kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menaksir Potensi Dedolarisasi, Mungkinkah Dolar AS Digantikan Mata Uang Lain?


Jumat, 24 November 2023 / 08:50 WIB
Menaksir Potensi Dedolarisasi, Mungkinkah Dolar AS Digantikan Mata Uang Lain?
ILUSTRASI. Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Senin (20/11/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya dedolarisasi butuh waktu panjang. Dunia tidak bisa menampik bahwa dolar Amerika Serikat (AS) masih terlalu tangguh untuk bisa digantikan.

Menurut Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, saat ini belum waktunya dedolarisasi bisa terjadi. Upaya mengurangi ketergantungan terhadap USD bakal memakan waktu yang lama.

Sutopo menjelaskan, dolar sulit digantikan karena mengingat jumlah dolar yang beredar jauh lebih besar di luar AS, dan hampir 80% perdagangan ditransaksikan mata uang paman sam tersebut. Pinjaman dan devisa semuanya bahkan kebanyakan dalam bentuk dolar AS karena dolar adalah mata uang cadangan.

“Dolar tetap akan menjadi mata uang primadona. Butuh waktu puluhan tahun untuk menggeser posisi dolar AS sedikit demi sedikit,” kata Sutopo saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (23/11).

Baca Juga: Ramainya Aksi Dedolarisasi Belum Signifikan Kurangi Pamor Dolar AS

Sutopo mencermati, upaya negara-negara anggota BRICS yang dipimpin China untuk melengserkan posisi dolar AS pun belum cukup berarti. BRICS hanya mengurangi sedikit dari peranan dolar.

Seperti diketahui, kelompok negara yang beranggotakan Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan tersebut terus menguatkan posisi BRICS sebagai mata uang pesaing dolar AS. BRICS terus memperluas kampanye buang dolar AS dan telah menarik banyak pihak.

Teranyar, kesepakatan pertukaran mata uang senilai sekitar US$ 7 miliar antara China dan Arab Saudi telah ditanggapi banyak pihak sebagai upaya dedolarisasi. Hal itu mengingat Arab Saudi merupakan salah satu kandidat anggota baru BRICS di tahun 2024.

Terlepas dari hal itu, Sutopo mengatakan, dolar AS saat ini kembali naik selama dua sesi berturut-turut berkat didukung data yang lebih kuat dari perkiraan sehingga mendorong para pedagang untuk menilai kembali prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Namun, volume perdagangan diperkirakan akan tetap tipis karena hari libur di Jepang dan Amerika.

Data pada hari Rabu menunjukkan bahwa jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun lebih dari yang diperkirakan pada minggu lalu. Ekspektasi inflasi untuk jangka pendek dan jangka panjang juga meningkat, meningkatkan kekhawatiran bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Selain itu, risalah FOMC terbaru menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan lebih memilih mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dan tidak memberikan indikasi bahwa suku bunga akan segera turun. Sentimen ini menambah momentum kenaikan dolar AS.

“Pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunganya tidak berubah pada bulan Desember, sementara para pedagang mengurangi spekulasi penurunan suku bunga pada bulan Maret 2024,” ujar Sutopo.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Lanjut Menguat di Jumat (24/11), Ini Pendorongnya

Indeks dolar AS bertahan di kisaran 103.8 pada Kamis (23/11) usai naik selama dua sesi. Posisi nilai tukar rupiah sendiri ditutup pada level Rp 15.550 per dolar AS pada hari ini atau menguat 0,13% daripada posisi kemarin.

Sutopo bilang, rupiah mencapai titik terlemah sepanjang masa di angka Rp 16.800 per dolar AS pada bulan Juni 1998.  Adapun saat ini investor dipandang akan lebih berhati-hati untuk berinvestasi di Indonesia karena memasuki tahun politik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×