kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.789   55,00   0,31%
  • IDX 6.187   -68,00   -1,09%
  • KOMPAS100 820   -10,76   -1,29%
  • LQ45 621   -3,20   -0,51%
  • ISSI 212   -1,59   -0,75%
  • IDX30 353   -1,41   -0,40%
  • IDXHIDIV20 433   -2,03   -0,47%
  • IDX80 93   -0,69   -0,74%
  • IDXV30 115   -1,19   -1,02%
  • IDXQ30 114   -0,03   -0,03%

Mencari Strategi Investasi Tepat di Tengah Siklus Koreksi Pasar Saham


Rabu, 17 Juni 2026 / 14:17 WIB
Mencari Strategi Investasi Tepat di Tengah Siklus Koreksi Pasar Saham
ILUSTRASI. Logo Henan Asset (Henan/dok)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi besar pasar saham Indonesia sudah terjadi berkali-kali sejak tahun 2020. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa setiap koreksi besar, IHSG pada akhirnya pulih dan mencetak puncak baru. Namun, pola historis bukan jaminan bahwa siklus yang terjadi saat ini akan berakhir sama. 

Oleh karena itu, Henan Putihrai dalam risetnya mengingatkan agar setiap keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada data dan fundamental, bukan ketakutan atau euforia jangka pendek.

Sejak tahun 2000, IHSG telah mengalami delapan koreksi besar. Hingga 15 Juni 2026, koreksi  mencapai 41,7% dari puncaknya dan menjadi yang terdalam ketiga dalam sejarah modern pasar modal Indonesia. Namun, tujuh koreksi sebelumnya seluruhnya berakhir dengan pola yang sama, IHSG kembali ke level puncak dan kemudian mencetak rekor baru.

Dalam menghadapi gejolak pasar,  Henan Putihrai memandang bahwa investor perlu membedakan informasi yang benar-benar penting. Opini, rumor, dan spekulasi tanpa dasar data dapat diabaikan. Fluktuasi harian dan reaksi pasar terhadap berita jangka pendek cukup diamati sebagai gambaran sentimen. “Perhatian utama sebaiknya diberikan pada perubahan fundamental yang berpengaruh terhadap prospek pemulihan pasar,” tulis Henan Putirai dikutip Rabu (17/6/2026). 

Baca Juga: Ini Strategi Saratoga Investama (SRTG) Jaga Portofolio Investasi

Berdasarkan pengalaman tujuh koreksi besar sebelumnya, pergerakan IHSG umumnya melalui empat fase. Dimulai dengan fase penurunan (descend) ketika indeks turun dari puncak menuju titik terendah, lalu fase dasar (trough) saat pasar mulai berkonsolidasi dan membentuk titik balik dengan kenaikan minimal 10%, kemudian fase normalisasi ketika sebagian penurunan berhasil dipulihkan meski kekhawatiran investor masih tinggi, dan  fase pemulihan (recovery) di saat periode kenaikan berkelanjutan hingga indeks kembali ke puncak sebelumnya. 

Henan Putih rai menyebut, memahami posisi pasar dalam siklus ini membantu investor mengambil keputusan yang lebih rasional dan tidak terjebak oleh gejolak jangka pendek. Empat fase siklus pasar terlihat pada tujuh koreksi besar IHSG sebelumnya, tetapi bukan jaminan bahwa Siklus 8 akan mengikuti pola yang sama. “Peluang pemulihan tetap bergantung pada berbagai katalis, termasuk pengumuman MSCI pada 18 Juni,” lanjut Henan Putihrai.

Berdasarkan data per 15 Juni 2026, Siklus 8 tampaknya telah menyelesaikan fase Descend. IHSG turun dari puncak 9.134,70 pada 20 Januari 2026 ke level terendah 5.324,14 pada 8 Juni 2026, atau terkoreksi 41,7% dalam 4,6 bulan. Setelah mencapai titik terendah, IHSG langsung memantul 10,9% dalam dua hari perdagangan, sehingga fase Trough berlangsung sangat singkat, menyamai rekor tercepat pada krisis 2008 dan pandemi 2020.

Baca Juga: Pasar Keuangan Domestik Tertekan, Ini Strategi Investasi yang Bisa Dilakukan Investor

Tim riset Henan mengatakan, siklus ini juga berbeda dari sebelumnya karena Bank Indonesia justru menaikkan suku bunga 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah koreksi pasar. Karena itu, berakhirnya fase penurunan kali ini lebih dipicu oleh meredanya tekanan jual setelah aksi jual investor asing mencapai rekor tertinggi, bukan oleh penurunan suku bunga. Dengan durasi 4,6 bulan, fase Descend Siklus 8 sedikit lebih cepat dibanding rata-rata historis lima bulan.

Selama fase penurunan (Descend) Siklus 8, investor perlu fokus pada signal dan mengabaikan sound serta noise. Prediksi IHSG jatuh ke level ekstrem, narasi krisis permanen, atau perbandingan dengan krisis 1998 termasuk sound yang tidak relevan. Sementara itu, gejolak harian akibat isu tarif, geopolitik, atau analisis teknikal jangka pendek merupakan noise. Adapun signal yang mendahului titik terendah pasar adalah meredanya aksi jual investor asing, stabilisasi rupiah, dan perkembangan positif terkait status Indonesia di MSCI.

Dengan fase penurunan yang diperkirakan telah berakhir, perhatian kini beralih ke proses pemulihan. “Target fase narmalisasi berada di level 7.229 atau sekitar 18% di atas posisi IHSG pertengahan Juni 2026, dengan estimasi durasi 4–7 bulan berdasarkan pola historis,” tulis Henan Putihrai.

Baca Juga: Pasar Keuangan Domestik Tertekan, Ini Strategi Investasi yang Bisa Dilakukan Investor

Tiga faktor utama yang perlu diperhatikan adalah keputusan MSCI terkait status Indonesia sebagai pasar berkembang, stabilisasi rupiah di kisaran Rp15.000–Rp16.000 per dolar AS, dan peluang penurunan suku bunga Bank Indonesia. Berbeda dari siklus sebelumnya, pemulihan kali ini tidak banyak bergantung pada pemangkasan suku bunga karena prioritas utama masih menjaga stabilitas rupiah.

Keunikan Siklus 8 adalah adanya ketidakpastian mengenai posisi Indonesia dalam alokasi modal global melalui keputusan MSCI. Karena itu, pemulihan pasar tidak hanya ditentukan oleh kenaikan harga saham, tetapi juga oleh kembalinya kepercayaan investor asing.

Bagi investor, pendekatan yang disarankan adalah menjaga keseimbangan antara aset defensif dan peluang investasi untuk menangkap pemulihan. “Stabilitas rupiah juga perlu diperhatikan karena sering menjadi indikator awal kembalinya modal asing. Pada akhirnya, strategi investasi harus disesuaikan dengan jangka waktu dan profil risiko masing-masing investor.” pungkas tim riset Henan Putihrai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×