Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan kinerja positif dalam sebulan terakhir. Analis melihat prospeknya masih positif masih positif seiring dengan masuknya periode rilis kinerja semester I dan menilik performa sepanjang kuartal I 2026.
Pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026), saham BUMI ditutup 8,93% ke level Rp 183, sehingga dalam sepekan tercatat sudah menguat 22,87%. Kemarin saham BUMI menjadi saham paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan volume transaksi mencapai 12,1 miliar saham.
Penguatan saham BUMI kemarin didukung dengan aksi beli bersih investor asing sebesar Rp 56 miliar.
Pada kuartal I-2026, BUMI mencetak pendapatan US$ 417,7 juta, naik sekitar 20% secara tahunan. Adapun laba periode berjalan tumbuh 37% menjadi US$41,1 juta dan aba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 35% menjadi US$ 24,1 juta.
Hal tersebut juga tidak terlepas dari kinerja operasional BUMI yang solid di kuartal I 2026. Produksi batu bara BUMI naik menjadi 19,2 juta ton dari 17,2 juta ton. Volume penjualan meningkat 14% menjadi 19,1 juta ton, sedangkan stripping ratio membaik menjadi 7,7 kali dari sebelumnya 8,4 kali.
Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (23 Juli 2026), BUMI dan CPIN Jadi Sorotan
Efisiensi biaya turut menopang profitabilitas. Biaya produksi rata-rata turun menjadi US$40 per ton pada kuartal I-2026 dari US$45,1 per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya, terutama karena penurunan biaya bahan bakar dan perbaikan stripping ratio.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menjelaskan bahwa prospek kinerja BUMI di semester I 2026 akan tetap positif seiring dengan masuknya periode rilis kinerja. Menurutnya, kemampuan BUMI meningkatkan volume sekaligus menekan biaya produksi menjadi faktor penting yang akan dicermati dalam laporan kuartal kedua.
Ia menjelaskan pasar akan melihat apakah tren pertumbuhan volume dan efisiensi biaya dapat dipertahankan. “Apabila penjualan tetap meningkat dan biaya produksi terjaga, BUMI memiliki ruang untuk mempertahankan kualitas laba meskipun harga jual batu bara masih berfluktuasi,” kata Aditya, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Lanjut Menguat pada Rabu (22/7) Pagi, Risiko Pasokan Meluas
Aditya menambahkan reli harga saham BUMI dalam sebulan terakhir juga tidak terlepas dari potensi kontribusi aset non coal perseroan yang memasuki tahap produksi.
BUMI telah memulai pengembangan tambang Mt. Carlton yang menghasilkan emas, perak, dan tembaga melalui Wolfram Limited di Australia. Selain itu, operasi tambang terbuka di area V2 menjadi sumber produksi utama sejak April 2026, sementara aktivitas penambangan bawah tanah di area A39 telah dimulai untuk mengakses bijih dengan kadar lebih tinggi.
Seluruh konsentrat dari Mt. Carlton akan dipasarkan kepada Glencore melalui perjanjian offtake selama tujuh tahun. Kontrak tersebut memberikan kepastian pembeli sekaligus memperkuat visibilitas komersial proyek.
“BUMI sedang bertransformasi dari produsen batu bara menjadi perusahaan pertambangan multikomoditas. Meskipun kontribusi aset mineral masih akan berkembang secara bertahap, Aditya melihat, pasar berpeluang memberikan valuasi baru karena sumber pendapatan BUMI menjadi lebih beragam.
Aditya juga menggarisbawahi strategi ekspansi ke komoditas tambang lain diarahkan untuk membentuk komposisi EBITDA yang lebih seimbang antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada 2031 sehingga dalam jangka menengah panjang BUMI menjadi perusahaan tambang yang lebih atraktif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














