Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia berpendapat pasar keuangan global mulai menunjukkan perbaikan seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Namun, investor masih perlu mencermati berbagai tantangan yang berasal dari kebijakan moneter global maupun kondisi domestik Indonesia yang diperkirakan masih memengaruhi arah pergerakan pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan meski ketegangan geopolitik mulai mereda, pasar masih dibayangi ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama di Amerika Serikat.
Baca Juga: Rupiah Melemah 0,31% pada Hari Ini, Tertekan Sentimen Risk Off dan Penguatan Dolar AS
Saat ini, Federal Funds Rate (FFR) berada di level 3,75% dan diperkirakan berpotensi naik masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember hingga mencapai 4,25% pada akhir tahun.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 direvisi menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,3%, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5,0%, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%.
"Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi," ujar Rully.
Cermati Sentimen Domestik
Rully bilang investor juga masih mencermati sejumlah faktor domestik, mulai dari stabilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal, hingga meningkatnya perhatian terhadap potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I 2026.
"Ke depan, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Oleh karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya," kata Rully dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Selasa (30/6/2/206).
Terkait target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada semester II-2026, Rully mengatakan tim riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia saat ini tengah melakukan peninjauan ulang terhadap proyeksi tersebut. Untuk sementara, target IHSG masih dipertahankan di level 10.000, meski terdapat peluang target itu akan direvisi.
"Untuk IHSG sendiri sedang kami review dari tim. Jadi sementara ini kan kita masih 10.000 cuman kayaknya sih most likely akan kita koreksi dan revisi," ucap Rully.
Baca Juga: Prospek INCO Masih Cerah, Produksi dan Proyek Hilirisasi Jadi Penopang Saham
Sementara itu, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih melihat sektor poultry menjadi salah satu sektor yang menarik untuk dicermati di tengah kondisi pasar saat ini. Menurutnya, konsumsi daging ayam di Indonesia yang baru mencapai sekitar 8,6 kilogram per kapita, jauh di bawah Malaysia (32,9 kilogram) dan Vietnam (16,7 kilogram), menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih besar.
Didukung peningkatan konsumsi, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pasokan yang diperkirakan lebih terkendali akibat penurunan kuota impor grand parent stock (GPS) dan implementasi program culling, industri poultry berpotensi mencatatkan peningkatan profitabilitas.
"Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor," ujar Andreas.
Di tengah volatilitas pasar, Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan mengatakan diversifikasi menjadi kunci dalam membangun portofolio investasi. Investor perlu menyesuaikan alokasi investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas karena setiap instrumen memiliki karakteristik risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda.
"Diversifikasi membantu investor mengelola risiko sekaligus tetap menangkap peluang investasi di berbagai kondisi pasar. Dengan memilih kombinasi instrumen yang tepat sesuai profil risiko, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang," ujar Francisca.
Baca Juga: Prospek INCO Masih Cerah, Produksi dan Proyek Hilirisasi Jadi Penopang Saham
Untuk mendukung kebutuhan diversifikasi tersebut, Mirae Asset Sekuritas terus memperluas pilihan produk investasi di M-FUND by Mirae Asset melalui kerja sama dengan berbagai manajer investasi, termasuk menghadirkan Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF) Kelas A.
Wholesale Distribution Manager PT Syailendra Capital Vania Yoshe Apriliza mengatakan SSFIF merupakan reksa dana syariah pendapatan tetap yang berinvestasi pada sukuk negara dan sukuk korporasi. Produk ini ditujukan bagi investor dengan profil risiko moderat-konservatif yang ingin melengkapi portofolio melalui instrumen pendapatan tetap syariah.
"Kami berharap kehadiran SSFIF di M-FUND dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi investor dalam membangun portofolio yang terdiversifikasi sesuai dengan tujuan investasinya," ujar Vania.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- IHSG
- rupiah
- pasar keuangan global
- Mirae Asset Sekuritas
- strategi investasi
- kebijakan moneter
- suku bunga The Fed
- diversifikasi investasi
- Ekonomi Indonesia
- Volatilitas Pasar
- Federal Funds Rate
- sektor poultry
- Saham AYAM
- Reksa Dana Syariah
- twin deficit
- Syailendra Sharia Fixed Income Fund
- M-FUND
- Prospek Pasar














