bergantung pada siklus komoditas seperti BUMI, risiko tekanan arus kas dan negosiasi ulang skema pembayaran lebih besar,” ungkapnya.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, ISAT, MDKA, BRPT, TPIA, TBIG, SMAR, dan PALM juga masih memiliki kemampuan fundamental yang baik untuk memenuhi kewajibannya.
Meskipun surat utang yang diterbitkan dalam dolar AS, INKP juga dinilai masih memiliki kemampuan membayar obligasi jatuh tempo tahun ini. Ini salah satunya didorong juga dengan pendapatan INKP yang dicatat dalam dolar AS.
Perlu diperhatikan juga, kas dan setara kas akhir tahun INKP sebesar US$592,90 juta per kuartal I 2026, turun dari US$2,01 miliar di periode sama tahun lalu. Debt to equity ratio (DER) INKP kini ada di 80,78%.
Baca Juga: Harga Minyak Turun 23%, Ini Prospek Saham Jasa Migas ke Depan
“Mereka masih didukung arus kas operasional yang relatif solid, akses pendanaan yang baik, serta peluang refinancing melalui obligasi baru maupun pinjaman perbankan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.
Namun, tekanan lebih besar berpotensi dialami emiten dengan leverage tinggi dan arus kas yang masih terbatas, seperti Wijaya Karya, Waskita Karya, Global Mediacom, dan Adhi Commuter Properti.
Bagi kelompok ini, pembayaran utang dapat menekan likuiditas, meningkatkan beban bunga, serta mengurangi ruang ekspansi bisnis.
“Untuk menjaga kinerja, langkah yang perlu dilakukan para emiten antara lain refinancing utang, divestasi aset non-inti, mempercepat penjualan aset atau proyek, meningkatkan efisiensi operasional, serta menjaga belanja modal secara lebih selektif agar arus kas tetap sehat,” paparnya.
Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie menambahkan, emiten dengan kas internal yang kuat dan rasio utang yang terjaga relatif aman dan mampu melunasi kewajibannya.
“Sebagai langkah mitigasi, emiten bisa melakukan efisiensi belanja modal alias capital expenditure (capex),” ujarnya kepada Kontan, Jumat.
Ke depan, Rully melihat, kinerja para emiten tersebut akan terkena sentimen negatif utama dari rezim suku bunga tinggi yang menyebabkan imbal hasil obligasi korporasi ikut naik.
“Untuk emiten dengan utang valas, kenaikan suku bunga global dan volatilitas rupiah meningkatkan kombinasi beban bunga dan risiko kurs,” ungkapnya.
Rully pun merekomendasikan beli untuk EXCL, TLKM, dan JPFA dengan target harga masing-masing Rp4.300 per saham, Rp3.200 per saham, dan Rp3.750 per saham.
Arinda bilang, prospek kinerja kelompok emiten tersebut relatif beragam sesuai sektor masing-masing. ISAT dan TBIG masih ditopang pertumbuhan kebutuhan data dan digitalisasi, meski menghadapi risiko kompetisi yang ketat dan kenaikan biaya pendanaan.
Baca Juga: Investor Reksadana Bertambah, Dana Kelolaan Malah Susut Rp 39 Triliun
MEDC mendapat dukungan dari produksi migas yang stabil, tetapi sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global. MDKA dan CUAN berpeluang memperoleh sentimen positif dari tren hilirisasi mineral, pengembangan proyek nikel, tembaga, dan energi, walaupun harga komoditas yang volatil masih menjadi risiko utama.
BRPT dan TPIA memperoleh katalis dari ekspansi petrokimia serta proyek energi baru, namun tetap menghadapi tantangan berupa ketidakpastian harga bahan baku dan kondisi ekonomi global. INKP berpotensi membaik seiring pemulihan permintaan kertas dan pulp. Kemudian, SMAR bergantung pada pergerakan harga CPO.
Untuk sektor properti seperti SMRA dan ADCP, prospek ditopang penjualan proyek dan pelonggaran kebijakan properti, tetapi masih menghadapi risiko tingginya suku bunga kredit.
“Sementara itu, WIKA dan WSKT masih fokus pada restrukturisasi utang sehingga pemulihan kinerja cenderung lebih lambat dibanding emiten lainnya,” ungkapnya.
Arinda pun merekomendasikan beli untuk BRPT, INKP, ISAT, MEDC, dan MDKA. Target harga untuk masing-masing emiten itu adalah Rp2.500 per saham, Rp11.000 per saham, Rp3.000 per saham, Rp2.000 per saham, dan Rp3.800 per saham.
Adrian berpandangan, para emiten kemungkinan akan lebih konservatif dalam melakukan ekspansi dan pertumbuhan dikarenakan meningkatnya cost of fund (CoF).
“Emiten yang berkinerja paling baik ke depan adalah emiten dengan arus kas yang baik dan fundamental yang solid,” katanya.
Adrian pun merekomendasikan trading buy untuk MDKA dengan target jangka pendek di Rp3.100 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- KSEI
- Pasar Modal Indonesia
- Pefindo
- Waskita Karya
- Wijaya Karya
- investasi saham
- kinerja emiten
- Indah Kiat Pulp
- Suku Bunga Tinggi
- Summarecon Agung
- Refinancing Utang
- PT TBIG
- obligasi jatuh tempo 2026
- rupiah lesu
- emiten berisiko
- pt isat
- pt medc
- pt mdka
- pt brpt
- pt tpia
- pt smar
- pt palm
- pt bumi
- pt cuan
- pt adcp
- pt agii
- pt bmtr
- pt trim













