Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setiap investor memiliki tujuan keuangan yang berbeda-beda. Maka, strategi menyusun portofolio investasi seharusnya tidak hanya berfokus pada pemilihan instrumen, tetapi juga disesuaikan dengan tingkat toleransi risiko masing-masing individu.
Direktur Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tomi Taufan mengatakan, keberhasilan mencapai target finansial lebih banyak ditentukan oleh kedisiplinan dalam mengelola alokasi aset daripada sekadar memilih produk investasi yang sedang populer.
Perjalanan investasi Tomi dimulai pada tahun 2012, ketika ia mulai mempelajari pasar modal melalui berbagai pelatihan, termasuk program Sekolah Pasar Modal di bursa. Saat itu, saham menjadi satu-satunya instrumen yang ia kenal.
Pembelian pertamanya jatuh pada saham Kalbe Farma, yang memberinya keuntungan sekitar 20%, disusul saham-saham sektor konstruksi (karya) yang juga menghasilkan cuan.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 2,70 Triliun, Cermati Saham yang Banyak Dijual Sepekan Terakhir
Namun, keberhasilan awal ini justru menjadi jebakan. Ia mengakui dua kali mendapatkan return membuatnya ingin terus menambah porsi investasi, sampai akhirnya mengalami kerugian. Dari pengalaman ini, ia belajar tantangan terbesar dalam bermain saham bukan sekadar analisis pasar, melainkan mengendalikan emosi dan psikologi diri sendiri.
“Saya pikir wah main saham tuh gampang, enak gitu kan. Sekali dapat return, dua kali dapat return, besok-besok penginnya porsinya nambah. Eh akhirnya malah loss, habis lagi,” kenang Tomi.
Kekalahan yang berulang mendorong Tomi untuk mengevaluasi diri lebih dalam. Ia mulai memahami saham bergerak mengikuti tren tematik yang berotasi. Hari ini sektor kesehatan yang bersinar, besok bisa jadi giliran energi, pertambangan, atau poultry.
Kesadaran ini mengubah caranya berinvestasi. Alih-alih langsung menghabiskan seluruh dana pada satu sektor, ia mulai menerapkan diversifikasi dan alokasi bertahap sesuai tren pasar yang sedang berkembang.
Dari Saham Agresif ke Properti Konservatif
Seiring bertambahnya kesibukan pekerjaan, Tomi menyadari saham menuntut pemantauan intensif yang tidak lagi sejalan dengan kesibukannya. Strategi apa pun yang ia susun kerap kalah oleh persoalan timing. Dari pengalaman ini lahir prinsip yang menjadi pegangannya hingga kini yakni kenali dulu diri sendiri, sebelum menentukan instrumen investasi.
"Makanya yang paling penting adalah harus tahu dulu siapa diri kita," kata Tomi.
Sekitar lima tahun lalu, tepat di masa pandemi Covid-19, ketika harga properti sedang lesu, Tomi melihat peluang dan mulai mengalihkan fokus investasinya ke sektor properti khususnya rumah dan tanah di wilayah Bekasi, tempat tinggalnya.
Pertimbangannya sederhana namun realistis, harga properti di Bekasi masih terjangkau dibandingkan wilayah seperti Jakarta Selatan, sehingga peluang untuk memiliki aset properti jauh lebih terbuka.
Saat ini, portofolio pribadi Tomi mencerminkan sikap yang sangat konservatif, dengan komposisi kurang lebih 70% di sektor properti, 10% emas dan sisanya ditempatkan pada instrumen reksadana.
Pada instrumen properti, Tomi memilih rumah dan tanah sebagai aset utamanya. Tujuan akhirnya bukan sekadar menyimpan nilai, melainkan menciptakan sumber passive income, yang dapat menghasilkan pemasukan rutin.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (12/9): Naik Rp 4.000 Jadi Rp 2.604.000 Per Gram
Untuk instrumen emas, Tomi mengelolanya dengan pendekatan dollar-cost averaging (DCA), yaitu menabung emas secara rutin tanpa terlalu mempertimbangkan harga saat itu tinggi atau rendah. Porsinya bisa membesar hingga 10%–20% tergantung peluang pasar.
Sementara itu, porsi reksa dana didominasi oleh produk pendapatan tetap berbasis Surat Berharga Negara (SBN) serta reksa dana pasar uang. Kedua jenis instrumen ini berfungsi sebagai penyeimbang, memberi stabilitas di tengah dominasi aset properti dan emas.
Menariknya, Tomi tidak menutup pintu bagi saham di masa depan. Ia berencana mengalokasikan kembali sebagian kecil dananya, sekitar 5%–10%, ke instrumen saham. Namun dengan syarat, memperbesar alokasi aset ke reksa dana agar tersedia daya hedging yang memadai sebelum benar-benar masuk ke instrumen yang lebih volatil.
Di balik komposisi ini, ada satu prinsip yang terus ia pegang yakni tidak ada produk investasi yang benar-benar super atau buruk total. Yang menentukan keberhasilan sebuah instrumen, menurutnya, adalah kecocokan antara karakter produk tersebut dengan profil risiko investor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














